Liliane berkali-kali melongokkan kepalanya ke ujung jalan. Setiap mendengar suara kuda yg mendekat atau derit roda kereta, Liliane selalu terkesiap. Dan setiap seorang pria menyapanya untuk membeli bunga, Liliane selalu terkaget untuk kemudian kecewa karena dia bukan Earl of Hamsford.
Ya, beberapa hari Lord William Huntley tidak membeli bunganya. Kemana gerangan bangsawan baik hati itu? Liliane berdoa agar pria itu baik-baik saja.
"Lagi-lagi kau murung, Nak." Mrs. Emma menegur Liliane yg sedang melamun di tepi jalan.
"Mrs. Emma...kau mengagetkanku. Hey...hari ini kau ikut mamamu Ben?"
"Ya...aku mau membantu mama menjual bunga." celoteh Ben yg masih berusia 4 tahun.
"Kakaknya sudah mendapat pekerjaan di toko roti jadi tidak bisa menjaga Ben."
"Syukurlah jika Kristy sudah mendapat pekerjaan. Dia bisa meringankan bebanmu."
Mrs. Emma Smith hanya hidup bertiga dengan kedua anaknya Kristy dan Ben. Kristy baru berumur 12 tahun saat Ayahnya meninggal. Sedangkan Ben masih dalam kandungan. Sejak saat itu Mrs. Emma berjuang untuk menghidupi keluarganya.
"Sungguh aku beruntung memiliki Kristy. Kuharap kelak dia akan menemukan lelaki baik untuk menjadi suaminya."
"Kristy masih 16 tahun, biarkan dia menikmati masa mudanya."
"Kau sendiri umurmu sudah 21 tahun. Kapan kau akan menikah?" Liliane akan sangat kesal jika diingatkan tentang umur dan pernikahan.
"Lihatlah diriku Mrs. Emma, aku hanya seorang penjual bunga jalanan. Yang kupunya hanya gaun-gaun kumal ini. Aku juga tidak pandai merias diri. Tak akan ada laki-laki yang mau denganku."
Mrs. Emma mendesah. "Sebenarnya kau sangat cantik, Nak."
Mrs. Emma mengeluarkan sebuah cermin kecil dari keranjang bunganya, lalu disodorkan cermin itu pada Liliane.
"Lihatlah mata hazzel itu yg selalu berbinar, pipi yg selalu merona, hidung yg mancung dan bibir mungilmu yang semerah cherry. Lalu rambut hitam yg berkilau ini, akan terlihat rapi jika kau menyisir dan menatanya seperti ini." Mrs. Emma dengan cekatan menyisir dan mengepang rambut panjang Liliane. Kemudian menyatukan kepangan itu menjadi sanggul sederhana dan sebagai sentuhan akhir Mrs. Emma menyematkan banyak bunga baby's breath.

"Lehermu yang jenjang akan tampak lebih indah jika rambutmu ditata seperti ini. Nah, Sekarang kau sudah secantik para Lady."
"Terima kasih, ini indah! Mrs. Emma, kau sungguh ahli."
"Tentu saja. Sewaktu muda aku pernah menjadi...bagian dari ton."
Liliane mengernyit hendak menanyakan maksud perkataan Mrs. Emma barusan tapi wanita yang sudah dianggap seperti Ibunya sendiri itu memotong dengan sebuah pertanyaan.
"Oh iya Nak, mana Lord tampan itu, berhari-hari tak kulihat dia."
"Entahlah, ma'am." Liliane kembali gusar.
§§§
Sebenarnya William enggan pergi ke pesta earl of Courtland. Tentu saja karena Ia masih sakit hati akibat penolakan Lady Kathrine. Tapi Will sangat penasaran dengan sosok gentleman beruntung yg menjadi tunangan Lady Kathrine. Dia bisa saja tidak menghadiri pesta ini untuk menghindari Kathrine lalu menunggu dengan tenang di mansionnya yang nyaman sampai esok pagi berita pertunangan Lady of Courtland dimuat di surat kabar. Sayang itu bukanlah gaya Will. Dia akan tidak sabar jika harus menunggu tanpa berbuat apa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Be His Countess (END)
Historical Fiction#7 in Historical Fiction (9.11.17) #4 in Historical Fiction (17.11.17) Liliane Green seorang gadis penjual bunga. Pertemuannya dengan William Huntley, Earl of Hamsford awalnya biasa saja layaknya seorang pembeli dan pedagang biasa. Seringnya sang ea...
