BAB I - Pengkhianat

111 16 24
                                        

Serrr..

Seluruh tubuhku berdesir saat tangan kekar Ryan menyentuh punggungku. Ia tersenyum kecil saat kami bertatapan. Padahal aku hanyalah manusia kloning. Namun, aku merasakan perasaan marah, senang, sedih.. Bahkan, juga perasaan aneh terhadap Ryan yang menyebabkan perutku tegang setiap melihat mata teduhnya. Hal ini sungguh membuatku merasa menjadi manusia seutuhnya. Tentu saja aku tahu, seberapa besar pun usahaku, aku tidak akan pernah bisa menyamai Christy yang dulu.

Sistem pencernaanku berjalan layaknya manusia, jantungku terus berdetak dengan semangat. Terkadang, aku masih bingung berasal dari manakah nyawaku ini. Jangan-jangan nyawa ini juga adalah sebuah tipuan semata. Ah, sudahlah. Otakku yang berpikir keras tidak akan menemukan jawabannya segampang itu. Seperti yang telah dikatakan Om Theo, biarlah aku sendiri yang akan menemukan jawabannya seiring bertambahnya waktu.

"Christy?" 

Sebuah tangan melambai-lambai di depan mataku, mengembalikanku ke dunia nyata dari alam lamunan. Seharusnya aku tidak membiarkan pikiranku menguasaiku. Namun, hal itu sulit sekali dilakukan. Ryan kini tersenyum lebar menampilkan gigi-giginya yang berantakan namun kecil-kecil dan imut. 

"Hehe." Aku terkekeh pelan menanggapi Ryan. Duh, saat itu ia imut sekali dengan kemeja berwarna abu-abunya. Kartu permainan UNO di hadapanku pun sempat kuabaikan. Baiklah, aku harus melanjutkan permainan ini.

"Kok melamun?" Ia bertanya, menyenggolku pelan dengan sikutnya. Aku pun terdiam dan hanya menjawabnya dengan senyuman. Seandainya saja aku berani menceritakan semua pemikiranku kepada Ryan. Tidak, aku belum bisa melakukannya. Aku masih merasa aku hanyalah pengganti Christy 1.0 yang tidak akan pernah bisa menyamainya. Sampai kapanpun.

"Tidak apa-apa, Ryan." Ujarku lirih. Pandanganku terarah pada matanya yang belum juga beralih dariku. Aku sangat menyukai cara dia menatapku. Oke, aku resmi mengumumkan bahwa orang yang diam-diam aku sukai adalah Ryan Vincentius. Ups.

"Kamu melamun lagi, Christy." Ujarnya sembari menjentikkan pelan jarinya di hadapanku. Ia tertawa kecil dengan wajah sok menakuti. "Hati-hati kemasukkan setan, lho."

Pikiranku pun langsung memikirkan segala jenis hantu yang ada di Indonesia. Kuntilanak, pocong, genderuwo, sundel bolong, suster keramas.. Astaga, bulu kudukku berdiri dibuatnya. Aku menggebuk-gebuk manja tangan Ryan yang empuk. "Ih, kamu mah begitu!"

Hubungan Ryan dengan Christy 1.0 memang selalu seperti ini. Aku dapat mengingat dengan jelas semua kenangan indah mereka. Lagi-lagi, aku merasa minder. Untuk beberapa saat, aku iri sekali dengan Christy 1.0. Dialah Christy Laurensia yang benar-benar hidup. Oh ya, aku tidak mau lagi mengambil nama belakang Laurensia. Aku tidak ingin terus hidup di bawah bayang-bayang Christy 1.0. Untung Om Theo mau mengerti dan tidak memaksaku untuk memiliki nama belakang di kartu identitasku.

"Pocongnya senang lho kalau kamu bengong terus." Ujarnya sembari memberikan ekspresi wajah sok serius. Pocong yang hitam dan memiliki hidung disumpal langsung muncul di benakku. Ia melompat-lompat ke sana kemari dan semakin mendekat kepadaku. Tanpa sadar, aku sedikit menjerit. "Ahh!"

"Hahaha!" Ryan langsung tertawa terbahak-bahak dan memelukku erat. Ia menatap wajahku yang pucat dan mengelus pipiku lembut. Astaga, jahil sekali anak itu!

"Aku hanya bercanda saja, Christy." Ia berkata sembari merangkulku erat. Kehangatan yang kurasakan saat ini sungguh murni dan tidak dibuat-buat. Walaupun, tetap saja aku merasa minder karena aku yang berbeda darinya. Aku berbeda dari Ryan, Om Theo, dan bahkan juga mayat seperti Christy 1.0.

"Kau membuatku takut." Ujarku sambil sok marah. Aku mengembungkan kedua pipiku dengan udara, sama persis dengan hamster yang sedang menyimpan makanan. Di hari kedua kehidupan baruku ini, aku memang merasa sudah dapat menyimpulkan sifat-sifat diriku sendiri. Sedikit manja dan kekanak-kanakan, itu sudah pasti.

2.0Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang