Ia mengira setelah ini kehidupannya akan sulit. Ia kira masa depannya akan suram. Nyatanya beberapa minggu belakangan hidup Liliane Green menjadi sedikit lebih baik. Bunga-bunga yang ia jajakan laku keras setiap hari bahkan beberapa kali ada bangsawan yang memesan bunganya untuk pemanis ruangan pesta.
Dalam beberapa hari saja Liliane sudah bisa mengembalikan seluruh uangnya pada Lord Hamsford. Tentu saja Ia tidak bertemu muka dengan bangsawan itu. Ia menitipkan uangnya pada Mr. Albert Robinson. Sang kepala pelayan berwajah kaku.
Liliane bersyukur pada Tuhan, sekarang Ia tak pernah lagi kelaparan. Bahkan Ia bisa menabung. Jika uangnya sudah sangat banyak Ia ingin membeli lahan kecil di desa untuk bisa menjadi ladang bunga. Ia berpikir akan menanam lavender karena akhir-akhir ini bunga itu sangat diminati untuk membuat parfum. Ia ingin hidup di desa yang tenang, di sebuah rumah kecil di tengah-tengah kebun lavender. Seperti impiannya sejak kecil.
Liliane lahir di kota London begitu pula dengan ayahnya. Tetapi Ibunya berasal dari desa Backwell. Ibunyalah yang mempengaruhi Liliane sehingga gadis itu memiliki mimpi sederhananya. Dulu Ibunya tinggal di desa bersama kedua orang tua dan adiknya Jane. Tapi revolusi industri membawa Carla Stone--Ibu Liliane-- untuk menapakkan kakinya di kota metropolitan ini, demi mencari kehidupan yang lebih baik. Tapi apa mau dikata, Carla muda yang buta huruf hanya bisa berdagang bunga untuk menyambung hidup. Sampai suatu hari Ia bertemu Jhonatan Green--Ayah Liliane.
Walaupun hidup mereka singkat, semasa hidup kedua orang tua Liliane saling mencintai. Hingga maut merenggut nyawa mereka dalam sebuah kecelakaan yang hanya menyisakan Liliane yang saat itu berusia 15 tahun. Karena cinta kedua orang tuanya yang tetap hidup di hatinya, maka Ia ingin menemukan cinta seindah cinta kedua orang tuanya. Liliane sudah bertekad hanya akan menikah di atas nama cinta.
Pagi ini begitu dingin. Hujan semalaman yang mengguyur London membuat udara musim semi yang mulai hangat menjadi dingin kembali.
Liliane menyembunyikan diri di dalam selimut lusuhnya rapat-rapat. Entah kenapa pagi ini Ia tidak ingin beranjak. Seolah tubuhnya sedang memanggul beban berkarung-karung biji gandum. Liliane mengingat lagi apakah ada pesanan bunga untuk hari ini, otak Liliane tak mengingat satupun. Sepertinya hari ini Ia bebas, Ia bisa libur. Mungkin tidur seharian dapat meredakan lelahnya. Tapi nyatanya tidak. Kepalanya mulai berangsur-angsur terasa pening mengikuti kesadarannya yang juga berangsur-angsur terisi.
Suara ketukan di pintu membuat Liliane dengan terpaksa meninggalkan kasurnya. Mrs. Emma ada di balik pintu.
"Ya Tuhan, wajahmu pucat. Apa kau sakit?" tanya Miss Emma sembari meletakkan telapak tangannya di dahi Liliane.
"Tidak Ma'am. Aku hanya lelah." Liliane duduk, lalu mejatuhkan kepalanya di atas meja.
"Pantas saja, kulihat kau sama sekali belum keluar rumah. Sejak tadi. Apa kau tidak berdagang hari ini?"
Liliane menggeleng. Kepala Liliane semakin berat saja. Perutnya seperti di aduk-aduk. Dan rasa mual semakin hebat mendera. Liliane yang sudah tidak tahan langsung mengambil baskom dan memuntahkan isi perutnya disana. Lega, itulah yang dirasakannya. Walau rasa pusing masih berdenyut.
Mrs. Emma mengernyit. Tampak berpikir keras. "Sudah berapa hari kau merasa sakit seperti ini?" tanyanya penuh selidik.
"Rasanya akhir-akhir ini aku mulai sakit kepala, mual-mual dan mudah lelah, tapi hari ini yang terparah." katanya Jujur.
Emma adalah sahabat Carla. Carla dan Jhon yang menolong Emma dan Kristy saat mereka terlantar di jalanan setelah kematian suaminya dan Emma juga yang membantu persalinan Ben karena ketiadaan biaya mereka untuk bersalin di rumah sakit. Maka dari itu sejak Carla dan Jhon meninggal Emma-lah yang menjadi Ibu pengganti untuk Liliane, orang yang akan dengan ikhlas merawat gadis itu selain Bibi Jane. Itulah sebabnya Liliane terbiasa bercerita apa saja pada Mrs. Emma seperti pada Ibunya sendiri. Tak terkecuali kejadian naas yang menimpanya malam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Be His Countess (END)
Historical Fiction#7 in Historical Fiction (9.11.17) #4 in Historical Fiction (17.11.17) Liliane Green seorang gadis penjual bunga. Pertemuannya dengan William Huntley, Earl of Hamsford awalnya biasa saja layaknya seorang pembeli dan pedagang biasa. Seringnya sang ea...
