tujuh belas - karena angin

52 5 11
                                        

PART KETUJUH BELAS : karena angin

***

Rama mengetuk pintu rumah Ira seraya memanggil-manggil nama gadis itu.

"Ira," panggilnya sudah beberapa kali.

Dengan perlahan, pintu itu dibuka oleh Ira.

Ira sontak terkejut melihat Rama yang sudah di depan pintu rumahnya. "Eh, Rama? Ayo, masuk." Ira tersenyum dan mengarahkan Rama untuk mengikutinya menuju sofa.

Rama menyengir lalu melepaskan sepatunya.

Mereka pun duduk di sofa yang berukuran kecil dan sudah usang itu.

"Mau minum apa, Ram?" Tanya Ira.

Rama tersenyum lebar dan menaikkan satu alisnya. "Biasa," ucapnya.

Ira terkekeh melihat ekspresi Rama. Ia pun mengangguk dan menuju dapur. Mulai membuatkan satu kopi hitam untuk Rama.

Sambil menunggu Ira, Rama melihat sekeliling rumah sederhana Ira. Terdapat banyak sekali patung-patung antik yang dipajang di lemari kaca yang tidak begitu mewah.

Di satu sisi dindingnya, terdapat satu poster yang berisi gambar lima lelaki berwajah barat.

Rama sepertinya tahu mereka, rasanya, sih, namanya One Direction.

"Kopinya, Ram." Ucap Ira yang berjalan dari dapur dengan membawa secangkir kopi hitam.

Rama menoleh ke arah Ira dan mengangguk. "Thanks. Taruh aja, Ra."

Rama yang masih tertarik melihat poster itu, dihampiri oleh Ira yang sudah menaruh kopi buatannya. Ira lama-lama merasa seperti pembantu milik Rama.

"Lihat apa?" Tanya Ira.

"An-- eh, kaget!" Pekik Rama yang hampir mengeluarkan umpatan kasar-yang ditundanya karena tidak enak bicara seperti itu di hadapan gadis yang menurutnya lemah ini-.

Ira menautkan kedua tangannya di depan. "Hehe. Maaf. Lihat apa, sih?"

Rama menggeleng. "Cuma pengin tahu. Lo suka ini?" Rama menunjuk poster itu.

Ira mengangguk semangat. "Posternya dibeliin sama Gani, sahabat aku."

"Cewek atau cowok?" Tanya Rama ambigu.

Ira mengernyitkan keningnya, "ha? Oh, maksudnya si Gani? Dia cewek. Namanya memang kayak cowok."

Rama mengangguk mengerti.

"Lo suka mereka?" Lagi sekali Rama menunjuk poster itu.

Aduh, sampai kasian Abang Niall terus ditunjuk-tunjuk sama Rama dengan wajah mengintimidasi.

Ira mengangguk pelan.

"OK. Kalau gitu, gue juga suka mereka." Ujar Rama santai.

Mendengar kalimat itu, Ira menganga. "Kok gitu...?"

"Apa yang lo suka, gue suka. Karena gue suka lo." Jawabnya dengan suara rendah.

Sekali lagi, Ira menganga. Apa tadi itu... pernyataan cinta?

Rama kembali ke sofa. Meminum kopi hitamnya dengan santai, seolah-olah ia tadi tidak mengucapkan kalimat yang membuat Ira membeku di tempatnya.

Setelah lima menit, Ira tersadar dan ikut duduk di sofa bersama Rama.

Selama belasan tahun di hidupnya baru kali ini Ira merasakan gugup dikarenakan masalah cinta.

Ah, apa yang tadi itu benar pernyataan cinta?

Kedai IramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang