12. Dalam Dekapan Ibukota (bagian 1)

17 2 0
                                    

Masih di hari yang sama, tepat pukul setengah enam petang kereta serayu pagi menepi di depan Stasiun Pasar Senen. Para penumpang berhamburan keluar, termasuk Rifqi. Dia menutup mata lalu menghirup napas panjang, "Oh jadi kayak gini udara Ibukota. Cukup baik." ucapnya dalam hati sembari tersenyum. Karena perjalanan panjang membuatnya lelah, Rifqi beristirahat di mushola stasiun dan tak lama dari itu sayup-sayup suara adzan kian terdengar. Ia bergegas mengambil air wudhu kemudian mendirikan sholat maghrib berjamaah dengan para pengadu nasib yang baru datang dari kampung halaman. Seusai sholat, ia masih terdiam di stasiun, melihat orang-orang ramai berlalu-lalang lalu sekejap membayangkan salah satu adegan film 5CM yang diambil disana. Sekali lagi ia menghirup napas panjang. Rifqi masih saja duduk di kursi stasiun yang terlihat baru padahal stasiun itu sudah beroperasi cukup lama. Setelah puas melepas lelah, ia bangkit dan berjalan perlahan keluar dari stasiun. Karena tidak membawa smartphone, maka terpaksa ia harus menjadi manusia seutuhnya di Ibukota, tempat yang asing baginya.

Ia terdiam di depan stasiun, berpikir kemana tujuan selanjutnya. Rifqi berjalan kaki, terus mengkuti setiap lekukan jalan sampai bertemu dengan orang yang mungkin bisa membantu, seorang polisi yang sedang menjaga arus lalu lintas. "Pak, numpang tanya. Ini jalan apa yaa? Jakarta bagian mana?" tanya Rifqi dengan nada sedikit kebingungan. "Ini jalan stasiun senen, ada di Jakarta Pusat." jawab seorang polisi itu dengan ramah. "Memangnya kamu mau kemana?" tanya polisi tadi kepada Rifqi. Sebagai jawaban, Rifqi hanya menggelengkan kepalanya karena mengatakan tujuan yang sebenarnya hanya akan mengundang keheranan. Suasana malam itu tiba-tiba hening, hanya terdengar suara kendaraan bermotor yang melintasi jalanan tersebut. "Pak, kalo mau ke istiqlal lewat mana?" pertanyaan Rifqi memecah keheningan. Polisi tersebut hanya diam kemudian memainkan smartphone-nya. Tak lama dari itu, tiba-tiba ada seseorang pemuda yang menghampiri polisi tersebut dan sedikit berbincang-bincang. "Hey anak muda, ini namanya jasa ojek online dan inilah yang akan membawamu pergi ke istiqlal." ucap polisi yang disambut dengan sumringah oleh Rifqi. "Terimakasih Pak, semoga kebaikan Bapak dibalas sama Allah. Aamiin." hanya itu tanda terimakasih yang Rifqi berikan sebelum ia pergi melintasi padatnya lalu lintas Ibukota.

Sopir ojek itu membawanya mengaspal lurus dari jalan stasiun senen ke jalan bungur besar raya dan berbelok ke arah kiri menuju jalan gunung sahari timur. Tak berhenti disitu, motor makin mantap mengaspal dengan berbelok ke arah kanan menuju jalan gunung sahari raya kemudian berbelok ke arah kiri menuju jalan budi utomo dan dihabiskan dengan lurus terus sampai memasuki jalan lapangan banteng barat dan diakhiri dengan sebuah belokan ke arah kanan di pertigaan ujung jalan. Setelah jarak tempuh sekitar lima belas menit dan mengaspal dalam padatnya lalu lintas Ibukota, Rifqi sampai di depan Mesjid Istiqlal, dengan bantuan sopir ojek online dan Pak Polisi tentunya. Sopir ojek itu berlalu, meninggalkan Rifqi seorang diri karena ongkosnya sudah dibayar oleh polisi tadi. Kini Rifqi tengah berada diantara Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral, rasa kebhinekaan dan toleransi kian terasa. Rifqi kembali menutup mata, menghirup napas panjang. Sangat indah memang.

Cepat-cepat ia masuk ke mesjid karena suara adzan isya terdengar lantang dari pengeras suara yang terpasang diatas menara yang menjulang tinggi, menusuk gelapnya langit malam Ibukota. Rifqi mengambil air wudhu kemudian bersiap-siap untuk sholat berjamaah. Dengan berucapkan doa, dia memasuki mesjid yang konon katanya terbesar du kawasan asia tenggara. Penyamarataan derajat antara laki-laki dan perempuan sedikit terasa disana, terlihat dari shaf yang dibagi dua di bagian kiri dan kanan, bukan di bagian depan dan belakang sebagaimana yang diajarkan gurunya di pesantren. Rifqi tak mau pusing memikirkan hal itu, ia hanya tersenyum dan bergabung dengan jamaah yang lainnya.

Seusai sholat, Rifqi duduk bangku taman mesjid. Dia mengeluarkan kotak berwarna hitam dari dalam carrier-nya. Di dalam kotak tersebut ada kompor portable, nesting, grinder, aeropress, milk jug dan dua buah gelas kecil. Tak lupa ia juga mengeluarkan biji kopi papandayan dan menghaluskannya dengan grinder. Tak ada takaran dan suhu yang pasti untuk kopi malam itu, ia hanya menggunakan perasaan dalam kebiasaannya menyeduh kopi. Setelah melewati proses yang cukup panjang, milk jug telah terisi penuh dengah kopi yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah gelas kecil sebelum ia benar-benar menikmati kopinya. Gemerlap lampu dan suara bising dari knalpot kendaraan di jalanan menemaninya melewati malam bersama nikmatnya kopi. Untuk kesekian kalinya ia menutup mata, menghirup napas panjang.

Malam makin larut, namun udara tak kunjung dingin. Ia masih duduk di bangku taman, tapi dengan gelas kosong karena kopinya sudah habis. Ia benar-benar menikmati malam. Malam itu pukul sebelas, setelah dirasa cukup menikmati desiran angin Ibukota, ia beranjak pergi ke tempat wudhu untuk membersihkan badannya sembari mencuci peralatan yang sudah ia gunakan kemudian memasukannya ke dalam carrier dan masuk ke dalam mesjid. Iya, untuk malam kali ini dia berniat tidur di mesjid, mungkin untuk hari-hari berikutnya juga. Ia menaruh carrier-nya di karpet dan menjadikannya sandaran, seperti bantal. Ia merebahkan badannya yang terasa lelah diatas karpet yang lumayan empuk, memejamkan mata yang sedari tadi menikmati kehidupan Ibukota. Baru sebentar memejamkan mata, ia sudah tertidur pulas. Semoga indahnya mimpi menghampirinya dalam dekapan Ibukota yang konon katanya keras, tak apa walau hanya sebatas mimpi.

Mencari CaitlinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang