Bab. 20

33 1 0
                                    

Hujan melambaikan tangannya setelah menurunkan Senja didepan rumahnya, melihat seulas senyum dari sudut bibir Senja sebagai balasan lambaian tangannya. Sebelum itu, saat berada dijalan, Senja selalu merasa tidak nyaman dan wajahnya ditekuk bagai pakaian kumal. Sudah dari tadi Hujan ingin bertanya ada apa gerangan, namun ia tak jua kunjung bertanya karena ia merasa ada hal yang disembunyikan Senja dan tak seorang pun boleh tahu. Tadinya pula Hujan ingin berkomentar, "Itu muka atau ketek simbah? Kerutan semua, ketekuk-tekuk," tapi ia mengurungkannya dan berganti menjadi, "Mau langsung pulang?" lalu dibalas anggukan dari Senja.
"Hati-hati dijalan, Jan." Hujan tersentak mendengarnya. Ia berbalik dan melihat Senja sudah memasuki rumahnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Mungkin gue berkhayal sebelum tidur."
Hujan melenggang dijalanan sepi kota, berusaha memfokuskan pikirannya dan seketika pipinya merona diselingi tawa kecil. Ia bernyanyi kecil, sesekali melirik dashboard lalu teringat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Jan, gue mau naruh tupperware gue, nggak mungkin kan gue ke toko-toko gitu bawa ginian." Ia memperlihatkan wadah minumnya tepat dihadapan Hujan.
"Hish, gue nggak bisa liat jalan, goblok."
"Ih woles, gak usah ngatain orang."
"Habisnya elo goblok nggak ketulungan." Hujan menatap Senja yang memberengut.
"Maaf."
Senja melirik. Mengerutkan dahinya, tidak percaya. "Apa? Gue gak denger."
Hujan mendengus. "Sekarang lo pura-pura budek, atau gimana?"
"Lupakan."
"Ngambek? Elah, gituan aja ngambek. Dasar kambing, sukanya ngambek."
Senja semakin mengerucutkan bibirnya. Sekarang dengan melipat kedua tangannya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Lo lucu banget kek gitu." Hujan nyengir.
"Bodo!"
Hujan bergerak kesamping dan memajukan tubuhnya ke arah Senja dan..
Hujan mengecup pelan bibir Senja.
Hanya beberapa detik.
Dan rasanya seperti...
Itulah.
Setelahnya, keduanya terdiam. Senja terus saja membelalakkan matanya, ia sudah kehilangan semua kata. Pikirannya seakan berhenti saat itu juga, dan hatinya tidak dapat menolak rasa itu. Hangat, namun ada sengatan-sengatan yang tak bisa Senja pahami. Disisi lain, Hujan dengan santainya menekan tombol play pada DVD Player dan lagu mengalun dalam mobil tersebut. Sebenarnya pun, Hujan merasa sangat-sangat gelisah hingga ia bingung harus mengekspresikannya, alhasil ia hanya bisa bungkam dam berusaha tenang.
"Eum, lagunya bagus, ya?" Sepatah kalimat itu menjadi ke-awkward-kan dalam hidup Hujan. Dan ia takkan pernah lupa hari ini!
Hujan membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar dan bejibun notifikasi langsung muncul saat ia baru saja menyentuh keypad layar ponsel.
                             PRIA PUNYA SELERA (4)
Arga Ghani: Bro, gue mau ngomong serius
BrastarioHasanFebriawanAfandy: apakah itu?
Galih Raditya: sumpe itu nama atau tol cikarang?-_-
Arga Ghani: display nama lo merusak mood gue:(
BrastarioHasanFebriawanAfandy: emak gue yg kasih nama:(
Arga Ghani: ya masa bibi lo:(
Arga Ghani: gue butuh penasihat hukum hati gue
Galih Raditya: sapa bos? Pak Koko? Ato Bu Cicit?
Arga Ghani changed the group name "GUE BUTUH KETOPRAK"
Galih Raditya: sumpe? Demi dewa, ini salah
Brastario Hasan: uhhh, geli geli manja ya
Arga Ghani: dasar pembokat syahroni
Galih Raditya: dasar jin tomang
Arga Ghani: sok iye lu
Galih Raditya: gue tampol lu
Brastario Hasan: bgst-_-
Arga Ghani changed the group name "PRIA PUNYA SELERA"
Arga Ghani: heu:(
Brastario Hasan: gue dah cape tau nggak pdkt sama senja:(
Galih Raditya: Senja Alkhaira? Anak XI3? Gile lu:(
Arga Ghani: dia dah digebet hujan bos
Galih Raditya: dan gue kalah lagi dari angga dan hujan:(
Hujan Satria: -_- bgst
Arga Ghani: gaboleh ngotor
Hujan Satria: terserah lo
Brastario Hasan: ayang beb? Kau kembali

"Gila emang ya, heran gue." Hujan mendengus lalu melemparkan ponselnya ke kursi belakang.
Ia menyadari sesuatu yang berbeda. Belum pasti, tapi terasa sangat besar. Dan soal ciuman itu, Hujan tak bisa mengatakan apapun karena menurutnya, sungguh, rasanya menyenangkan.

*********
Suasana kelas XII 1 memang tidak berbeda dari kelas lainnya jika kelas sedang kosong melompong a.k.a. tidak ada guru. Berisik, rusuh, tidak ingat usia, dan masa bodo soal mereka yang sudah ada dimasa ujung tanduk, ujung gurun pasir, atau apalah itu kata peribahasa. Seharusnya jam pertama adalah jam pelajaran agama, tapi berhubung pak Wahid, sang guru agama Islam tidak masuk, akhirnya beliau menitip pesan pada guru piket agar kelas mereka diminta untuk sholat dhuha bersama dilanjutkan belajar masing-masing. Para lelaki yang notabene adalah makhluk susah diatur, lebih memilih cabut hangout ke kantin, apalagi sebangsa Arga, Galih, dan Asta. Terkecuali Hujan. Ia memang sohib tiga manusia itu, namun ia "agak" berbeda dari yang lain. Ingat itu! Agak berbeda!
"Eh buset, lo ngapain, Ta?!" teriak Galih melihat Asta naik ke atas meja dan mengintip dari celah ventilasi yang ada di tembok.
"Sadar bodi dong, Ta. Badan kek beras 1 ton, naik-naik atas mejong. " balas Anita, si cewek berbadan bohay -menurut survei Asta saat melakukan eksperimennya mengenai ukuran bra seorang wanita-
"Meja, Nit, meja. Lidah lo ketempelan laler sampe typo kek gitu?" seru Galih.
Asta menengok pada Anita lalu melakukan pose 'cium jauh' kearahnya. " Ai lap yu, cewe bohay penggoda imanku sayang."
Seisi kelas dibuat tertawa lepas karena ulah Asta, terlebih Hujan yang sekarang terpingkal-pingkal seraya menggelengkan kepala saking gelinya. Anita menatap Hujan dengan tatapan ingin dikasihani, namun kali ini Hujan tak ingin ikut campur atas ke-ogeb-an teman-temannya. "Sorry, gue nggak bisa bantu," Hujan mengangkat tangan, "gue ingin ketawa hari ini "
"Elah, Jan, bantuin gue jinakin anak anjing lo itu. Gue janji nggak minta harapan jadi pacar lo lagi deh."
"Gue nggak yakin."
"Seriusan, Jan. Apa sih yang enggak buat lo, please." rengek Anita dengan wajah melasnya.
"Sumpah, ini terakhir kali gue nolong lo. Habis ini gue mau ikutan mereka nge-bully lo karena gue dari orok terlahir tampan, pandai, dan suka membully." Hujan beranjak bangkit dari kursinya lalu duduk disamping Arga yang jarak kursinya tak jauh dari Asta yang tengah berdiri diatas meja. "Geseran, Ga." Hujan menarik napas, panjang dan pelan, dan ia menggedikkan bahunya," Asta, sayangku yang ke-101, yuk turun sama abang. Udahan dong yang ngintip mbak kos sebelah yang lagi jemur tanktop, kamu nggak malu sama ibu Cicit yang tiap hari perhatian sama kamu?"
"Abang Hujanku sayang, kalo bu Cicit sayang gue, dia nggak mungkin ngasih gue tiap hari susu trigonometri yang gue bahkan dari kelas sepuluh kagak ngerti."
"Abang ngerti perasaan adek Asta kok, abang ngerti." Hujan mengangguk lalu memeluk kaki Asta.
"Abang Hujan sayang, Asta rindu abang yang jarang pulang karena sekarang lebih perhatian ke Senja." Ia memeluk punggung Hujan, lalu disambut tamparan keras di bahu oleh Hujan.
"Gila lu, bro. Fitnahin orang aja kerjaannya."
"Atit atuh, adek Asta kesakitan." Asta mengelus bahunya yang memanas.
"Bodo lah, beras pulen."
"Abang jahat ke adek."
"Ogeb."
"Abang..."
"Hush, pergi kau makhluk terlaknat."
"Cia, dasar jin tomang." sambung Galih.
"Diam kau, sobekan roti tawar." Asta melirik Galih tajam.
Asta berlarian ke arah Galih lalu mengacak rambut, membuka kancing baju Galih dan membentangkan tangan Galih seperti adegan titanic.
"Temen gue ogeb semua emang."

Yayy, aku update lagi setelah beribu-ribu tahun tak menulis lagi. Actually, gegara my priority adalah sekolah dan kejar ilmu, maka menduakan menulis dan update cerita ini😩😩 so sad,man.
But, by the way, aku lagi belajar bagi waktu antara nulis dan sekolah:') so, jangan bosan-bosan buat terus pantengin aku yeah, ups 😂😂 I mean, jangan bosen ya buat nungguin Hujan buat menambah ketamvanannya dan Senja yang merasakan kiss kiss korea 😂😂
Tetap buka kesempatan buat vomment kok, jangan lupa ya guys 😘

See you,
Author 👻

                     

HUJAN DAN SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang