Bab. 5

67 3 0
                                    

Pagi-pagi sekali, Senja sudah bersiap rapi dengan balutan polo shirt peach dan rok jins dibawah lutut. Ia tengah bersiap untuk menjemput kedatangan sang kekasih, Angga dari Aussie. Pesawat yang ditumpangi Angga baru akan mendarat di Jakarta pukul 09.00. Sekarang waktu menunjukkan pukul 08.00. Masih satu jam lagi. Batin Senja.
Senja secepat mungkin melaju ke arah Louisse Cafe, dengan motor maticnya, ia melenggang dengan cepat di jalanan kota dan selamat sampai tujuan. Ia membuka pintu kecil cafe itu, dentingan lonceng kecil atasnya berbunyi. Seorang pelayan menyapanya dengan ramah,
"Ada yang dapat saya bantu, mbak?"
Senja berbisik, pelayan itu mengangguk, seakan paham akan perkataan Senja. Pelayan itupun pergi, ia memanggil pelayan lainnya untuk melakukan permintaan Senja. Mereka berbenah, menata meja-meja dan mendekorasi tempat itu menjadi tempat penyambutan yang terkesan calm and warm, namun tetap tersirat cozy. Senja sudah merencanakan semuanya, ia akan membuat kesebuah kejutan kecil untuk Angga. Senja tersenyum puas. Kini ia tinggal menunggu Angga menemuinya dicafe itu. Ia mengetik sebuah pesan untuk Angga yang berisikan,
Ngga, Ku tunggu di Lousse Cafe, tempat biasa kita ketemu. See you here, silly monk :D
Senja mengambil motornya, memakirkannya di belakang cafe agar Angga tak tahu kehadirannya. Sejam berlalu. Semua pelayan sudah bersiap pada tempatnya masing-masing, para pengunjung yang datang pun ikut serta dalam rencana Senja. Awalnya mereka semua akan bertingkah biasa, saat Angga datang mereka akan melayaninya seperti biasa, sementara itu Senja akan bersembunyi, ia akan membiarkan Angga sendiri selama 15 menit, lalu kejutan satu per satu pun akan menghampirinya dan sampai akan membuatnya kebingungan lalu barulah Senja akan muncul dengan sebuah kue yang bertuliskan 'Welcome Back, Anggadika Dimastara.'
Saat itupun akhirnya tiba, suara dentingan lonceng berbunyi, Angga masuk dengan koper hitamnya. Ia mencari-cari Senja, namun sama sekali ia tidak melihat batang hitung Senja. Seorang pelayan datang dan menawarkan kursi untuknya. Ia duduk, menunggu kedatangan Senja. Dari balik celah dapur, Senja terkekeh melihat Angga yang tengah menatap asing ke berbagai penjuru arah. Di matanya, Angga terlihat semakin tampan. Ia terlihat lebih segar dan bersih. Ia tak lagi kucel dan berwajah kocak seperti beberapa bulan sebelum ia meninggalkan Indonesia. Di raut wajahnya tampak kedewasaan dan rahang yang menguat menunjukkan bahwa ia sudah menjadi seorang lelaki yang berwibawa. Astaga, Angga barulah remaja SMA kelas XII yang sebentar lagi akan  menghadapi Ujian Nasional yang akan menentukan takdir selanjutnya, namun mengapa sekarang ia terlihat begitu tegas dan dewasa, apa disana ia tertekan? Banyak pikiran? Wow, I don't believe it. Now, my silly monk become a real man. Senja tersenyum geli dengan pemikirannya itu.
Setelah sekian lama menunggu, Senja tergugah karena secara mendadak Angga berdiri dan ingin pergi. Sesegera mungkin, ia menyuruh pelayan 1 mendatanginya dengan membawa sebuah surat yang sudah Senja siapkan. Pelayan 1 menghampiri Angga, ia menyerahkan surat itu padanya lalu menyuruhnya untuk duduk kembali. Angga membukanya, lalu tersenyum kecil. Senja tak perlu menjelaskan apa isi surat itu, yang pasti isinya adalah ungkapan betapa rindunya ia saat Angga tak ada di sampingnya sekian lamanya. Lalu, Senja menyuruh Pelayan 2 untuk meluncurkan aksinya. Kini Pelayan 2 yang sedang memegang biola bersama pelayan lainnya itupun menghampiri Angga dan memainkan sebuah lagu dari Mariah Carey, Endless Love. Angga tersenyum lagi. Ia menikmati alunan biola yang terdengar merdu bagi siapa saja. Lalu, langkah selanjutnya Para pelayan wanita mengelililinginya, menaburinya dengan bunga dan bernyanyi sesuai iringan biola. Angga semakin bingung, ia tak mengerti dengan semua aksi yang ditunjukkan para pelayan itu. Akhirnya, Senja pun keluar dari persembunyiannya sambil membawa kue. Angga terkejut sekaligus terkesima karena kejutan yang diberikan Senja. Spontan, Angga memeluk Senja, melampiaskan kerinduannya pada gadis itu. Mereka hanyut dalam pelukan, para pengunjung riuh bertepuk tangan, adegan romantis itupun menjadi saksi betapa kerinduan seorang kekasih yang ditinggal sekian lama.
"Thanks a lot, Nja. You're suprised me. You're more than a girlfriend, you're best mate for me."
Perlahan tapi pasti, Angga mengecup kening Senja dan menimbulkan efek detakan jantung yang berlarian seperti perlombaan kuda pada Senja. Angga mengerjap, hatinya bergelimang rasa bersalah. Dirinya pengkhianat. Ia pembohong besar. Ia adalah bom yang hanya akan menghancurkan masa depan gadis yang tengah dipeluknya. Senja terlalu baik. Angga pecundang dan bedebah besar. Kesalahan apa lagi yang akan kuciptakan lagi, Nja? Oh, God, please forgive me. Batinnya.
               ***************
Senja menikmati setiap detik yang dilaluinya. Sangat bahagia. Full of love. Senja memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang mengenai wajahnya. Angga mengendarai motornya, sedangkan Senja membonceng dibelakang sambil merentangkan tangannya. Mencoba memeluk angin bahagia di hari ini.
"Ngga, kita ke toko eskrim samping pom bensin yuk,"
"Apa? Aku nggak denger?!"
Suara deru motor dan kendaraan lain membuat Angga tak dapat mendengar apa yang diucapkan Senja. Ah, Senja harus berteriak atau ia takkan bisa menikmati lelehan eskrim yang dingin dan lembut.
"AKU MAU ESKRIM DI KEDAI EXOTIC CREAM. AYO KESANA!!!"
"Senja, nggak usah keras-keras!! Aku bisa denger kok, aku nggak budek. Make sure, you're more softly and not  like a chill,"
Angga sedikit menggertak. Ya, sedikit keras dan kasar. Angga tak pernah berkata seperti itu, padaku. Mengapa dia mengataiku seperti itu? Senja hanya mendeham lalu menenangkan pikirannya yang mulai meracau kemana-mana.
"I'm sorry, I don't do it again. I'm so sorry, silly monk..."
"STOP IT, STOP. Please, don't call me 'Silly Monkey' again. Oh my, you're make me fell bored. Now, we're back home. Aku akan mengantarkanmu pulang."
"Mmm, baiklah." Senja menunduk.
Senja ingin sekali menumpahkan air matanya, namun ia tak mau Angga melihatnya. Hatinya sakit. Rasanya dihujam duri. Menusuk dan menyakitkan. Ia tak tahan terlalu lama menahan bendungan air mata dan perih di hatinya. Ia ingin menangis saja. Ia ingin menelungkupkan wajahnya pada bantal atau menangis di pangkuan kakaknya. Setelah itu, Senja akan melampiaskan perasaannya pada Niko dan menumpahkan segalanya. Tegang. Bahunya mulai tegang dan meremang. Napasnya mulai tersengal. Satu tetes air mata terjun ke pipi manisnya. Senja sesegera mungkin mengelapnya.
Sesampainya dirumah, Angga langsung melajukan motornya menjauh dari rumah Senja. Sarah melihatnya dari kamar, ia melihat putri semata wayangnya itu murung dan sembab. Ada apa dengannya? Batin Sarah.
Sarah membukakan pintu, Senja melenggang masuk dan menubruk pintu kamarnya lalu menguncinya.
"Anja kenapa, Bu? Galau tuh bocah?" Niko yang baru saja pulang kampus melihat perubahan sikap pada Senja. Sarah menggeleng, Niko menghampiri kamar Senja lalu mengetuknya.
"Nja, Anja. Kakak bawa coklat ketburi loh. Kamu mau nggak? Coklatnya lumer-lumer lucu gitu."
Senja membuka pintu itu perlahan, Niko masuk dan merebahkan dirinya di kasur. Senja menelengkupkan wajahnya di antara lututnya, bahunya meregang naik turun. Niko yang menyadari perannya dalam kondisi itu langsung memeluk erat adiknya itu, mengelus pelan rambutnya, dan mengecup puncak kepala Senja.
"It' ls okay, Nja. Let's talking about and keep calm."
Senja masih sesegukkan, ia merintih kecil dan menangis sepuasnya. Setelah ia tenang, ia menceritakan segalanya. Mulai dari awal kedatangan Angga sampai Angga mengantarnya pulang. Ia menangis sesekali, lalu meneruskan ceritanya, Niko memahami apa yang di rasakan adiknya itu. Niko memeluk kembali Senja, memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja selama dirinya ada disamping Senja. Ketenangan yang diberikan Niko mampu serta merta membuat Senja kembali mendapatkan senyumannya. Aku akan selalu menjagamu, Anja. Disaat apapun kau membutuhkanmu, aku akan selalu ada. Di hatimu. Niko tersenyum simpul dan memejamkan matanya.

*1178 kata? Yeah, apakah sudah lumayan panjang? Maafkan penulis ya karena nggak update2 bab. 5, hehehe. Oh ya, thanks a lot yang udah mau baca :*

HUJAN DAN SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang