Sudah hampir dua minggu Keytaro dan Memet tidak muncul di kelas, terdengar kabar bahwa mereka di scores lagi. Rama dan Fadlan terlihat banyak diam dan anteng di kelas.
Sudah beberapa kali Shenan mendatangi rumah Keytaro untuk menjenguknya namun rumahnya terlihat sepi dan tidak ada orang yang membukakan pagar untuknya, ia mencoba menelfon Om Ariya juga tidak aktif.
***
Siang itu di hari jum'at setelah pulang Sekolah, Shenan sedang makan siang bersama Adrian di sebuah resto, padahal sebelumnya Shenan berniat untuk pergi ke rumah Key sekali lagi namun Adrian mendadak menghampirinya di kelas untuk mengajaknya makan siang, terpaksa Shenan harus mengiyakan ajakan Adrian, lagipula justru Jeje yang kegirangan dan memaksa Shenan untuk bilang iya.
Restoran tersebut terlihat mewah, dari balik kaca restoran terlihat Shenan dan Adrian duduk saling berhadapan sambil bercakap-cakap, hanya mereka berdua yang memakai seragam SMA, sementara pengunjung lain adalah orang-orang dewasa yang berpakaian rapi, mungkin pengusaha, anak kuliahan, atau orang-orang penting. Tentu saja Shenan tidak cukup nyaman berada di situ, ia lebih memilih makan di pinggir jalan daripada tempat seperti ini.
Adrian mulai menyadari tingkah laku Shenan yang mulai tidak fokus dengan percakapan mereka berdua, "Kamu sakit?", tanya Adrian.
"Hmm?".
"Sakit?", sekali lagi Adrian bertanya. Dijawab dengan gelengan kepala dan senyuman lemah dari Shenan.
"Oh iya, gimana keadaan kelas kamu sekarang?", tiba-tiba Adrian mengganti topik pembicaraan.
"Yaaa, baik", jawab Shenan ragu, berharap jawabannya adalah jawaban yang diharapkan Adrian.
"Baik?", Adrian mengangkat alisnya.
"Yaa, baik, maksud Kak Adrian yang gimana sih?".
"Ya, setelah gerombolan anak nakal itu berkurang, gimana sekarang? Masih gangguin kamu gak?", Shenan sejenak berfikir bagaimana Adrian tahu tentang empat bala cireng yang dulu sempat mengganggu Shenan padahal ia tidak pernah bercerita tentang itu kepadanya.
"Uhm, enggak kok, sekarang udah gak pernah ganggu", jawab Shenan singkat, ia tidak mau terlalu banyak membicarakan tentang mereka, terutama Key, ia takut jika keceplosan tentang kedeketannya dengan Key.
"Bagus deh, mereka pantas nerima hukuman itu", Shenan hanya terdiam.
"Apalagi Keytaro, dari kecil selalu cari masalah, kalau dia bukan cucu dari pemilik Sekolah, bakalan udah dikeluarin dari dulu", tambah Adrian.
Setelah agak lama, Shenan akhirnya menemukan jawaban yang tepat untuk merespon Adrian, "Oh, gitu ya".
"Saya denger kamu pernah diboncengin sama dia ya?", tanya Adrian tanpa ragu-ragu, dengan nada yang datar serta wajahnya berubah menjadi serius sambil menatap Shenan, "Atau kamu sekarang sudah temenan sama dia?".
"Pernah", jawab Shenan dengan singkat dan jujur. Tanpa penjelasan Shenan tahu bahwa Adrian sudah mengetahui tentang kedekatannya dengan Keytaro, sehingga jika Adrian membanjiri pertanyaan tentang Key ia akan menjawabnya sejujur-jujurnya.
"Oh..".
"Iya, saya temenan sama siapa aja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia", Adrian hanya tersenyum masam dan mengangguk-angguk.
"Iya.. iya.. bagus sih itu, tapi kamu juga harus hati-hati, siapa tahu mereka punya niat jahat sama kamu".
Shenan terdiam setelah itu, ia tidak tahu apakah ia harus membela Keytaro atau tidak, Keytaro memang banyak melakukan kesalahan di hidupnya, tapi itu tidak akan merubah pikirannya untuk tidak berteman dengan Key. Ia percaya kepada Key.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHENAN
Romansa"Iya, saya temenan sama siapa saja, mau dia nakal, baik, bodoh, pintar, kaya, miskin, gak akan ngerubah pandangan saya terhadap mereka sebagai manusia" Shenan, murid pindahan baru menemukan kehidupan barunya di ibu kota setelah kepergian kedua orang...
