5. Natural Beauty

13.7K 1.2K 22
                                        

Laki-laki itu sudah berada di depannya jadi Liliane hanya harus meyakinkan laki-laki ini untuk pergi dari hidupnya jauh-jauh agar dia bisa menata hidupnya lagi.

"Jadi...bagaimana keadaanmu?" Tanya Lord Hamsford.

"Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja." Liliane menahan getaran pada suaranya.

Liliane harus benar-benar tegar atau begitulah seharusnya dia terlihat.

"Apa aku menyakitimu?"

Liliane menggeleng pelan. Gawat, air matanya dengan kurang ajar mendesak untuk keluar. Liliane meremas kesepuluh jemarinya.

"Maafkan aku." Liliane sempat memandang mata emerald itu. Ada kesungguhan disana. Beserta kelembutan yang tidak bisa di tolak oleh siapapun.

Tapi Liliane harus menolak tatapan lembut itu juga genggaman tangan Lord Hamsford yang terasa hangat saat meremas jemarinya. Liliane menarik tangannya walaupun sebenarnya enggan kehilangan rasa hangat itu. Ia berganti meremas roknya untuk mengisi rasa kehilangan pada genggamannya.

Mr. Robinson berdehem. "Maaf My lord, Ms. Green. Bisakah saya menunggu diluar saja? Supaya memberi keleluasaan lebih untuk anda berdua." Ia melempar tatapan sekilas pada daun pintu.

Oh, sepertinya Mr. Robinson menyadari keusilan tetangga Liliane yang memang suka menguping. Lalu setelah itu pasti mereka akan bergosip. Menambah bumbu pada fakta yang sebenarnya tidak terlalu mereka mengerti. Seperti kurang kerjaan saja. Untuk itu Liliane mengangguk.

"Tentu Albert." jawab Lord Hamsford setelah anggukan.

Ketika Mr. Albert Robinson membuka pintu banyak mata terkejut lalu mereka memilih hengkang dari depan pintu saat melihat wajah kaku pelayan Hamsford itu. Tentu saja, siapa yang tahan ditatap dengan tajam seperti itu.

"Liliane, aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Aku akan menikahimu untuk menyelamatkan kehormatanmu." Ucap Lord Hamsfotd setelah mereka sudah berdua saja.

Deg...deg...deg...jantung keduanya berlomba.

"Tidak, Sir. Kumohon jangan merasa terbebani. Yang terjadi semalam bukanlah murni kesalahan anda." jawab Liliane sungguh-sungguh.

"Lalu bagaimana caraku menebus rasa bersalahku? Bagaimana jika nanti dirimu hamil?"

"Saat ini saya tidak hamil." Liliane mulai meninggikan suaranya.

"Kalau begitu kumohon terimalah bantuanku. Kau bisa hidup lebih layak dari ini." William Huntley menyodorkan secarik kertas pada Liliane.

"Ini cek, kau bisa menulis berapapun yang kau butuhkan lalu cairkan ini di bank."

Apa-apaan laki-laki ini. Jangan kira Ia punya segalanya lalu bisa membeli diri Liliane. Semua hartanya tak akan sanggup mengembalikan mahkota seorang gadis. Apakah sehina itu dirinya? Dibayar setelah menjadi pemuas nafsu?

Liliane merebut kertas itu lalu merobeknya di hadapan sang lord.

"Saya bukan pelacur!" Liliane membentak. Setetes air mata kini berhasil meluncur melewati pipinya.

"Maaf...maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyebutmu seperti itu. Lalu apa yang kau inginkan?" tatapan pria itu semakin melembut.

Sial, disaat begini kenapa justru air matanya harus tumpah. Bukankah dirinya ingin tampak tegar? Liliane menghapus jejak air di pipinya dengan acuh sambil merangkai kata-kata yang akan dikeluarkannya.

"Saya akan mengembalikan uang yang anda berikan pada Mrs. Blackwood. Anggap saya berhutang karena saya tidak ingin menerima sepeser pun dari anda. Lalu kita lupakan semuanya. Anggap saja semalam tak pernah ada. Dan kumohon pergilah dari hidupku setelah saya berhasil membayar hutang."

Be His Countess (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang