Epiloq: The Wedding With Love

18.8K 1.1K 114
                                        

Ribuan batang lavender berayun ayun diiringi desau angin. Bagai ribuan penari yang diiringi oleh musik orkestra yang megah. Mentari baru saja bangun 2 jam lalu, cahayanya yang mulai terang membuat titik-titik embun tampak seperti berlian.

Keluarga besar Green bersama beberapa tetangga dekat mereka berkumpul di halaman belakang rumah Liliane Green atau kalangan ton mengenalnya sebagai Liliane Huntley. Mereka mengenakan setelan jas dan gaun terbaik yang mereka punya lalu duduk berjajar rapi layaknya saat misa di Gereja. Mereka sedang menunggu sang pengantin wanita.

Liliane merasa gugup. Ini bukan kali pertama ia memakai gaun putih dan berjalan menuju altar. Tapi tetap saja jantungnya berdentum-dentum. Liliane hampir saja meremas buket lavender di genggamannya untuk menutupi getaran pada jari-jarinya.

Disampingnya paman Harold yg rambutnya sudah berubah putih, ia gamit lengannya. Paman Harold yang akhir-akhir ini sudah mulai menunjukkan gejala dimensia bersikeras ingin menjadi pengganti Papa Liliane. Laki-laki senja itu menganggap umur Liliane masih 20-an. Ia sangat menyayangi keponakannya itu.

Dibalik cadar putih Liliane dapat melihat laki-laki itu. William Huntley, laki-laki yg sama yg menikahinya belasan tahun silam. Bertahun-tahun tidak bertemu laki-laki itu tetap segagah dulu. Hanya saja wajahnya penuh brewok lebat yang dihiasi beberapa helai uban. Rambutnya sudah tidak ditata rapi mencuat di sana-sini. Seperti itulah penampilannya kemarin. Tapi tampaknya hari ini berbeda. Rambut-rambut yang menutupi wajah William sudah tak ada. Rambut laki-laki itu juga tampak dicukur dan disisir rapi. Kalau saja tak ada kerutan di beberapa tempat di wajahnya yang menunjukkan bahwa laki-laki itu sudah tidak muda. Tapi tetap saja Will terlihat tampan. Terlebih karismanya sebagai seorang earl sangat terpancar. Dan senyuman William yang hangat masih mampu menghilangkan kegugupannya seperti dahulu. Andai saja mereka hanya berdua di sini, Liliane akan dengan suka rela menghambur ke pelukan William.

"Kukira kau benar-benar muak denganku hingga tak ingin bersamaku lagi." Will melempar pernyataannya semalam.

Liliane menyelami mata nanar William. Dingin sekali di sana. "Kukira kau yang tak ingin bersamaku. Kau tak pernah mencegahku untuk pergi. Aku menunggumu untuk mencegahku."

"Aku mengirimimu surat."

"Aku tahu dari Chris. Surat itu menghilang sebelum aku sempat membacanya hingga selesai."

"Bukankah tujuan Chris kemari adalah menunjukkan surat itu padamu?"

Liliane tersenyum geli, teringat wajah polos putranya saat tahu ia salah mengambil surat lalu ditertawakan habis-habisan oleh Lily.

"Chris membawa surat yang salah."

"Ah, anak itu." Will mendesahan kekecewaan.

"Jangan menyalahkannya. Jika Ia tak kemari, kau pun akan tetap melupakanku." Liliane menyentuh pundak William.

"Aku tak pernah melupakanmu." Will meraih tangan Liliane lalu mengecup punggung tangan Liliane layaknya seorang gentleman. "Sungguh."

Liliane memberikan tatapan tak percaya. Seperti saat Williana mengatakan tidak berenang di sungai padahal sepatu dan ujung gaunnya basah.

"Aku tak pernah bisa benar-benar melupakanmu. Bahkan aku...aku selalu urung mengirim surat cerai. Aku sudah merobeknya tadi pagi."

"Alasannya?"

"Kau masih istriku."

Liliane menggeleng. Bukan itu jawaban yang ia inginkan.

"Demi putra dan putri kita, kita sebaiknya bersama."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 01, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Be His Countess (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang