-The hardest part of losing someone, isn't having to say goodbye, but rather learning to live without them-
Playlist : 5 Seconds of Summer - Wherever You Are
○●○
Sungguh terasa aneh. Tak ada satupun dari mereka yang angkat bicara. Tak biasanya seperti ini. Tak hanya Jeremy dan Mike yang merasa seperti ini. Ale yang menjadi saksi 'cinta' mereka berdua pun terheran-heran dengan sikap Israel maupun Alsa yang tiba-tiba menjadi pendiam.
"Lo sama Israel ada apa sih?" bisik Ale yang berjalan dengan Alsa dibelakang. Israel lebih dahulu jalan didepannya bersama Jeremy dan Mike.
Alsa menggidikan bahunya. "Gak tau. Dia aneh tiba-tiba jadi begini."
"Aneh deh lo berdua. Padahal tadi malem--"
"Ssssttt! Gausah dibahas. Malu gue," ucap Alsa memerintah Ale untuk diam.
Dahi Ale berkerut--bingung. "Lah seharusnya lo seneng dong?"
"Gak kayak begitu caranya!" pekik Alsa menghentakan kakinya marah.
Gadis itu berjalan lebih cepat, meninggalkan Ale sendirian.
'Yakali gue seneng kalo dia tidur sama gue gapake baju begitu. Gue gak mau secepet itu!' batin Alsa menggerutu.
.
.
.
Suara pemberitahuan pesawat yang akan ditumpangi Israel akan berangkat sebentar lagi.
'Sudah saatnya melepas kepergian Israel', batin Alsa menghela pasrah.
Semuanya berpelukan dengan Israel sebagai bentuk salam perpisahan. Tak terkecuali Alsa.
Tiba gilirannya untuk menyampaikan salam perpisahan pada Israel. Orang yang selalu setia menemaninya sejak kecil.
Jeremy sibuk merekam detik-detik kepergian Israel untuk keperluan vlog di akun YouTube terbarunya. Sedangkan Mike dan Ale berbincang-bincang sendiri, entah membahas apa.
Alsa pun masih terdiam. Belum berucap apapun pada sosok dihadapannya sekarang.
"El.."
"Sa.."
Panggil keduanya bersamaan. Israel mempersilahkan Alsa berbicara terlebih dahulu.
"Kenapa lo jadi pendiem gini sih? Lo marah ya sama gue?" tanya Alsa memastikan.
Israel yang perasaannya masih kalut akibat cintanya serasa ditolak oleh Alsa pun setengah tersenyum. "Gak. Kan lo gak salah apa-apa ngapain gue marah."
Alsa mengrinyitkan dahinya--tak percaya. Namun ia tak mau membahasnya lebih lanjut. "Lo mau ngomong apa?"
Israel mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantung celananya. Dibukakannya kotak kecil tersebut. Yang ternyata berisikan kalung platina dengan liontin bergambarkan Elsa, salah satu karakter Disney.
Alsa terkekeh geli. "Apaan sih, El. Lo kira gue masih anak-anak apa?" ucapnya saat kalung itu dipasangkan oleh Israel.
"Umur lo emang udah bukan anak-anak lagi. Tapi tingkah lo masih kayak anak-anak. Dasar cengeng, ngambekan lagi," ucap Israel bercanda namun berdasarkan kenyataan.
Tak hanya diam menerima ejekan Israel, Alsa mencubit perut cowok tersebut. "Ih, nyebelin!"
"Bukan gitu. Gue beliin ini karena namanya Elsa. Israel dan Alsa. Secara tersirat liontin ini merupakan nama singkatan kita berdua," ucapnya menjelaskan maksud dari liontin bergambarkan Elsa.
Tak ada tanggapan apapun dari Alsa. Karena ia tahu jika saat ini Israel membawanya terbang tinggi diangkasa, sebentar lagi Israel juga akan menghempaskannya kedasar lautan yang terdalam.
"Alsa suka?" tanya Israel memastikan karena tak mendapat tanggapan apapun dari gadis dihadapannya. Alsa hanya menganggukan kepalanya pelan dengan raut wajah yang tak menunjukan adanya rasa suka terhadap pemberian Israel.
Israel menghembuskan napasnya. "Yaudah. Gue pergi--"
Ucapan Israel terputus karena secara tiba-tiba Alsa memeluknya erat.
"Gue suka...El," lirih Alsa yang akhirnya menumpahkan kesedihannya atas kepergian Israel.
Sebuah kalimat ambigu dilontarkan Alsa. Namun Israel pun menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud suka adalah hadiahnya, bukan dirinya.
Israel tersenyum kecut menyadari maksud dari perkataan Alsa. Ia mengusap punggung Alsa sejenak, sebelum melepaskan tautannya. Kedua ibu jarinya menghapus jejak air mata di pipi Alsa. "Udah. Gue gak suka liat lo nangis."
Israel menggenggam kedua tangan Alsa. "Jangan pernah sedih selama gue gak ada disamping lo, oke?" pinta Israel yang mendapat anggukan dari Alsa.
"Yaudah gue pergi dulu. Nanti kita ketemu lagi. Jaga diri ya Alsa kusayang," senyum Israel mengembang menghiasi wajahnya.
Perlahan tautan tangan mereka merenggang. "Sukses ya, El."
Israel mengangguk. Dan tautan tangan mereka pun terlepas.
'Selamat tinggal cinta pertama gue', batin mereka bersamaan.
XxX
Friday! Mulai chapter ini ceritanya mulai keliatan intinya. So, tunggu kelanjutannya ya!
Xoxo,
7/04/2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Los(t) Angeles
Romance[COMPLETED] ▪Judul awal : Two Sides▪ ▪Seri pertama dari America Series▪ Seorang gadis tinggal bersama empat pemuda yang terkenal dan tampan?! Awalnya semua baik-baik saja hingga salah satu dari mereka memutuskan untuk pergi. Dan dengan seiring berj...
