Warning:
Bagi yang sedang menjalankan ibadah puasa mohon untuk membaca setelah adzan maghrib. Karena terdapat adegan yang sedikit "berbahaya" yang tidak bisa ditunda apalagi dihilangkan karena akan mengurangi feel.
Walaupun cuma sedikit saya tidak mau kalau disalahkan karena sudah mengurangi kekhusukan ibadah pembaca sekalian.
Terima kasih pengertiannya.
^v^
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
___________________________________
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Tidak mudah bagi seorang gadis yang terbilang mungil seperti Liliane Green untuk memapah tubuh tinggi lord Hamsford. Terlebih laki-laki itu sedang mabuk berat.
"Berani-beraninya...kau Nathan..." ceracau lord Hamsford. Sembari mengacungkan botol vodka yang isinya tinggal sedikit. Keseimbangan Liliane hampir goyah karenanya.
"Tenang, Sir...aku akan membawamu pulang." jawab Liliane.
"Aku sungguh laki-laki tidak berguna. Dia akan menikah dengan laki-laki lain 3 bulan lagi." entah sudah berapa kali lord Hamsford meracaukan kata-kata yang sama.
"Jadi Lord Hamsford menjadi seperti ini karena patah hati? Malang benar dia." batin Liliane. Yang Liliane tahu sang lord sangat mencintai sekaligus menghormati sang lady. Kadang kala sang lord bercerita tentang pujaan hatinya dan mata hijau terang lord Hamsford selalu berbinar saat itu.
Lord Hamsford adalah pria yang baik, Ia tidak seperti bangsawan lain yang suka menggoda wanita --setidaknya begitu yang pernah didengar Liliane tentang sosok pria bangsawan. Tak sekalipun lord hamsford bersikap buruk padanya. Lord Hamsford selalu menghormati Liliane selama pertemanan mereka terjalin.
Sudah sekitar 30 menit mereka berjalan. Dan Liliane belum juga menemukan lambang Hamsford di salah satu dari sekian banyak puntu gerbang besar di lingkungan bangsawan ini.
Samar-samar suara sepatu kuda mengisi kesunyian. Semakin lama kereta kuda itu semakin mendekat pada Liliane dan lord Hamsford. Sang kusir serta merta menghentikan langkah kuda saat melihat siapa yang sedang dipapah oleh gadis di depan tersebut.
Oh, itu kereta lord Hamsford!
Liliane bersorak dalam hati. Ia sangat lega dan bersyukur. Seorang pria tua turun dari kereta. Pria tua yang sekali waktu menemani lord Hamsford saat membeli bunga darinya.
"Selamat malam, miss. Saya albert Robinson, pelayan pribadi his lordship sekaligus kepala pelayan di kediaman Hamsford. Kita pernah bertemu beberapa kali."
"Ya, aku ingat anda sir." Liliane menyeka peluh di keningnya.
"Maaf telah merepotkan anda, miss?" Mr. Robinson merangkulkan lengan lord Hamsford yang lain, membantu Liliane memapah tuannya menuju kereta.
"Bukan masalah, sir. Aku hanya ingin membantunya."
"Tadi his lordship menghadiri pesta. Aku menunggunya di kereta tapi lord hamsford tak kunjung datang. Aku sempat menanyai pelayan di sana, ada yang melihat his lordship mabuk berat dan keluar berjalan kaki." terang Mr. Robinson. Liliane hanya merespon dengan anggukan.
"Masuklah ke kereta, miss. Kami akan mengantarmu pulang setelah mengantar his lordship. Tak baik seorang gadis berjalan sendiri selarut ini. Akhir-akhir ini banyak pembunuhan keji pada gadis-gadis muda."
"Um...baiklah."
Liliane bergidik ngeri hanya dengan membayangkan tubuh-tubuh yang tergeletak begitu saja di jalanan dengan kondisi mengenaskan, selalu ada bagian tubuh yang hilang. Kesemua korban adalah wanita. Sampai saat ini polisi scotland yard belum bisa menemukan siapa dalang dibalik pembunuhan keji tersebut. Tapi orang-orang menyebut pembunuh keji itu "Jack the ripper".
KAMU SEDANG MEMBACA
Be His Countess (END)
Historical Fiction#7 in Historical Fiction (9.11.17) #4 in Historical Fiction (17.11.17) Liliane Green seorang gadis penjual bunga. Pertemuannya dengan William Huntley, Earl of Hamsford awalnya biasa saja layaknya seorang pembeli dan pedagang biasa. Seringnya sang ea...
