1. Kehidupan baru

343 8 0
                                    

Hawa panas di kamar yang berukuran 3x4 meter ini membangunkan Shenan dari tidurnya, baju yang ia pakai sudah basah oleh keringat, walaupun sudah menghidupkan kipas angin sejak tadi pagi, ia tetap merasa kepanasan. Ditengoknya jam yang tertempel di dinding kamarnya, menunjukkan pukul 11 siang.

Shenan akhirnya beranjak bangun, duduk di pinggiran ranjangnya seraya meraih kipas angin yang ada di meja untuk di dekatkan ke arah tubuhnya yang sudah kegerahan. Ia sudah tidur sejak pukul 6 tadi pagi karena semalaman begadang di dalam bis antar provinsi, masih merasa lelah dan merasa layak mendapat satu atau dua jam waktu tidur. Namun ia berfikir lebih baik mandi.

Shenan Azzahra Arundati adalah nama lengkapnya, biasa dipanggil Shenan karena ia dulu lahir pada hari Senin. Hari ini adalah hari pertamanya berada di Jakarta, bukan untuk berlibur atau sekedar mengunjungi sepupunya, tapi untuk tinggal serta menetap di sini.

Dua tahun yang lalu Ayahnya tiba-tiba mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, karena Shenan merupakan anak tungggal, bisnis ayahnya sementara harus di lanjutkan oleh ibunya sendiri dan rencananya akan diberikan kepada Shenan ketika dewasa, namun sangat disayangkan, satu tahun kemudian Ibu Shenan didiagnosa mengidap kanker payudara stadium 4, karena ibunya sakit-sakitan membuat bisnis ayahnya tidak berjalan dan kemudian untuk pengobatan ibunya Shenan di bantu oleh kerabat dekat Ibunya menjual semua harta benda keluarganya, mobil, motor, perabotan elektronik, serta semua yang dimilikinya, itupun ia masih memiliki tanggungan hutang di bank. Hanya tersisa rumah peninggalan orang tuanya yang ia miliki, dimana rumah tersebut merupakan kenangan terakhir bersama orang tuanya, sebelum ibunya meninggal dunia, tiga bulan yang lalu.

Selama tiga bulan, Shenan terkatung-katung hidup sendirian di rumahnya bersama pembantunya yang tinggal di sana secara cuma-cuma karena kasihan kepada Shenan, hidup hanya tergantung dengan uang pensiun dari ibunya yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai negeri. Beberapa kali ia dibujuk oleh sanak saudaranya untuk tinggal bersama mereka, Shenan menolaknya. Ia tidak ingin meninggalkan rumahnya ataupun Kota kecil yang ia tinggali.

Sampai suatu hari, ia pulang dari sekolah dan menemukan tulisan yang tertempel di pagar rumahnya oleh pihak bank, bahwa ia belum membayar tagihan selama tiga bulan. Sejak saat itu ia terpaksa harus tinggal bersama Tantenya yang ada di Jakarta dan mengontrakan rumahnya untuk mencicil hutang di Bank.

Shenan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia melihat sekeliling rumah tersebut, terlihat sepi karena tantenya masih bekerja di TU salah satu SMA di Jakarta dan Anaknya, Ghavin masih sekolah di Sekolah Dasar. 

Bulik Lidya, begitu Shenan memanggilnya adalah adik dari Ibu Shenan, yakni seorang janda karena Om Iwan, suaminya sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Shenan sebenarnya juga tidak merasa enak kepada tantenya, karena mungkin dirinya akan menambah beban hidupnya.

Pukul tiga sore, suara motor matic milik buliknya terdengar sudah berhenti di depan rumah, Shenan langsung berlari dan membukakan pintu pagar untuk tantenya itu bersama Ghavin.

"Kamu udah makan Shen?", Tanya buliknya setelah meletakkan helmnya di ruang tamu, terlihat membawa bungkusan plastik hitam di tangannya.

"Sudah bulik, tadi jam setengah 12-an", jawab Shenan sambil kembali duduk di ruang tengah seraya menggoda Ghavin yang juga baru pulang sekolah dengan menggelitiki perutnya yang gendut.

"Ini bulik bawain, Gado-gado yang ada di depan SMA, dulu kamu waktu kecil suka makan di situ", kenang Lidya, karena waktu kecil sampai kelas 4 SD Shenan memang tinggal di Jakarta.

"Oh iya bulik, wah udah lama banget, makasih ya bulek", Shenan menyantap gado-gado yang dibelikan oleh Lidya, walaupun ia masih merasa kenyang ia tetap menyantapnya sekalian ingin bernostalgia ketika ia masih kecil, ketika kedua orang tuanya masih hidup.

SHENANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang