#7 in Historical Fiction (9.11.17)
#4 in Historical Fiction (17.11.17)
Liliane Green seorang gadis penjual bunga. Pertemuannya dengan William Huntley, Earl of Hamsford awalnya biasa saja layaknya seorang pembeli dan pedagang biasa. Seringnya sang ea...
Lily duduk, ia menarik selimutnya sampai sebatas ketiak untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang telanjang akibat pergumulannya semalam dengan sang suami, lalu ia menggosok-gosok matanya untuk menghilangkan rasa pedas disana.
Charlotte menyibak selambu berwarna coklat muda, seketika cahaya mentari masuk menusuk pupil hazel Liliane.
"Aku terjaga hampir setengah malam." memikirkan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya sebagai istri William Huntley.
"Apakah ada yang mengganggu pikiran anda?"
"Ya, beberapa hal. Sudahlah, jangan kau pikirkan."
"Bagaimana jika saya siapkan air hangat, mungkin berendam akan membuat anda lebih merasa nyaman?"
"Usulmu sangat menggoda Charlotte, baiklah, tolong siapkan."
"Baik my lady." Charlotte segera keluar untuk meminta bantuan menyiapkan air hangat, sedangkan ia sendiri menyiapkan peralatan mandi, gaun dan segala keperluan sang lady pasca mandi.
Liliane segera mengenakan kembali gaun tidur karena dinginnya angin akibat jendela besar yang telah dibuka Charlotte segera membelai-belai pundaknya yang tak tertutupi membuat kuduknya meremang.
Setelah itu ia mendekati ranjang-ranjang bayinya, memeriksa apakah anak-anaknya tetap hangat. Lord Christ tidur dengan tenang, selimut masih terpasang rapi di atas tubuh montoknya. Liliane hanya harus membetulkan posisi kepala bayi tampan itu agar tidak miring. Liliane beralih pada ranjang bayi lain dimana lady Lily sedang tertidur dengan posisi yang lucu membuat Liliane terkikik. Bayi cantik itu tidur dengan posisi kepala miring, tangan kirinya terangkat sejajar dengan kepala sedangkan tangan kanannya di atas perut lalu kaki kanannya diposisikan seperti orang yang sedang melakukan tendangan. Sementara selimut lembutnya teronggok begitu saja di bawah tubuhnya ditambah boneka beruangnya yang terselip balik bahu dengan posisi pantat di atas. Liliane membenarkan pose tidur gadisnya dengan masih terkikik, tak lupa ia memasangkan kembali selimut ke tubuh mungil sang lady kecil.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selanjutnya Liliane menuju meja rias untuk menyisir rambut. Tetapi perhatiannya segera tertuju pada selembar kertas yang terlipat dua dengan rapi. Ujung-ujung kertas itu terangkat-angkat oleh tiupan angin tapi sebuah pena hitam dengan pangkal emas menahannya sebagai pemberat. Jemari lentik Liliane memindahkan pena itu agar tidak menutupi kertas.