Kicauan burung nan melengking terdengar, hal itu membuatku terbangun. Aku mengerjap-kerjapkan mata dan sinar matahari yang muncul lewat jendela terlihat menyoroti wajahku. Kehangatan yang ada membuatku merasa nyaman.. Dan sejenak melupakan segala ancaman yang menunggu kami bagaikan singa kelaparan..
Aku turun dari mobil dan mengikat tali sepatuku dengan erat sebelum kami melangkah masuk dalam pintu besi yang terlihat dingin itu. Jantungku sedikit berdebar dan tanganku terasa dingin. Pak Handoko mulai membuka tas ransel berwarna hitamnya dan mengeluarkan lima buah senter untuk masing-masing dari kami. Senter milik Pak Handoko, Ryan, Felice, dan Velia cukup terang. Ya, terkecuali punyaku yang sepertinya sedikit lebih redup dibandingkan yang lain.
"Sudah siap, semua?" Tanya Pak Handoko sembari melirik masing-masing dari kami. Kami tidak ada yang berkomentar, namun aku tahu dalam batin mereka sudah siap. Terkecuali diriku yang pengecut ini.
"Sini kubantu pegang." ucap Felice sigap dan menghampiri Pak Handoko yang kerepotan memegang senter dan ransel. Perlengkapannya rumit dan lengkap sekali. Pak Handoko mengangguk pelan terhadap Felice dan merogoh-rogoh tas ranselnya kembali, dan kini mengeluarkan satu set kunci yang disatukan dengan lingkaran berwarna emas. Ada sekitar enam kunci yang menyatu dalam set itu.
"Semoga kita berhasil" Ujar Velia sembari Pak Handoko mulai mencoba kunci tersebut satu per satu pada pintu besi yang sudah mulai berkarat itu. Pintu tersebut terletak didekat istana kepresidenan, namun tersembunyi karena harus menuruni sebuah tangga tua di sudut yang tak mencolok. Kami tadi telah berhasil sampai kesini, tanpa terlihat satu penjaga pun. Bahkan ini di siang hari; penjagaan yang payah.
Klang, klang. Kunci pertama Pak Handoko dan nampaknya cukup serat. Bahkan, Pak Handoko membutuhkan tenaga tambahan untuk memutarkannya. Wajahnya nampak semakin berminyak karena berkeringat. Pak Handoko mengernyit. "Ugh, keras sekali. Nampaknya bukan ini kuncinya."
Kunci kedua. Klang, klang. Nampak sedikit lebih mudah untuk diputar, namun kembali macet di putaran-putaran akhir. Pak Handoko mencoba menggoyang-goyangkan agar tidak keras, namun nampaknya berhasil nihil. "Inipun bukan."
Kemudian, Pak Handoko mencoba untuk membuka pintu besi dengan kunci ketiga. Di awal putaran, terlihat sangat macet. Pak Handoko mengernyit, namun tetap berusaha memutar-mutakan kunci berkepala bulat tersebut. "Namun perasaanku positif perihal kunci yang ini."
"Dicoba terus, Pak." Ujar Felice sembari mengamati keadaan sekitar dengan waspada. Klek. Terdengar bunyi masuk dan pintu besi tersebut sedikit terbuka. Kak Ryan sedikit melonjak kaget. "Wah, berhasil!"
Pak Handoko menarik pintu tersebut pelan, dan menimbulkan sedikit bunyi deritan. Aku melihat ke sekeliling dan tidak terlihat orang-orang atau tanda yang mencurigakan. Dengan perasaan antara yakin-dan-tidak-yakin, aku mengikuti empat orang yang telah masuk terlebih dahulu. Suasana di dalam sangat tidak tentram dan pengap, seolah sirkulasi udara yang ada hanya sebesar biji apel.
"Uhuk, uhuk!" Felice terbatuk saat kita memasuki lorong lebih dalam lagi. Nampaknya udara ini sangat tidak sehat, bisa-bisa kita terkena penyakit paru-paru jika disuruh menginap selama satu minggu disini. Kak Ryan dengan sigap mengeluarkan sapu tangannya dan memberikan ke Felice. "Coba kamu tutup hidungmu pakai ini saja."
Ada sedikit rasa panas dalam diriku, karena mungkin aku tak terlalu senang melihat kedekatan mereka berdua. Kak Ryan yang tadinya hanya milikku seorang kini juga miliki orang lain. Ah, ini bukan fokus kita saat ini. Felice menatap wajah Ryan dengan sedikit senyum yang tersungging. Duh, panas. Aku pun sengaja batuk. "Uhuk!"
Velia melihat ke sekelilingnya dengan sangat serius. "Tempat ini nampaknya sudah cukup lama tidak dikunjungi, kotor sekali."
Lorong ini kuperkirakan memiliki lebar sepanjang 2 meter, dengan material batu bata yang disemen secara berantakan dan tidak dilapisi cat lagi. Bahkan, aku sudah dapat menemukan tempat-tempat tertentu yang dipenuhi lumut. Pencahayaan hanyalah dari lampu remang-remang yang sebagian diantaranya juga sudah berkedip-kedip sekarat. Aku mengangguk setuju. "Ya, bagaikan tempat dari zaman penjajahan dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
2.0
AventuraKetika membuka kedua mata, aku tidak sadar kalau hari itu adalah hari pertama dari hidupku yang baru. Aku yang lama memang sudah mati. Aku ditugaskan untuk melanjutkan jejak hidupnya di dunia. Inilah kisah dan takdirku sebagai seorang manusia kloni...
