Pukul 8 malam, setelah menghabiskan makan malamnya Shenan duduk termenung dengan tv yang menyala di depannya yang tidak ia tonton. Tiga ruas jari kirinya terasa sangat sakit seperti keseleo saat mengerem motor tadi. Sebelum buliknya pulang dan mengetahui kondisi tangannya, ia buru-buru mengompres jemarinya dengan satu kantong es batu.
'Tok.. tok.. tok'.
Ada suara ketokan pintu dari luar, refleks Shenan langsung berlari ke arah dapur untuk menyembunyikan es batu tersebut, ia mengira itu adalah Bulik Lidya bersama Ghavin yang baru pulang dari Bogor. Segera ia berlari keluar, buru-buru membuka pintu dan memasang wajah sumringah untuk menyembunyikan semuanya.
Setelah ia buka pintunya, wajah sumringah Shenan pudar melihat siapa yang berdiri di depannya. Keytaro.
"Shen..", ujarnya lirih.
Shenan tidak langsung menjawab, melainkan menatap Key dengan datar.
"Ada apa?", jawabnya datar.
"Boleh duduk?".
"Diluar aja", Shenan tutup pintu rumah lalu duduk di kursi panjang di teras rumah.
Mereka duduk saling berjauhan, terlihat kaku seperti saat pertama kali Key datang ke rumah Shenan.
"Shen", ujar Key setelah beberapa lama mereka saling diam.
"Tadi aja, kamu cuekin saya, kayak orang gak kenal, tiba-tiba pergi aja", sahut Shenan ketus, tanpa memandang Key.
"Iya, maaf, makannya saya ke sini", Shenan tidak menjawab.
"Shen, saya sebenernya pengen ngomong sama kamu, tapi saya malu, saya bukan siapa-siapa sekarang", jelas Key, memandang Shenan, berharap Shenan mau mendengar penjelasannya.
"Kalau kamu bukan siapa-siapa, apa itu alasan tepat buat kamu jauhin saya, menghilang tanpa kabar?"
"Iya maaf, saya bingung Shen".
Mereka berdua kembali terdiam cukup lama, hanya ada suara lalu lalang motor yang lewat, kemungkinan orang-orang yang lewat tersebut tidak bisa melihat mereka berdua karena tertutup tanaman bunga di taman kecil di depan teras rumah.
"Saya dua bulan cari kamu ke mana-mana, paling engga dua minggu saya datang ke rumah kamu, Cuma mau mastiin kamu baik-baik aja apa engga", tanpa sepengetahuan Shenan, Key tersenyum lemah.
"Saya belum bisa cerita sekarang, besok saya akan cerita semuanya, malam ini saya ke sini buka itu tujuan saya", Shenan akhirnya menoleh ke arah Key.
"Kamu gak papa tadi? Saya lihat kamu hampir nabrak taxi, makannya saya ke sini".
"Gak papa, Cuma hampir belum nabrak", jawab Shenan sedikit salah tingkah.
"Kalau gak papa, kenapa jari-jari kamu lebam-lebam gitu? Sini saya lihat dulu", Key menarik tangan kiri Shenan, mengecek jari-jari Shenan yang kaku dan sedikit lebam.
"Auww..", Jari Shenan terasa sakit karena Key sengaja menggerakkan sedikit jari manis Shenan. "Kenapa? Sakit?", tanya Key. Shenan mengangguk.
"Bawa ke rumah sakit ya?".
Shenan menggeleng, "Gak usah, gini doang kok".
"Kalau nanti sampe bengkak, harus di bawa ke rumah sakit".
"Memang kamu tahu kalau bengkak kenapa?".
"Ya, kalau bengkak kan siapa tahu patah kek, urat kecepit atau apa".
"Ih astaghfirullahaladzim, jangan sampe".
"Hehe, makannya kalau ada apa-apa langsung ke dokter".

KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romance"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...