Perjanjian dan Kesepakatan (1)

1.5K 121 1
                                    

Brian merana. Ia tak menemukan satupun makanan yang bisa ia makan di minggu pagi ini. Padahal ia akan bating tulang hingga malam menjelang di kafe tempatnya bekerja. Maka ia haruslah mengisi energi dan membuat dirinya siap untuk bertempur. Demi kehidupannya.

"Apa aku harus keluar mencari sarapan?" Brian menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Kemudian mengangguk. Perlahan, langkah kakinya menuju kamar hendak mengambil jaketnya. Pagi yang masih menunjukkan pukul enam sangat dingin. Memang, minggu pagi yang berkabut lebih dingin dari biasanya. Dan tampaknya cahaya matahari sedikit terlambat menyinari bumi.

Setelah mengunci dengan tepat rumahnya, Brian berjalan menuju salah satu toko roti yang tak jauh dari rumahnya. Ia harus mengunci dengan benar rumahnya. Bukan karena takut akan pencuri yang masuk. Bukan. Yang harus ia hindari adalah kaum penghisap darah yang bisa saja menyelinap masuk dan menunggu waktu yang tepat membunuh dirinya. Lagi pula apa yang diambil seorang pencuri di rumahnya. Tidak ada. Rumah kecil yang hanya memiliki satu ruang tengah, satu kamar dan satu dapur dengan peralatan yang seadanya itu tak menarik di mata pencuri. Ya, terlalu rendahan.

Minggu pagi. Jalan yang dingin masih terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Dan dapat dipastikan tidak semua diantara mereka adalah manusia. Beberapa vampir seperti pulang dari dunia malamnya. Entah apa yang dilakukan oleh mereka.

Brian berhenti di perbelokan gang. Ia ragu apakah akan melanjutkan niatnya melintasi gang yang sepi dan gelap karena tidak sinar lampu disana. Bria berpikir keras. Jika ia tidak melalui jalan ini maka jarak yang ditempuhnya lebih jauh. Toko roti yang biasanya ia datangi pagi ini tutup. Ia harus bergerak ke toko lain. "Apa aku harus masuk?"bimbang. Brian memejamkan mata sebentar. "Baiklah!" Dengan hati-hati, Brian melangkah masuk. Ia juga setengah berlari untuk melintasi gang sepi itu. Namun, baru dua pertiga gang yang dilalui Brian, sesosok bayangan hitam menghadang. Detik berikutnya bayangan itu menghantam tubuh Brian.

"Kau!" Tangan berkuku tajam mencengkram leher Brian. Darah segar menetes begitu saja karena robek oleh beberapa kuku tajam yang ternyata dimiliki oleh seorang wanita.

Brian meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman itu. "Sail! Minggir kau!" makinya sekuat tenaga. Kedua tangannya berusaha menjauhkan tangan sang wanita.

"Harum darahmu membuatku tergoda." Si Wanita menjilat bibirnya. Terlihat dua taring yang tajam mencuat.

"Sialan!" Brian mengangkat kedua kakinya dan menendang tubuh wanita yang berusaha menghisap darahnya. Usaha Brian berhasil. Sang wanita dengan panjang hitam pendek terjengkang dan menghantam dinding pagar.

Hanya jelang beberapa detik. Sedikit waktu bagi Brian bernafas lega dan berusaha melarikan diri. Ketika si laki-laki sial itu berlari sekencangnya cengkraman berikutnya dari sang wanita membuat Brian menghantam tembok. Seakan si wanita ingin balas dendam.

"Kau mau lari kemana sayang?"tanya si wanita dengan suara yang mengerikan. Sekujur tubuh Brian merinding.

"Kami adalah penguasa! Bangsawan yang harusnya kalian puja. Kalian! Harusnya bersujud memohon kepada kami!" si wanita tertawa bahagia.

Manik biru Brian membesar. Makhluk yang membawa dosa dan kebaikan akan memiliki kekuatan yang setara dengan kaum bangsawan. Tiba-tiba ia ingat akan kalimat yang tertulis di bukunya. Bangsawan? Brian menelaah kembali apa itu makna tersembunyi dari tulisan tangan itu. Brian mendengus. "Begitu rupanya! Jadi kalian adalah bangsawan? Aku baru tahu bangsawan bersikap seperti kalian..."

"Diam!!!" Secepat kilat si wanita telah berada di hadapan Brian. Ia kembali mencekik Brian.

Sesak yang tiada terkira. Brian merasakan sesak di dadanya. Cengkraman si wanita terlalu kuat. Apa aku akan mati disini? Pandangan Brian mulai buram. Kesadarannya mulai hilang. Ah! Rupanya aku akan berakhir disini!

"Sialan!" Suara merdu yang menggema. Dalam gelap Brian dapat merasakan kehadiran seseorang. Ia mendengar langkah kaki yang dihantam kuat ke tanah. Dan juga, entah bagaimana ia tidak merasakan sakit di lehernya.

"Kau berani melakukan hal ini?"hardik seseorang. Brian terperanjat. Kesadarannya mulai kembali.

Brian membuka mata secepat mungkin. Benar saja. Lucy. Si gadis menawan yang bersurai abu keunguan berdiri tak jauh darinya. Beberapa meter dari Lucy, tampak si wanita yang berusaha menyerang Brian terkapar dengan mulut penuh darah berwarna merah kehitaman. Brian memandang jijik darah tersebut.

"Maafkan...aku..."rintih si wanita.

"Tiada maaf untukmu yang telah melanggar aturan. Kamu tak perlu disidang. Aku akan menghukummu. Langsung. Disini!"lanjut Lucy. Lucy merentangkan tangannya. Ia menutup mata. Perlahan angin tipis berputar di sekitar tubuhnya. Membuat rambut panjangnya bergerak-gerak. Seketika Lucy membuka mata. Mata merah menyala. Seakan ada kobaran api di sana. Mengarah pada si wanita vampir.

"Tidakk!!! HENTIKANN!!!"raungan si wanita menggema. Bersamaan dengan itu tubuh si wanita hancur menjadi debu. Menghilang dari dunia ini.

Manik Lucy kembali merah seperti sebelumnya. Manik normalnya memang merah. Namun tak semenakutkan ketika nafsu vampirnya bangkit. Salah satunya ketika membunuh si wanita vampir tadi. Ia mendesah. Menunduk dalam. Berdiri masih membelakangi Brian yang terduduk sambil bersandar.

Hening. Suasana menjadi hening. Sesaat waktu seperti berhenti. Baik Brian maupun Lucy, keduanya sama-sama terdiam. Tak ada dari mereka yang terlihat membuka mulut. Bersedia memulai perbincangan.

Lucy. Berdiri dengan kepala tertunduk membelakangi Brian. Masih menghadap pada tempat wanita yang menghilang menjadi debu tadi.

Brian juga masih duduk bersandar pada dinding. Ia tidak ada niat untuk berdiri. Hanya matanya mengarah pada punggung Lucy. Tiada yang tahu arti tatapan Brian.

Akhirnya salah satu dari mereka mencairkan suasana. Namun bukan dengan pembicaraan. Melainkan, Lucy, berjalan pergi meninggalkan Brian. Ia menghilang. Entah kemana.

Brian perlahan berdiri. Ia berpegangan pada dinding. Kepalanya terasa sedikit pusing. Ia kembali melanjutkan perlanan mencari toko roti untuk sarapannya pagi ini.

*___*

Brian datang ke sekolah. Anehnya, pagi senin cerah tersebut, yang berkebalikan dengan minggu yang mendung dan berarti bagi Brian, cukup tenang. Biasanya keributan yang amat sangat terjadi di gerbang sekolah. Apa lagi kalau bukan karena kedatangan sang putri. Brian mengedarkan pandangan. Tak cukup banyak siswa yang berada di gerbang sekolah. Tak seperti sebelumnya yang hampis seperti rombongan yang menunggu presiden mereka datang.

"Apa yang terjadi di sini?"ucap Brian sambil melangkahkan kaki menuju kelas.

Seperti biasa, Brian mengambil posisinya lagi. Membuka tas, mengeluarkan buku tebal dan membacanya. Dan juga, seperti hari yang lainnya. Brian kembali mendengar beberapa siswa yang bergosip tentang si nona muda.

"Aku tidak menyangka kalau nona Lucy akan datang sepagi tadi..."

"Iya. Dia bahkan menjadi orang pertama yang datang ke sekolah..."

Brian mencuri dengar pembicaraan mereka. "Oh! Jadi seperti itu. Dia datang lebih awal rupanya."ucap Brian dalam hati. Ia membalik halaman bukunya. Lalu pikirannya melayang entah kemana. Bangsawan! Bangsawan! Dalam hati Brian terus mengulang kata itu.

"Aku rasa tiada salahnya."Brian tersenyum pasti danmenutup bukunya.


#Note:

gimana pembaca tersayang? seru nggak sih ceritanya? kali ini Navi updatenya lambat cos lagi sibuk sama tugas akhir di kampus nih!

doain ya, habis ini eksis lagi dan nggak pasif di dunia orange ini.

biar Navi bisa update cerita yang menarik lainnya

^^

Queen Of Midnight (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang