Eighteen

58 15 2
                                        

Setelah berlama-lama di pesisir pantai, akhirnya mereka pergi ke penginapan nya untuk berganti baju dan bersiap untuk materi pertama.

Karena mereka baru sampai tujuan sore, mereka harus melakukan materi pertama pada malam hari.

"Ayoo semua kumpul sesuai kelompok!" teriak Bu Yani sambil menepuk tangan nya agar semua berkumpul.

Shela dan Viola mencari kelompok nya didalam kerumunan siswa. "Shel kesini..." tiba-tiba ada Devan menggandeng Shela yang sedang menggenggam tangan Viola ke arah kelompok 2. Dengan otomatis Viola ikut tertarik dengan Shela.

Saat sudah sampai di kelompok 2, Putri melihat Shela sinis. Shela langsung melepaskan gandengan Devan. "Tinggal panggil gak usah gandeng gak bisa ya?" celetuk Shela.

"Yaudah sorry." sahut Devan cuek.

"Oke anak-anak, kalian sudah tau tugas kalian masing-masing kan? Sekarang kalian mulai tugas kalian! Tapi batas hingga jam 9 malam." ucap Bu Yani menjelaskan.

"Baik, Bu..." sahut murid bersamaan dan langsung berpencar sesuai kelompok masing-masing.

#kelompok 1 story

"Kita mau kemana nih?" tanya Rizky sang ketua sembari memegang papan dengan kertas putih diatas nya dan mengalungi pena nya.

"Kita ke daerah yang ramai aja." usul Azel.

"Iyalah! lo mau ngapain ke tempat sepi?" sahut Rendi.

"Biasa aja dong! Maksud gue baik kali! Pikirannya di pel dulu, bang! huuu..." Azel menyoraki Rendi.

"Berisik berisik! Kalo aja bisa pindah, gue gak mau sekelompok sama manusia-manusia bawel kayak kalian!" teriak Zahra geram seraya mengepal kedua tangan nya.

"Tuh dengerin kata Ibu Zahra." sahut Reza meledek.

Zahra tidak memperdulikan, Rizky berjalan kearah keluar dari tumpukan pasir, dan diikuti oleh anggota kelompoknya.

Lalu Rizky berhenti tepat pada warung yang masih buka, Rizky celingak-celinguk melihat tidak ada orang didalam warung tersebut.

"Permisi..." panggil Rendi tiba-tiba.

Azel dan Zahra duduk di salah satu kursi yang tertata didepan warung tersebut.

"Helowwwww ada orang gak sih?" teriak Azel santai seakan-akan itu adalah rumah nenek nya.

"Ini bukan rumah lu, Zel. Jaga sopan santun lo!" pekik Zahra menatap Azel sinis.

Reza melihat jam tangan nya, "Ngapain sih kita kesini, Ki? Masih banyak penghuni rumah lain nya yang bisa kita wawancarain." pekik Reza kesal.

Seketika sunyi, sampai akhirnya ada seseorang yang datang, "Ada apa ya, dek?" tanya seseorang membuat semua terkejut.

"Ya ampun... gak usah bikin orang jantungan kali!" gerutu Azel.

"Mba pemilik warung ini?" tanya Zahra.

"Iya, kalian siapa dan mau apa kesini?" Seorang perempuan itu kembali bertanya.

"Kita boleh tanya-tanya tentang daerah sini? Hal sekecil apapun kita akan butuhkan, mba." ucap Zahra tidak banyak basa basi.

"Oh boleh, silahkan masuk... ngobrol nya dengan orang tua saya saja ya, karena saya bukan asli orang sini... saya baru pindah ke sini 1tahun lalu."

Mereka pun masuk ke rumah seorang perempuan itu...

#kelompok 2 story.

Pada waktu yang sama, mereka mencari narasumber yang ada disekitar daerah situ pada malam hari. Sulit bagi mereka karena jarang ada yang keluar malam apalagi angin yang besar dan udara yang dingin karena dekat pantai. Tetapi mereka akan berusaha untuk mendapatkan narasumber itu, hingga pada akhirnya mereka menemukannya.

"Permisi, Bu, boleh saya duduk disini?" tanya Shela sopan.

"Eh, iya boleh, silahkan duduk... maaf hanya ada 3 kursi..." ucap Ibu itu kembali sopan.

Shela, Putri dan Viola duduk di kursi itu, sementara Devan berdiri tepat dibelakang kursi Shela dan Fauzan berada dibelakang kursi Viola.
"Iya gak masalah kok, Bu." sahut Viola.

"Hmm maaf, Bu sebelum nya mengganggu kegiatan Ibu apalagi malem begini... perkenalkan saya Fauzan dari SMA Putra Bangsa Jakarta. Kedatangan saya kesini malem-malem ingin mengetahui lebih jelas tentang daerah sini, dan untuk besok Ibu akan menuntun kami berkeliling desa ini. Apa Ibu bersedia untuk menjadi narasumber kami?" ucap Fauzan penuh harapan.

"Ibu bersedia, cuma Ibu gak bisa siang-siang nih... jadi Ibu bisa nya hingga jam 10 pagi."

"Oh iya, Bu. Gak apa-apa, kami juga dikasih waktu hanya sampai ba'da zuhur, boleh kami tau nama Ibu?" sahut Fauzan.

Saat Fauzan berbicara dengan Ibu itu, Ibu itu melihat Devan dan Shela dengan tatapan dalam. "Ibu?" tanya Putri yang melihat Ibu itu melihat fokus pada Devan dan Shela.

"Dia kenapa sih, Dev?" bisik Shela ketakutan.

"Kalian cocok ya, semoga kalian gak saling bosen yah." ucap Ibu itu tiba-tiba, Putri pun reflek berteriak, "EH BU, DEVAN ITU PUNYA SAYA! BUKAN PUNYA SHELA!" Ibu itu terlihat kebingungan.

"Apaan sih lo, Put? Gak bisa sopan dikit? Gak pernah di ajarin sopan santun???" celetuk Devan melihat Putri sinis.

"Punten, Ibu nama nya siapa, Bu?" tanya Fauzan mengalihkan pembicaraan.

"Ibu Lilis." jawab Ibu itu.

"Oke, saya catat ya, Bu, kami langsung permisi pulang ke penginapan ya, Bu, terima kasih." ucap Fauzan yang mencatat dan bersalaman pada Ibu itu sebagai tanda terima kasih.

"Iya sama-sama."

Saat perjalanan pulang ke penginapan Putri menggerutu, "Gue masih gak terima ya kalo Devan sama Shela dibilang pasangan! Kalo aja dia bukan narasumber kita, gue colok-colok tuh mata nya!"

Semua melihat Putri dengan tatapan sinis...

___________________________

Sorry baru update karena ada persiapan lomba eskul ku😅 jadi latihan nya setiap hari dan jarang sempet buka wattpad😢😢

Semangat ya nunggu aku update😂 ku sayang kalian semua muahh💖

TBC!

Shine Bright Like a DiamondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang