Twenty

26 9 6
                                        


"Guys, kalian harus liat ini..."
Viola membawa kotak tersebut ke dalam kamar dan menutup kembali pintu kamar tanpa peduli siapa yang sudah meletakan kotak tersebut di depan kamar nya.

Viola membawa kotak merah itu ke dalam kamar dan duduk diantara teman-teman nya yang sedang melingkari nya.

"Dari siapa, Vi?" tanya Zahra dengan raut wajah yang kebingungan.

"Wait, ini bukan nya...???" ujar Azel menggantung

Semua melirik ke arah Azel yang sedang memejamkan mata nya untuk mengingat sesuatu. Tak lama kemudian Azel membuka mata nya.
"Gengs, itu kotak merah yang gue liat tadi di rumah orang yang akan jadi narasumber gue. Gue inget banget. Coba buka apa isi nya!"

Viola membuka pelan kotak itu...
Kotak merah disertai isi karya seni pahatan yang tidak terlalu besar dengan bentuk seorang ibu yang sedang menggendong anak nya, membuat semua kebingungan.

"What the fuck!?" pekik Azel.
"Buat apa orang itu ngasih kita beginian? Kurang kerjaan tau gak!" lanjutnya.

"Yang punya kotak merah kayak gini juga banyak kali, Zel. Bukan cuma narasumber lo." ujar Shela.

"Besok kita harus ke rumah itu lagi buat mastiin kalo kotak ini memang bukan dari mereka! Gue ada firasat buruk ke keuarga mereka, guys" usul Azel keras kepala.

"Lo jangan nethink gitu juga dong, lagian buat apa juga mereka kasih kita beginian?" Ucap Zahra berusaha menenangkan Azel yang super heboh.

"Ck, ya kalo bukan mereka, siapa lagi? Dan buat apa kirim-kirim patung gak jelas gini? Horor tau gak!" Azel berdecak.

"Ohiya juga ya, bener kata Azel. Ihhh mau pulang rasanya..." rengek Viola.

"Ih lebay nya mulai kambuh! Lo jangan ikut-ikutan Azel dong, Vi! Bikin suasana makin kacau! Mungkin aja yang ngirim salah kamar," pekik Zahra.

Shela berdiam diri. Seolah tidak peduli dengan kiriman itu, karena yang Shela pikirkan hanya dimana keberadaan Mamah nya, saat semua memperdebatkan kotak mistis itu, Shela hanya merebahkan diri nya dengan santai dan menutup matanya untuk tidur.

"Shel??? Dih malah tidur nih anak! Pleass help me, Shel... gak ada yang mau bela gue disini." Azel merengek seperti anak kecil.

"Tidur aja sih! Ribet banget ngurus tuh patung! Besok kita observasi!" pekik Shela sangat galak. Tak biasanya Shela membentak sangat keras.

"Ih tidur-tidur! kali ini gue takut sama Shela demi." Zahra terkejut dengan bentakan Shela.

Azel dan Viola hanya ternganga mendengar bentakan Shela yang sangat menggelegar di kamar.

Mereka pun menarik selimut untuk mengentikan perdebatan di tengah malam tersebut.

***

Mentari muncul dengan kicauan burung yang sangat merdu, pukul 06:00 semua siswa sudah bangun, bersiap bersama kelompok masing-masing untuk melakukan observasi.

Shela memakai baju berwarna coklat muda dan celana hitam selutut disertai kacamata coklat yang serasi dengan baju nya.
Zahra seperti biasanya berpenampilan layaknya cewek tomboy, memakai jaket lepis dengan baju hitam di dalam nya, serta celana lepis pendek.
Viola yang berpakaian simple membuat dirinya terlihat seperti perempuan yang sederhana, dengan memakai sweater berwarna pink panjang hingga menutupi paha atas nya.
Dan ada Azel yang selalu berpenampilan feminin, dengan dress bertema flora se-lutut

Di tengah aula bawah hotel, sudah ada Bu Yani yang sedari tadi berteriak memanggil siswa-siswa yang bangun nya terlambat. "Ayo! Cepetan! Kita gak punya banyak waktu! Hey, Putri! Kenapa muka kamu lesuh begitu?"

"Saya baru bangun tidur ibuuu...." rengek Putri sembari mengucak mata nya.

"Memangnya kamu tidur jam berapa semalam?" tanya Bu Yani.

Putri bercengenges sebentar, "hehe, saya gak bisa tidur, Bu. Jadi saya baru tidur jam 1 malam." Lanjutnya.

"Saya gak mau tau, yang penting tugas kalian beres semua hari ini! Batas waktu sampai jam 5 sore, jika kalian belum sampai penginapan jam 5 sore, nilai kalian akan di kurangi." ucap Bu Yani lagi.

Semua siswa berangkat menuju narasumber nya masing-masing.

#kelompok 1 story

"Permisi, mba, assalamualaikum." panggil Rizky.

"Heh, Ki, pemilik rumah nya kan belum tentu orang Islam." protes Azel.

"Apa sih, Zel, kan kemarin Ibu nya pake jilbab, gimana sih lo, pikunan deh." jawab Iki.

Tak lama kemudian, perempuan itu keluar dari rumah nya menggunakan dress bermotif bunga dengan rambutnya yang di gerai layak nya kembang desa.

"Cantik juga ya ternyata cewe ini." bisik Iki kepada Rendi.

Azel sontak melirik ke Iki dengan tatapan ilfeel "gila ya, cowo emang gak ada beda nya, playboy semua!" cetus Azel dengan wajah yang judes nya.

"Yeh, bilang aja lo cemburu kan? Ngaku aja deh, kalau gua ini emang ganteng." balas Iki tidak mau kalah.

"Jadi kapan kita akan berangkat?" tanya perempuan itu tiba-tiba

"Oh, ayo ayo, kita berangkat sekarang aja" sahut Iki.

Tiba-tiba ada suara teriakan memanggil dari lantai atas rumah pemilik narasumber kelompok 1.
"Linaaaaaaaa..." teriakan yang cukup keras menggema di dalam rumah.

"Duh aku ke dalam dulu ya sebentar di panggil Ibu sepertinya." ucap perempuan itu sembari jalan menuju dalam rumah, "iya Bu, sebentar."

"Ternyata cewek itu namanya Lina ya." ucap Rendi saat perempuan itu masuk ke dalam rumah nya.

Mereka hanya terdiam, suasana kampung yang sangat sepi, membuat suara ombak terdengar jelas di telinga. Azel melangkah perlahan mendekati tembok polos yang tidak berwarna, hanya amplasan semen saja. Azel melihat ke arah atas yang pasti nya adalah kamar milik keluarga narasumber itu. Semakin dekat dengan tembok itu, mata Azel semakin menyipit, tanda sedang melihat sesuatu dengan serius.

Tiba-tiba...

"HAAAAAAAHHHH, RA KESINI! LO HARUS LIHAT APA YANG GUE LIHAT!" Azel terkejut membuat semua nya auto menghampiri Azel.

___________________________

Hola!

Doain ceritanya lancar terus sampai part terakhir ya🙏

Happy reading!❤️

See u next part 😘
Jangan lupa vomment dibawah 💞

Shine Bright Like a DiamondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang