Chapter 4 : The Promise

145 12 0
                                        

-Although we're apart, we still under the same sky-

Playlist : Adele - All I Ask

○●○

Dilema. Itu yang dirasakan Alsa sekarang. Bisakah ia egois dengan mengekang Israel untuk tetap tinggal disini? Atau melepasnya namun akan menimbulkan rindu?

Seharusnya sekarang ia bahagia dengan perkataan Israel yang mengatakan jika ia sangat penting bagi Israel. Tetapi tak bisa. Karena ia dihadapkan dengan keputusan sulit ini yang seakan melarang dirinya untuk bahagia.

Alsa melipat bibirnya. Mencoba meyakinkan dirinya mengenai apa yang akan ia putuskan. Menghela napasnya, berharap dapat mengurangi beban yang ada pada dirinya.

"Gue tau seberapa keras perjuangan lo buat nggapai impian lo. Dan jangan bikin gue jahat karena tega ngebuat lo ngelepasin impian lo itu. Jadi," Alsa menarik napas lalu menghembuskannya, "Lo harus kejar impian lo. Walaupun harus pergi dari sini," ucap Alsa final.

Raut wajah Israel masih terlihat tak yakin dengan keputusan yang baru saja diambil Alsa.

"Lo yakin?" tanya Israel memberi kesempatan pada Alsa untuk mengubah keputusannya.

Alsa mengangguk mantap. Dan entah kenapa, Israel sedikit sedih dengan keputusan Alsa itu. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia berharap Alsa menahannya disini. Untuk tetap disini bersama gadis itu.

"Gue pengen lo tau, sejauh apapun gue, kita berdua tetep berada di langit yang sama. Dan lo akan selalu ada di pikiran maupun hati gue," jelas Israel.

Kalimat ambigu yang di ucapkan Israel membuat Alsa sedih sekaligus bahagia. Namun ada satu hal yang mengganjal dari kalimat yang berarti banyak itu. Apakah arti dirinya bagi seorang Israel?

Ia tak mengerti hubungan mereka sekarang ini. Tetapi ia lebih suka seperti ini daripada tahu jika seandainya hanya sekedar dianggap sebagai teman atau seorang adik. Jadi mungkin lebih baik seperti ini saja, tanpa ada kejelasan apapun.

Salah satu tangan Israel menangkup wajah Alsa lalu ia mendekatkan dirinya pada gadis dirty blonde itu.

Wajah Israel hanya berjarak 5 cm darinya. Membuatnya menutup kedua matanya, menunggu apa yang akan terjadi.

Dahi dan hidung mereka berdua pun saling menempel. Jantung Alsa berpacu cepat dan sang empunya menikmatinya. Berharap jika waktu dapat berhenti saat ini untuk menikmati kebersamaannya dengan Israel.

Perlahan Alsa membuka matanya dan pada saat itu juga ia terpaku pada kedua manik mata biru laut yang menenangkan milik Israel sedari tadi menatapnya.

"Gue pengen lo janji sama gue. Kita bakal saling ketemu minimal sebulan sekali. Dan lo harus bilang ke gue kalo lo lagi sedih atau butuh gue. Gue bakal langsung nyamperin lo kapanpun dan dimanapun itu," lirih Israel meminta Alsa untuk berjanji pada dirinya.

Degup jantung Alsa semakin cepat. Rasa hangat menjalar diseluruh tubuhnya akibat perlakuan manis Israel kepadanya.

"Ya. Gue janji," jawab Alsa tak kalah lirih.

Israel pun memutuskan kontak mata mereka dan mengecup dahi Alsa lembut sebelum keluar dari kamar tanpa sepatah katapun.

XxX

Yuhuu~ what do you think 'bout this chapter? Share your opinion okay!

Thanchu for you guys who wanna wait for this weird story. I love you so much!

See ya next Friday!

Xoxo,

19/03/17

Los(t) AngelesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang