Thirteen

80 36 9
                                        

Shela POV.

"Gue mau kembaliin ini, Shel,"

Devan mengulurkan tangan nya dengan barang yang ada digenggaman nya, entahlah, apa yang ada di dalam genggaman itu.
"Gimana gue mau liat apa yang lo bawa kalo lo kerem diantara jari-jari lo itu?"

Perlahan Devan membuka tangan nya dan isinya adalah...
Liontin gue yang hilang.

"Gue gak percaya Devan yang temuin liontin itu, gue yakin teman-teman nya yang temuin liontin gue" batin gue.

"Liontin gue? Siapa yang temuin ini?" Gue langsung merampas liontin itu dari tangan Devan.

"Gak perlu tau. Yang penting udah ketemu. Jadi, jangan marah lagi sama gue ya..." kata Devan tersenyum seraya mengacak rambut gue dan bergegas pergi.

"Huft... gue bukan peramal yang tau semua tentang lo, dev."

Author POV.

"Yeeeeeeeeeeee.... AKHIR NYA LIONTIN NYA KETEMU...." teriak Azel kegirangan sembari loncat-loncat dengan menggandeng tangan Shela.

"Ihhh... yang punya liontin gue atau elo? Kok lo yang girang?" ucap Shela sambil melepas gandengan Azel.

"Gue ikut seneng, Shel." Viola tersenyum dan memeluk Shela, lalu disusul oleh Azel.

"Alay nya kambuh." pekik Zahra yang masih berdiri di samping pelukan mereka.

"Yeh bilang dong kalo mau dipeluk juga." ledek Azel dan langsung memeluk Zahra juga.

"Ih ketek lo bau, Zel!" kata Zahra yang berada di pelukan Azel.

"Ah jahat lo!" pekik Azel.

"Udah yu bobo cantik." ucap Viola yang langsung merebahkan diri ke kasur.

***

Matahari perlahan mulai muncul, Shela dan teman-teman nya sudah tiba di sekolah. Terlihat kalung berliontin hati mengalungi leher Shela.

Berjalan santai melewati setiap koridor sekolah, perlahan angin menghembus, menerpa rambut mereka yang terurai halus, hingga pada satu sisi yang menurutnya sepi, mereka melihat seorang lelaki yang berdiri berhadapan dengan seorang wanita, terlihat seperti Devan dan Putri, pasangan yang tak lama menyatakan perasaan nya itu terlihat sangat dingin, juga terlihat Devan yang sangat marah. "Eh itu Devan, Shel?" tanya Zahra penasaran, namun Shela tetap memperhatikan.

"Vi, ke perpus yuk," ajak Azel yang tak tahan dengan hawa panas disini.

"Yaudah kuy, gue sama Azel duluan ya, guys." Viola menerima ajakan Azel.

"Eh gue ikut deh, Zel. Lo gak mau ikut, Shel? Disini panas banget sumpah. Di perpus kan adem, tenang, kalo disini PANAS SHELA!" ucap Zahra dengan nada tinggi di akhir bicara, seperti tidak ingin Shela terus melihat Putri dan Devan.

Namun Shela tetap tidak ingin ikut teman-teman nya. "Lo semua duluan aja, nanti kalau bel gue langsung ke kelas."

Azel, Viola dan Zahra pun meninggalkan Shela. Shela kembali memperhatikan Devan dan Putri. Tidak lama kemudian Devan pergi meninggalkan Putri disana. Shela langsung menghampiri Putri yang juga berjalan kearah Shela. "Put...?" panggil Shela lembut.

"Ngapain lo manggil-manggil gue? Lo seneng kan gue putus sama Devan? Bilang aja kalo seneng! Nanti gue robek mulut lo!" jawab Putri ketus.

"Ih sadis banget si. Gue baru panggil lo, udah mau dirobek aja mulut gue. Aneh lo!"

"Eh denger ya, Shel, kalo lo ditembak Devan, lo harus tolak dia! Kalo engga, lo akan tau akibatnya!" Putri mengancam.

"Jadi ceritanya diancem nih gue? Gue gak takut! Lagian gue gak ada urusan sama lo!" sahut Shela tersenyum dengan alis kanan keatas.

"Lo sama temen-temen lo itu munafik! Gue bilang jangan ya jangan! Tapi kalo lo tetep sayang sama Devan, up to you! Itu derita lo." cetus Putri sambil mendorong pelan Shela.

Tanpa ingin mendengar lagi apa yang dibicarakan oleh ratu panu, Shela langsung pergi ke kelas nya untuk menemui teman-teman nya dan cerita apa yang telah terjadi oleh Putri.

BRAKKK!!!
Shela melemparkan tas nya yang berisi buku fisika yang tebal keatas meja. Zahra yang sedang main handphone nya, Viola yang sedang membaca novel favorite nya yang diambil dari perpustakaan, dan Azel yang sedang kipas-kipas karena kepanasan, semua terkejut dengan kedatangan Shela. "Gila tuh orang! Gue baru panggil aja dia udah marah-marah ke gue. Emang nya muka gue, muka-muka munafik ya???" gerutu Shela setelah sampai di kelas.

"Ihhh... kenapa sih dateng-dateng lempar tas segala? Kalo ada yang punya penyakit jantung gimana? Lo gak mau tanggung jawab kan? Bayar kos aja kita nunggak," Azel terkekeh pelan.

"Abis nya tuh orang nyebelin! Masa kita dibilang munafik sama Putri," sahut Shela.

"HAH? Jadi dia? Biar gue cabik-cabik tuh orang!" ucap Azel kesal hingga melemparkan kipas nya entah kemana.

"Putri putus sama Devan." sahut Shela membuat keheningan sejenak...

"Serius lo? Bagus dong... tandanya lo punya banyak peluang." ucap Viola yang tadinya sedang membaca buku novel.

"Tapi gue ragu, hati gue bilang kalo Devan itu beda. Gak kayak sifat nya yang dulu-dulu semenjak Devan jadian sama Putri." jelas Shela.

"Gue heran ya sama lo, Shel, hati lo udah dipatahin karena Putri, tapi masih aja lo sayang sama Devan. Cinta itu rumit tau gak! Cinta itu buta! Sampe-sampe ngebutain hati lo! Masih banyak cowo yang lebih kece, lebih ganteng, lebih perhatian, lebih setia, dan lebih sayang sama lo dibanding dia! Tapi lo tetep tertuju ke satu cowo, sebenernya apa sih yang buat lo tergila-gila sama Devan, hah? What do you feel, Shel?" ucap Zahra panjang lebar.

Shela menatap Zahra, "Cinta emang rumit. Tapi ini bukan perkara cinta atau dicintai, tapi soal perjuangan gue."

"What ever! Gue udah coba peringatin lo semua! Kalo cinta sama seseorang, biar dia yang perjuangin! Perjuangin seseorang itu, capek! Sakit! Pikiran kita jadi buyar tau gak! Mending lo semua fokus sekolah! Buat masa depan lo juga kan?!" Cetus Zahra.

____________________________________

Sorry telat up.
Ceritanya ngebosenin gak? Jelas gak? Plis gak siders...

Vote and Comment💖

Shine Bright Like a DiamondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang