Twenty Two

22 7 6
                                        

Deg...

Shela menatap Devan, "hehe, lucu sih." jawabnya seperti berusaha tidak peduli.

"Menurut lo, gue bercanda?"

"Loh, emang bener kan?"

Devan pun kembali menatap mata Shela sambil menelan sesuatu, lalu mengalihkan pandangan nya.

Shela tertawa kecil, "mau tau tentang suatu fakta?" ucap nya kembali memperbaiki suasana.

Devan yang terlihat kecewa dengan apa yang dikatakan Shela, mengangguk pelan tanpa melirik Shela.

Shela tersenyum sembari menarik napas.

"Matahari di langit, yang selalu menyinari bumi ini, membantu kita lebih banyak di banding bintang di malam hari, tetapi manusia lebih banyak menyukai bintang. Kenapa? Karena manusia hanya melihat dari indahnya bintang itu, tanpa melihat matahari yang selalu ada buat kita. Bahkan matahari ada saat kita sedang tersadar, bukan bintang yang hanya datang saat kita tertidur, mungkin yang melihat bintang hanya..."

"Jadi hubungan nya apa?" tanya Devan setelah mendengar itu, tetapi belum menatap Shela.

Shela memutar bola mata nya, "jadi hubungannya, lo itu cuma liat apa yg lo liat di mata lo." Devan mulai melirik Shela dengan kebingungan. "Kamu tidak sadar bahwa ada yang lebih indah dan menarik dari sisi orang yang kamu lihat." lanjut Shela dengan bahasa dewasa nya yang membuat arah pandangan Devan ke atas.

"Percuma, Dev. Mau di jelasin se-detail apapun lo gak akan paham." ucap Shela lalu berjalan mendahului Devan.

Sesampainya di rumah ibu Lilis, kelompok 2 berterima kasih atas kerja sama Ibu Lilis dalam tugas mereka. Satu persatu bersalaman dengan nya.

"Datang lagi jika kalian ada waktu ya, senang bertemu dengan kalian." ucap Ibu Lilis sambil melambaikan tangan nya.

Setelah Shela dan yang lain nya berjalan menjauh dari kediaman Ibu Lilis, mereka tidak berbicara apapun hingga sampai di penginapan, karena lelah, mereka tidak saling berbicara dan bergurau.

Ketika sampai di penginapan, sudah ada Azel dan Zahra di dalam kamar yang baru meletakan tas nya lalu merebahkan badan nya di atas kasur.

"Eh, kalian selesai duluan? Kok cepet?" tanya Viola saat memasuki kamar.

"Kalian sendiri? Kok cepet?" Azel bertanya balik.

"Ih, tengil banget si lo! Cabut kan lo berdua???" tuduh Viola.

"Yeh sok tau lo! Narasumber gue aja tuh yang belegug! Masa lagi observasi tiba-tiba ngilang? Kesel gue. Ih sebel banget dong...." rengek Azel kesal.

"Hah? Kok bisa, Zel? Terus tugas lo gimana?" tanya Shela respect.

"Paling ngarang ya, Ra?" tanya Azel dengan wajah melas nya.

"Muka lu ngarang! Ya gabisa lah, kita aja harus ada dokumentasi sama narasumber, kalo kelompok Shela mah udah foto tadi." sahut Zahra nada emosi.

"Udah, udah deh, kita mending makan siang dulu, sebentar lagi menjelang Dzuhur, sekalian shalat juga. Berdoa semoga diberi kelancaran buat kelompok kalian. Dan doa supaya mama Shela cepat memberi kabar." Viola memancarkan senyuman nya kepada Shela.

"Ah sok religius banget lo!" pekik Zahra yang sudah berganti pakaian lalu langsung pergi keluar kamar dan di susul oleh Azel yang meledek Viola dengan memperlihatkan lidah nya yang berwarna merah muda.

***
12:06
Meja makan bundar.
Shela Pov.

Akhirnya waktu makan siang pun tiba, lelah nya tubuh, keringat yang sedikit muncul di badan, membuat perut keroncongan dan butuh asupan.
Gue telah duduk di meja bundar berwarna coklat yang tidak terlalu besar dengan 5 kursi di sekeliling nya. Gue, Azel, Zahra dan Viola pasti nya yang memenuhi meja itu.

Saat gue meletakan makanan diatas meja lalu duduk, Devan dan Iki melihat ke arah kursi di sebelah gue dan Azel. Saat itu pun gue langsung membulatkan mata ke arah Azel, agar Azel segera meletakan barang di atas kursi kosong supaya kursi itu tidak di duduki oleh orang lain.

"Zel! Letakin sesuatu apapun barang lo! Cepet! Biar gak ada yang booking!" ucap gue dengan nada sedikit cepat, membuat Azel sedikit panik karena kebingungan barang apa yang harus di letakan nya.

Saat Devan dan Iki duduk bersamaan di kursi kosong berbagi lapak duduk...

Kreeeeekkkkk!!!

Azel terkejut dan membuka mulut nya lebar-lebar sembari mengerenyitkan dahi nya. Sedangkan Devan dan Iki saling menatap karena tidak tau apa yang sedang mereka duduki.

"OH MY GOD!!!!!!! MINGGIR!" teriak Azel mendorong Devan dan Iki hingga terjatuh dari masing-masing posisi yang sedang diduduki.

"LO TAU GAK SIH INI KACAMATA ORI DAN LIMITED EDITION!!!" lanjutnya masih berteriak.

Gue hanya cekikikan melihat Azel yang emosi nya semakin bertambah.

"Lagian lo ngapain naro barang sembarangan?" Devan membela diri.

"YA LO KENAPA GAK LIAT-LIAT DULU??? EMANG RESE BANGET YA LO, SHEL!" Azel masih juga berteriak membuat seisi tempat makan hingga chef pun keluar dari dapur untuk melihat teriakan apa yang membuat telinga semua nya menderita.

"Loh kenapa nyalahin Shela?" tanya Devan membela.

"Karena Shela gak mau ada kalian disini!!!" Azel berbicara sembari menunjuk Devan dan Iki dan membuat mereka pergi dari meja itu lalu mencari meja lain.

Author Pov.

Ketika semua selesai menyaksikan Azel yang marah-marah, siswa lainnya melanjutkan makan mereka. Azel masih ngedumel sendirian karena kaca mata nya yang patah. Saat itu, tiba-tiba suara yang familiar terdengar di telinga, ternyata suara itu bersumber dari Bu Yani yang berbicara menggunakan toa.

"Untuk kelompok yang sudah selesai, jangan lupa serahkan hasil observasi tadi ke ruangan Ibu ya jam 5 sore nanti." katanya dengan suara keras di tambah pakai toa.

Azel dan Zahra saling menatap, "gimana dong, Ra??"

"Kita ngarang dulu aja kali ya sementara?"

"Yeh gue nanya malah nanya balik, jelasin aja yang sesungguhnya, lagian bukan salah kita juga kan?"

"Ya tapi kita jadi kerja double..."

Azel memutar bola mata nya, Shela dan Viola hanya melihat mereka karena miris dengan apa yang telah terjadi di kelompok nya.

"Udahlah, mending jujur aja. Nanti pasti di kasih toleransi." usul Viola.

Azel tiba-tiba terdiam, mengingat kejadian aneh di rumah narasumber nya itu, Azel pun angkat bicara.

"Guys, tadi gue ngeliat sesuatu yang bikin hati gue mengganjal gitu, but aneh dan menurut gue mustahil banget..."

Shela, Viola dan Zahra menatap Azel serius karena mendengar cerita Azel yang sepertinya memang hal yang mustahil, karena Azel bukan tipe perempuan yang mudah diajak serius.

💎💎💎

Hai, welcome back to my work🐣
Pengen banget update cepet, but readers semakin sedikit:') dan target up jadi semakin lama. Makanya jangan cuma di scroll, come on vote and comment ya dan ajak temen kalian buat baca juga hihi🖤

Happy reading😊🤗

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 15, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Shine Bright Like a DiamondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang