"Kita sudah memilih orang yang salah!"
"Ya ampun, ada saja orang seperti itu.. manis di depan pahit di belakang!"
"Wah.. Ternyata presiden yang kita kagumi itu busuk, ya! Ada udang di balik batu!"
Desas-desus itu kudengar sekilas dari orang-orang yang lewat di jalan dekat taman rumahku. Televisi sudah menyiarkan data ini pada liputan pagi tadi. Koran-koran sudah tersebar di berbagai rumah secara gratis. Ini semua berkat Pak Amrin, ia tidak berbohong dan betul-betul memenuhi janjinya.
"Rasakan." ujar Felice sembari berkacak pinggang di depan televisi. Dagunya terangkat tinggi dan wajah anggunnya sumringah memancarkan kepuasan. Aku, Velia dan Ryan yang sedang duduk di sofa ruang tamu tempat Felice tersebut. Aku membaca headline dari berita yang sedang dibawakan sang reporter.
RAHASIA-RAHASIA KONTROVERSIAL DARI PRESIDEN ADDI
Ternyata, prediksiku sebelumnya benar. Persebaran berita ini memang akan membuat heboh, gaduh dan kaget. Cibiran dan sindiran pun mulai bertebaran dimana-mana, entah dari sosial media maupun omongan langsung.
"Aku sudah buka Twitter, dan hashtag 'Addi sang pengkhianat' menjadi trending topic, lho." Ungkap Ryan sembari tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel canggihnya. Aku pun menolehkan kepalaku untuk ikut melihat layar ponsel Ryan. Luar biasa, aku melihat bahwa timeline-nya penuh dengan kritik untuk Presiden Addi.
"Mungkin setelah ini akan terjadi sesuatu yang membahayakan kita." Ucap Velia lirih. Ia menatap ke luar jendela, menerawang. "Kalau boleh jujur, kini aku sedikit merasa khawatir".
Perkataan Velia memang ada benarnya. Kami seolah-olah mengorbankan diri kami untuk masuk ke kandang yang penuh dengan hewan-hewan buas. Singa, harimau, ikan piranha.. Namun, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Siapa tahu, tujuan hidupku sebagai kloningan ini memang bisa bermakna dengan demikian.
"Aku mengerti, Vel.." Kata Ryan sembari menepuk bahu mungil Velia. Ia pun mendekatkan posisi duduknya dengan adik semata wayangnya itu. "Kita memang anak-anak yang cukup nekad dan gila"
Felice menoleh ke arah Ryan dan memberi respon atas ucapannya. Matanya terlihat bersinar bahagia. "Terkadang, cara terbaik untuk tetap waras, ya dengan menjadi gila."
Mataku tetap terpaku pada layar televisi yang kini menyiarkan tayangan aksi demonstrasi masyarakat di berbagai daerah. Bambu runcing, pisau... semua senjata-senjata mengerikan digenggam mereka tanpa adanya keraguan sedikitpun. Akupun bergumam tanpa bisa mengontrolnya. "Apakah mereka akan saling melukai?"
"Nah, sekarang kita harus melakukan tindakan selanjutnya." Ujar Felice sembari memberi aba-aba pada kami untuk berkumpul menjadi satu lingkaran dengan menggunakan gestur tangannya. "Saatnya beraksi."
Kakiku melangkah menuju mobil Felice tanpa sempat menanyakan penjelasan tentang 'beraksi' yang dimaksud. Sesungguhnya, aku khawatir melihat keadaan yang semakin panas. Mungkin aku tidak perlu banyak bertanya dulu. Aku percaya bahwa Felice tahu apa yang sedang ia lakukan. Ya, rasa percaya adalah kunci dari keberhasilan.
Sepanjang perjalanan, kami semua terdiam. Ryan sesekali menoleh ke arah Felice dan menatap dengan arti yang tidak mungkin kutebak benar. Entahlah, aku sudah mulai lelah dengan perasaan panas dalam hatiku saat aku melihat dia dan perempuan itu.
Jujur, aku capek.
Velia juga terdiam dan sesekali melihat ke sekeliling. Gadis manis itu terlihat pucat; mungkin ia masih memikirkan banyak hal yang belum pasti saat ini. Menurut tebakanku, ia sedang khawatir.
Entahlah, banyak hal yang harus dipikirkan saat ini. Namun kasihan otak kami apabila kami paksa terus memikirkan banyak hal sekaligus. Terlalu banyak khawatir tidak akan menghasilkan apa-apa, bukan? Yah, mungkin ada yang dihasilkan: stres.
KAMU SEDANG MEMBACA
2.0
PertualanganKetika membuka kedua mata, aku tidak sadar kalau hari itu adalah hari pertama dari hidupku yang baru. Aku yang lama memang sudah mati. Aku ditugaskan untuk melanjutkan jejak hidupnya di dunia. Inilah kisah dan takdirku sebagai seorang manusia kloni...
