Chapter 11 : Changed

99 9 0
                                        

-Sometimes, promises are mean to be broke-

Playlist :
Richard Marx - Right Here Waiting
5 Seconds of Summer - Beside You
Shawn Mendes - Like This
Shawn Mendes - Don't be a Fool

○●○

Sudah 4 bulan Alsa tak merasakan hadirnya Israel di sini.

Namun, sekitar satu bulan ini Alsa mengurung dirinya di kamar. Melamun sembari menatap kalung dan pemberian Israel padanya. Terkadang ia menonton vlog milik Jeremy mengenai detik-detik kepergian Israel yang masih membekas dalam relung hatinya.

Perasaan bahagia masih terasa sangat jelas ketika Israel memanggilnya 'Alsa kusayang'. Seakan ia diterbangkan menuju langit yang bertabur bintang.

Namun, ia juga masih teringat ketika sentuhan jemari Israel yang perlahan melepaskan diri darinya. Meninggalkannya. Menjatuhkannya ke dasar lautan terdalam.

Hingga pikirannya telah menyerah dan menyuruh hatinya untuk merelakan kepergiannya. Tetapi tak bisa.

Bulan pertama setelah kepergian Israel, semua masih tampak baik-baik saja. Bahkan mungkin keduanya hampir setiap hari ber-video call ria untuk melepas rindu. Pada akhir bulan, Alsa mengunjunginya ke New York. Tak lupa Israel memberi kenang-kenangan sebuah gelang berwarna silver bertuliskan New York untuk Alsa.

Bulan kedua, sudah sedikit berbeda. Mereka hanya bertukar kabar melalui whatsapp ataupun iMessage. Dan pada akhir bulan, gantian Israel yang pulang ke rumah.

Bulan ketiga frekuensi mereka dalam bertukar kabar berkurang drastis. Mungkin dapat dihitung jari. Pada bulan ini, Alsa yang kembali mengunjungi Israel.

Bulan ke empat, Israel seperti ditelan bumi. Tak ada kabar sama sekali.

Dan hal ini lah yang membuat Alsa bersedih hati.

Jeremy yang biasanya selalu berhasil untuk membuatnya tertawa, seakan telah hilang kemampuannya.

Mike yang biasanya dapat membuatnya tersadar dengan segala ceramah dan nasihat yang dilontarkannya seakan tak memiliki pengaruh apapun lagi terhadap Alsa.

Dan sekarang tiba giliran Ale.

Ketukan pintu 3 kali membuyarkan lamunan Alsa. Belum ia izinkan, Ale sudah masuk ke dalam terlebih dahulu dengan membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat semangkuk sereal dan segelas air putih.

Ale mendudukan dirinya di pinggir ranjang. "Alsa kenapa?" tanya Ale lembut.

Alsa hanya menggelengkan kepalanya.

"Mau cerita sama gue?" tanya Ale. Ia tahu Alsa butuh seseorang untuk berbagi. Jeremy bukanlah tipe pendengar yang baik. Mike? Ia pendengar yang baik tetapi mungkin Alsa tak leluasa jika bercerita padanya.

Hanya Ale satu-satunya pendengar yang baik bagi Alsa.

Alsa pun menganggukan kepalanya. Ia lelah memikirkan hal-hal tersebut sendirian. Ia butuh orang lain untuk berbagi.

"Tapi lo makan dulu ya? Lo akhir-akhir ini jarang makan. Liat tuh badan lo. Udah kering, jadi tambah kering," ejek Ale.

Ale pun menyuapkan sereal kepada Alsa. Setelah beberapa suapan, Alsa tak mau membuka mulutnya lagi. Ale tak mau memaksanya. Setidaknya perutnya sudah sedikit terisi.

"Israel ya?" tanya Ale mempersilahkan Alsa untuk bercerita lebih lanjut.

Akhirnya Alsa bercerita dari awal hingga apa yang sekarang ia rasakan. Dari ia bahagia hingga sedih seperti ini.

Los(t) AngelesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang