"Shen.. SHENN!!!", panggil Jeje melengking tepat di samping Shenan. Shenan menoleh ke arah Jeje dengan senyum yang merekah.
"Apaan?", Jeje tidak langsung menjawab, melainkan mencoba membaca gimik wajah Shenan saat itu, "Apaan sih Je liat-liat gitu", tambah Shenan yang kini menjauhkan mukanya dari Jeje.
"Seneng banget sih lho hari ini? Ada apa dah? Cerita kali", tanya Jeje yang penasaran.
"Apaan sih, orang biasa aja", jawab Shenan dengan sangat tidak jujur lalu melanjutkan minum es teh yang ia pesan di kantin.
"Yeuu, dasar aneh", ujar Jeje nyolot.
"Apa'an sih lo Je, lo yang aneh".
Putri lalu datang dengan membawa makanan ringan yang baru ia beli, Jeje langsung merebut salah satu snack kesukaannya seolah itu adalah makanan terakhir yang akan ia makan.
"Wey, Shen, dapat salam tuh dari Adrian", ujar Putri tiba-tiba.
"Cieee, Adrian". Wajah Shenan tidak menyiratkan kesan apapun, ia memaksakan senyuman. Kemudian Putri dan Jeje saling membicarakan Adrian, pembahasan yang sering mereka Bahasa mengenai Adrian, dari Adrian yang pintar masak, yang kabarnya akan bermain film, sampai membicarakan tentang saudara jauh Adrian yang tampan-tampan. Shenan tidak mendengarkan pembicaraan mereka, ia sibuk menggeser layar hp-nya yang seharian ia cek sampai dua kali lima menit secara intens.
Walaupun tidak terlihat secara nyata, tetapi dalam hati Shenan merasa sangat gusar. Seolah sedang menunggu sesuatu yang besar untuknya, sesuatu yang ia tunggu-tunggu.
Bel, pulang sudah berbunyi, Shenan yang sudah menunggu sejak pukul 13.00 tadi di kantin, karena jam terakhir kosong, akhirnya berpamitan dengan kedua temannya tersebut, dengan alasan ingin cepat pulang dan tidur siang.
***
Shenan menunggu di halte depan sekolahnya sambil menatap layar hp-nya yang masih bisu, sudah beberapa kali menolak tawaran angkot yang lewat, bahkan angkot ke lima yang menuju ke arah rumahnya.
Keytaro tidak kunjung menghubunginya ataupun datang, suasana depan sekolah sudah mulai sepi, tidak ada lagi murid-murid yang memakai seragam putih abu-abu selain dirinya.
"Kakak, kakak yang namanya Shenan bukan?", tiba-tiba salah seorang anak kecil yang terlihat lusuh, memakai topi dan ukulele yang tergantung di punggungnya.
"Iya, kenapa?", jawab Shenan lembut.
"Ini ada surat", sambil menjulurkan kertas lusuh kepada Shenan, lalu anak kecil tersebut lari.
Tuan Putri,
Bukan bermaksud mengecewakanmu,
Bukan bermaksud mempermainkanmu, tapi tolong aku, arah jam 2, sekitar 100 meter darimu
Yang sudah dari tadi merindukanmu.
Dari aku,
Kamen Rider yang kepanasan.
Shenan tersenyum selesai membacanya, matanya sontak mencari-cari sesosok yang dimaksud dari arah jam 2. Dari kejauhan ia tidak bisa melihat apa-apa, melainkan hanya motor sport hitam yang terparkir di depan mini market jauh di sebelah timur Sekolahnya. Langsung ia hampiri pemilik motor sport tersebut yang sudah pasti ia kenal.
Melihat sosok yang hendak ia hampiri tersebut, dalam hati Shenan sangat tidak menyangka. Laki-laki yang sebelumnya terlihat arogan dan dingin. Ternyata sangat pandai merangkai kata gombal. Mungkin untuk remaja modern, kata-kata gombal tersebut terdengar sangat norak. Tetapi bagi Shena yang suka membaca novel klasik, hal tersebut sangat luar biasa istimewa.
"Kamen rider?", tanya Shenan sesaat bertemu dengan sosok di surat tersebut, Keytaro, yang memakai masker tengkorak untuk menutupi mukanya serta masih memakai helm. Shenan langsung menyadari bahwa dulu yang mengirimkan parsel buah serta obat merah ketika berada di taman ternyata adalah Key, senyuman merekah dari wajah Shenan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romance"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
