Chapter 5 : The Message

130 12 0
                                        

-True friends are never apart. Maybe in distance but never in the heart-

○●○

Disetiap kehidupan pasti ada pertemuan. Dan disetiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Malam pun tiba. Israel mengumpulkan para penghuni rumah dibantu oleh Alsa.

Raut wajah bingung nampak jelas di wajah mereka.

"Ada apa sih? Formal banget sampe harus kumpul semua segala," gerutu Ale yang langsung mendapat jitakan dari Alsa, menyuruhnya diam.

Mike duduk di bagian paling pojok sofa, meletakan tangannya dibahu sofa. Disamping Mike terdapat Ale yang sedang merangkul Alsa yang memeluk kedua lututnya sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Ale. Jeremy duduk disebelah Alsa dengan kedua kakinya diluruskan ke atas meja.

Sedangkan Israel berdiri di depan mereka semua, bersiap menjelaskan sesuatu yang teramat penting bagi kehidupannya mendatang.

Helaan napas keluar dari mulut Israel. "Gue ngumpulin kalian semua karena ada sesuatu hal penting yang harus gue sampein."

"Besok gue pergi ke New York," jelas Israel.

Sedetik.

Dua detik.

Tak ada yang angkat bicara. Hingga akhirnya Jeremy pun menimpali, "gue pergi ke Florida aja ga seformal ini deh, El."

Yang lain pun ikut menganggukan kepalanya, setuju dengan pernyataan Jeremy.

Israel memejamkan kedua matanya sembari memijit keningnya. "Bukan gitu maksud gue. Gue mau pindah ke New York," jelas Israel.

"HAAHH?!" pekik mereka semua bersamaan kecuali Alsa. Gadis itu tetap pada posisinya, menyandarkan dirinya pada Ale.

"Ngapain lo pake pindah ke New York? Emang gak ada job model disini?" tanya Ale cukup terkejut dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Israel.

Dahi Mike berkerut, tak suka dengan keputusan Israel. "Kenapa lo baru ngasih tau kita sekarang? Pasti rencana lo udah dari lama kan?" ucap Mike yang menambah daftar pertanyaan untuk Israel.

"Mending lo tetep disini aja. Kalo job model di New York banyak ya lo terbang dari sini-New York aja terus nanti balik lagi. Gausah pake pindah segala," saran Jeremy.

Ucapan mereka tak berpengaruh apapun bagi Israel karena telah melimpahkan semua keputusannya pada Alsa.

"Di sana gue bakal dapet job banyak dan proyek besar. Lebih gampang disana. Kalo gue bolak-balik sini-New York susah. Dan masalah gue baru beritau sekarang, itu gara-gara gue ga siap beritau kalian. Bahkan sekarang pun gue berat nyampein ini ke kalian," jelas Israel yang menjawab pertanyaan mereka semua.

"Karena ini hari terakhir, gue mau nyampein kesan dan pesan gue ke kalian," ujar Israel. Ia pun mengeluarkan beberapa kertas yang dilipat dari sakunya.

"Mike. Lo orang terakhir yang masuk di rumah ini. Mungkin waktu itu gue udah 10 tahun dan lo masih 7 tahun. Lo adalah orang termudah yang gue ajak kenalan dibanding Ale dan Jeremy. Lo selalu jadi penengah kalo diantara kita ada yang berantem. Gue salut sama lo karena lo yang paling dewasa disini, bahkan ngelebihi gue walaupun gue lebih tua dari lo.

"Gue sebenernya tau lo nyari orang tua kandung lo diem-diem, dan udah nemuin mereka juga. Tapi gue gak tau kenapa lo gak pernah nyoba ngomong ke mereka. Pesen gue jangan nyimpen dendam ke mereka. Gimanapun juga mereka itu orang tua lo. Lo juga gak tau kan alesan mereka ngebuang lo. Coba pahami situasi mereka walaupun sulit."

Israel berdehem sejenak, "Dan satu lagi. Gue tau lo sibuk banget akhir-akhir ini. Tapi gue minta lo luangin waktu lo buat nemenin Alsa. Tanpa lo tahu dia kesepian di rumah sendirian. Oh iya, semoga lo bisa menggapai apa yang lo pengenin. Sukses terus ya chanel YouTube lo."

Mike yang mendengarkan kesan dan pesan yang dikatakan oleh Israel pun tak dapat berucap apapun selain memeluk orang yang telah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri ini.

"Sukses terus ya, El," kata Mike lalu melepaskan pelukannya dan duduk kembali ke posisi semula.

Israel mengembuskan napasnya dan membuka lipatan kertas yang kedua.

"Jeremy. Lo kapan normalnya? Tapi walaupun lo abnormal, lo tetep brother ter-gokil gue. Lo itu seru plus gila. Kalo gue cewe mungkin gue bakal suka sama lo--"

"Ah, so sweet," ucap Jeremy memotong perkataan Israel. Jeremy pun mendapat olok-olokan dari yang lain karena telah menghancurkan suasana.

"Lo gak bisa serius dikit?" gerutu Israel.

"Tapi lo tetep cinta kan ama gue," goda Jeremy membuat yang lain memutar bola matanya jijik.

"Najis. Gue masih normal. Ini mau gue lanjutin gak? Ngomong mulu lo," ucap Israel yang langsung membungkam Jeremy.

"Pesen gue, tetep jadi diri lo sendiri yang selalu bikin orang disekitar lo bahagia walaupun lo harus jadi kayak orang gila. Lo juga harus nemenin Alsa, jangan hunting foto mulu. Kalo perlu hunting fotonya sama Alsa sekalian. Jagain dia, oke? Gue tau walaupun lo begitu, rasa sayang lo ke Alsa itu lebih besar daripada ke siapapun."

Tak seperti Mike, Jeremy hanya mengulas senyum kecil sebagai tanggapannya atas pernyataan Israel. Israel pun menyunggingkan senyum kecil untuk membalas Jeremy.

Kali ini giliran Ale.

"Ale. Termuda diantara yang lain. Paling keras kepala dan juga sok cuek padahal peduli. Banyak orang yang ngira lo itu adek gue beneran padahal kita ga ada hubungan darah sama sekali. Tapi walaupun gak kandung, lo tetep gue anggep layaknya adek gue sendiri.

"Gue tau kok lo itu pengen jadi model kayak gue. Kalo lo dah lulus, gue bakal ngajak lo masuk ke agency gue. Tapi sebelum itu, lo bisa latihan sama Jeremy. Selebgram sama model ga beda jauh, sama-sama pose pas di foto."

"Jayus," komentar Ale yang kembali menerima jitakan dari Alsa. "Emang gak ngelawak, bego."

Israel berhenti sejenak. "Pesen gue, kejar impian lo setinggi mungkin. Lo masih muda dan bisa ngelakuin apapun yang lo pengenin. Diantara lo sama duo cumi itu, yang paling deket sama Alsa itu elo. Alsa pasti sering curhat kan sama lo? Gue pengen lo selalu jadi pendengar yang baik buat Alsa. Dan harus nurut sama apa yang dikatain Alsa karena itu pasti baik buat diri lo. Sukses ya, Al."

Ale pun menyalami Israel, "Lo juga, Bro."

Kertas terakhir. Dan paling spesial bagi Israel.

"Terakhir, untuk Alsa."

XxX

It's Friday everybody~

Gak ada yang nunggu cerita gue ya? :(

Cerita gue ngebosenin ya? Sorry, cuz gue pengen mencoba cerita yang berbeda dari yang lain dan gue dah sebisa mungkin menuangkannya tapi sepertinya belom maksimal. Gue emang gak pandai berkata-kata. I really am sorry guys:(

Walaupun begitu, gue tetep bakal lanjutin cerita ini sampe final kok, tenang aja. Bahkan gue lagi proses bikin sequelnya.. eh gaada yang minta ya? :v

Gue gak tau kenapa, ide-ide gue lancar waktu bikin cerita ini. Dan gue masih pengen aja ngelanjutin ceritanya. Jadi mungkin akan ada sequelnya? I don't know. Kalo bisa nyelesein ya berarti ada kelanjutannya, kalo ga sanggup ya cuma satu buku ini aja :D

See ya on Sunday!

24/03/17

Los(t) AngelesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang