sembilan belas - malam hari yang dingin

29 3 6
                                    

PART KESEMBILAN BELAS : malam hari yang dingin

***

Setelah mengantar Ira ke rumahnya, Rama menyempatkan ke rumah Fano untuk mengambil motornya. Di malam hari, Rama menghempaskan tubuhnya di kasur sehingga menimbulkan suara yang keras dan menyebabkan sprai yang terpasang di kasurnya menjadi lepas di satu sudut.

Ia memejamkan matanya beberapa detik kemudian duduk di pinggir ranjang.

Bundanya belum datang semenjak kemarin pagi. Hal itu sering terjadi sejak setahun belakangan membuat Rama menjadi khawatir.

Diambilnya ponsel berwarna hitam doff dan jarinya segera mencari nama 'Bunda' di daftar kontak ponselnya.

Panggilan pertama tidak ada jawaban.

Panggilan berikutnya Rama mencobanya lebih lama, tetapi malah suara pria yang menyahut.

"Hm?" Suara berat pria itu membuat Rama mengernyit.

"Mana Bunda?" Tanya Rama.

"Oh, lo anaknya si pelacur?" Ucap pria tua itu sarkas.

Mendengar Bundanya dikata seperti itu, Rama memukul kasurnya keras. "Jangan sembarangan ngomong! Di mana Bunda sekarang?!"

"Tempat biasa," ucapnya kelewat santai membuat Rama semakin menggeram.

Sialan.

Rama segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia mengacak rambutnya kesal.

Ia sudah tahu masalah apa yang menyebabkan Bundanya menjadi hancur seperti ini, hancur dalam artian sering keluar malam dan tidak pulang berhari-hari, tidak mempedulikan anak-anaknya di rumah yang ingin kembali kasih sayang dari seorang Ibu.

Walaupun begitu, Rama masih sayang kepada Bundanya itu. Tidak peduli betapa hancurnya beliau sekarang, Rama masih ingin melihat Bundanya tersenyum bahagia karena dirinya. Karena sebetulnya ia sadar, dirinya masih sangat jauh dari kata sempurna.

Ia selama ini hanya bisa menyusahkan orang tua saja sampai Ayahnya meninggal dan Rama menyesal. Sangat menyesal.

Dan Bundanya adalah satu-satunya harapan yang ia punya untuk melihat kesuksesan dirinya kelak. Ia harap begitu.

Rama mengganti singletnya dengan baju lengan panjang, bulan ini adalan bulan yang sering hujan, ia putuskan untuk memakai pakaian yang menutupi semua tubuhnya dengan sempurna.

Lalu ia melanjutkan kegiatannya untuk ke kamar adik perempuan satu-satunya yang ia punya--yang berada di sebelah kamarnya. Dengan perlahan ia membuka pintu cokelat yang tidak terkunci itu.

Rima Ayana, adik Rama segera menoleh melihat kakaknya masuk ke kamarnya.

"Kenapa, Bang?"

"Gue mau nyari Bunda. Lo diam di kamar aja, ya. Kalau mau makan tinggal panggil Bi De aja," ucap Rama.

Rima mengangguk. "Iya, deh. Hati-hati ya, Bang. Bawa Bunda ke rumah dengan selamat."

Rama tersenyum dan mengacak pelan rambut Rima. "Percaya sama Abang."

Rima menyengir. "Rima mau ngerjain tugas presentasi untuk besok dulu."

"Iya, jangan sampai begadang. Kalau gak bisa selesai sekarang, kerjain besok pagi juga bisa."

"Oke! Hati-hati, Bang!"

"Yo!"

Rima adalah saudara satu-satunya yang Rama punya. Rima sangat berprestasi, setiap bulannya bisa menyumbangkan satu piala untuk SMP-nya. Sangat berbeda dengan Rama yang hanya bisa tauran, nongkrong, dan bolos di sekolah.

Kedai IramaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang