5. Babak Baru

45 4 1
                                    

Setelah lelah bekerja, sekitar pukul sebelas malam Rifqi sudah berada di rumahnya. Sekarang Rifqi hanya tinggal bersama kedua orangtuanya karena ketiga kakaknya sudah berumahtangga dan menempati rumahnya masing-masing. Malam itu kedua orangtunya sudah tertidur dan ditandai dengan gerbang yang sudah digembok. Untung saja dia membawa kunci cadangan dan secepat mungkin membuka gerbang. Karena tak kuat menahan rasa lelah, Rifqi langsung pergi ke kamar dan mengganti bajunya kemudian merebahkan badannya diatas kasur sembari memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Baru sebentar memejamkan mata, dia teringat akan sosok Caitlin. Rifqi pun bangkit dan mengambil smartphone yang tak jauh dari jangkauannya. Dia kembali melihat direct message yang ia kirimkan. Namun sayang, Caitlin tidak membalasnya, bahkan membacanya pun tidak. Dia kembali terdiam, entah untuk keberapa kalinya. Tanpa berpikir panjang, dia kembali memejamkan matanya walaupun tak kunjung tidur.

Keesokan harinya, ketika matahari sedang terik-teriknya Rifqi berpamitan kepada kedua orangtuanya karena pada hari itu juga Rifqi sudah harus kembali ke pondok untuk mengikuti UAS. Singkat cerita, dengan menggunakan angkutan umum Rifqi sudah sampai di pondok. Butuh waktu sekitar satu jam setengah untuk sampai di pondok dari rumahnya. Tak lama berada di pondok, dia langsung pergi ke Caffè Parlare dengan angkutan umum. Karena jaraknya tak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke coffee shop bernama bahasa italia itu. Sesampainya disana, Rifqi langsung disambut oleh Kang Arief dan Kang Ari. Sekarang Rifqi bukan mau menjadi barista, tapi hanya sekedar menjadi pengunjung. Meskipun begitu, ia tetap saja menyeduh kopinya sendiri. Setelah secangkir kopi aceh gayo kesukaannya tersaji, ia duduk di bar. Kang Ari yang sedang menyeduh, kembali membuka pembicaraan dengan menanyakan tentang direct message yang dikirimkan Rifqi kepada Caitlin. Rifqi menghela napas panjang, dia menunduk kemudian menggelengkan kepalanya. Kang Ari menatapnya iba, dari balik bar yang sama Kang Arief yang sedang menyeduh mendengarkan pembicaraan tadi dan ikut merasa iba. Setelah selesai menyeduh, Kang Arief duduk di bar, tepat di samping Rifqi. kang Arief pun mencoba menghibur Rifqi dengan memberinya semangat dan sebuah kalimat andalan, “Menyeduh kopi adalah perbuatan terbaik bagi seorang barista. Maka menyeduhlah dan berikan yang terbaik bagi penikmatnya. Semoga saja hatimu ikut membaik, ketika mendengar kopi buatanmu enak.” Rifqi hanya diam, tak ada satu patah kata pun yang ia ucapkan. Ia hanya menghabiskan kopinya kemudian berjalan ke dalam bar dan memakai apron. Setelah rapih memakai apron, dia membuat secangkir cafè latte dengan latte art berbentuk hati namun dengan garis zig-zag ditengahnya, seperti hati yang patah. Kemudian dia memberikannya kepada Kang Arief sembari tersenyum.

Mencari CaitlinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang