11 : Koperasi

385 78 9
                                        

Terdengar sangat aneh memang jika Ichbal gak merasakan sesuatu yang berbeda terjadi di antara saudara sepupunya dan juga pacarnya sendiri. Ini bukan kali pertama ataupun kali kedua Ichbal tau atau bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Seperti siang ini. Biasanya di jam istirahat, Tania akan kirim pesan kepada Ichbal kalo dia nunggu di kantin. Tapi siang ini, Tania gak kirim pesan apapun ke Ichbal sekedar buat ngasih tau kalo dia udah di kantin. Tania gak punya sahabat deket, sepengetahuan Ichbal. Sahabat deketnya Tania, sebagian besar kakak kelas yang sekarang udah lulus dan ada di universitas ternama. Ichbal satu-satunya orang yang bakal Tania cari saat jam istirahat. Tapi itu dulu, sebelum Andika Mahendra Putra datang dan mengubah pandangan itu.

"Bakso lo asin gak, sih? Punya gue, kok, asin banget, ya?" Suara Dika menyadarkan Ichbal dari pemikirannya.

Ichbal menatap sepupunya itu yang tengah menatap cewek yang duduk di sampingnya. Tania ngangkat satu alis sebelum dengan sendok miliknya, mencoba kuah bakso punya Dika. Mencoba menerka rasa apa yang timbul di lidahnya.

"Gak asin, deh. Biasa aja. Lidah lo bermasalah kali." Tania berkomentar.

Dika mengenyit. "Seriusan asin, Melo. Kayaknya abangnya mau kawin lagi makanya, bikin bakso gue keasinan."

Tania tertawa kecil. "Kawin? Nikah kali! Ah, udahlah. Lagian gak asin. Biasa aja kata gue, Dik."

Ichbal hanya dapat diam memperhatikan keakraban Tania dan Dika. Bahkan Ichbal dengan jelas mendengar Dika memanggil ceweknya dengan sebutan 'Melo' yang merupakan singkatan dari nama pertamanya, Melodi. Ichbal bahkan sering diomelin sama Tania kalo manggil dia dengan sebutan Imel karena dia emang gak suka kalo ada orang yang manggil nama dia dengan nama pertamanya. Tapi kenapa dia biasa aja pas Dika panggil dia 'Melo'?

"Eh, lo pulang sekolah ada les gak? Nyobain es krim goreng, yuk? Di Lele Crispy ada." Dika yang terlihat enggan menghabiskan bakso yang menurutnya itu asin itu bertanya kepada Tania yang masih sibuk menikmati baksonya.

Tania menghabiskan dulu bakso di mulutnya. "Gue les sampe jam setengah lima."

"Ya, udah gue jemput di tempat les lo jam setengah lima."

Mata Ichbal melotot mendengar ucapan Dika. Seriusan, ya, Ichbal aja gak pernah anter-jemput Tania kalo dia mau les. Ichbal juga gak pernah ngajak Tania jalan kalo ceweknya itu ada jadwal les karena Tania pasti nolak dan bilang kalo dia capek. Intinya, Tania banyak penolakan kalo sama Ichbal.

"Iya. Lo line gue aja kalo udah nyampe."

Mustahil kalo Ichbal gak mikir macem-macem setelah mendengar percakapan Tania dan Dika ini. Tania ngeiyain ajakan Dika, tapi gak pernah ngeiyain ajakan Ichbal. Sebenarnya, yang cowoknya Tania itu Ichbal atau Dika? Kenapa Ichbal yang ngerasa jadi obat nyamuk di sini sekarang karena dua manusia itu seakan lupa akan keberadaannya?

Dika baru mau buka mulut saat matanya bertemu dengan mata tajam Ichbal dan memutuskan untuk bungkam. Ichbal beralih menatap Tania dan dengan nada tegas berkata, "Kamu beli es krim gorengnya sama aku aja, ya? Aku yang traktir. Aku yang jemput kamu di tempat les kamu entar."

Tania menoleh dan mengernyit menatap Ichbal. "Bukannya gue gak mau jalan sama lo atau apapun itu, tapi lo tau sendiri kalo gue benci cowok yang ngaret. Lo pasti ngaret jemput guenya. Terus pas nyampe, dandanan lo suka nyeleneh. Bau rokok lagi. Makanya gue males boncengan sama lo, kecuali kalo udah terpaksa banget."

Ichbal memicingkan mata. "Kamu kenapa, sih? Kamu mau diantar jemput sama Dika, tapi enggak sama aku yang berstatus sebagai pacar kamu sendiri. Yang pacar kamu itu, aku atau Dika?"

Tania terlonjak mendengar pertanyaan Ichbal. Cewek itu menatap Ichbal tajam sebelum berkata, "Harusnya lo mikir. Gue itu sering nolak jalan sama lo itu karena lo-nya sendiri yang bego dan gak tau apa yang salah sama diri lo sendiri."

RebutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang