Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Rifqi kembali menyusun rencana dan berniat pergi ke Jakarta lagi. Rencana kali ini lebih fleksibel dan mengikuti kondisi di lapangan. Bahkan dia pun tidak menentukan kapan keberangkatannya karena ia menginginkan pergi tanpa diketahui oleh orang lain, dalam kata lain kabur.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Hari kamis, tanggal dua puluh delapan desember dua ribu tujuh belas Rifqi kembali mengemas kebutuhannya selama di Jakarta dan berangkat ke Stasiun Cibatu lebih awal dari sebelumnya. Rifqi memilih hari itu karena kebetulan orangtuanya sedang pergi ke Tasik. Sesampainya di stasiun Rifqi langsung pergi ke loket untuk membeli tiket kereta serayu pagi tujuan Stasiun Pasar Senen. Seperti yang sudah kenal, penjaga loket itu menyapa, "Eh ini Akang yang marah-marah karena ketinggalan kereta serayu pagi yaa?" Tanpa menjawab pertanyaan tadi, Rifqi hanya tersenyum dan membeli tiket kemudian duduk menunggu kereta. Hari itu masih pukul sebelas lewat lima belas menit, jadi menurut jadwal Rifqi harus menunggu sekitar empat puluh lima menit. Karena tidak membawa smartphone, penantian itu ia isi dengan melihat sekeliling stasiun yang dipadati oleh orang-orang yang hendak berlibur ke kota-kota besar. Setelah cukup lama menunggu, terdengar sayup-sayup suara adzan dzuhur. Rifqi melihat jam tangannya, masih ada waktu sekitar sepuluh menit, jadi dia pergi ke mushola dan mendirikan sholat dzuhur dan menjama qosor sholat ashar karena sesuai jadwal kereta itu akan sampai ke Jakarta pukul setengah enam petang.
Setelah selesai mendirikan sholat dzuhur dan jama' qosor, Rifqi memandangi kereta serayu pagi yang benar-benar ada di hadapannya. Ada sedikit rasa haru ketika mampu menatap kereta itu berhenti setelah pertemuan sebelumnya ia ditinggalkan. Dia tak langsung menaiki kereta, ia lebih memilih menatapnya terlebih dahulu dan lebih membulatkan tekadnya. Terjadi perdebatan kecil dalam dirinya, tersirat rasa khawatir dengan kerasnya kehidupan Ibukota tapi ia sangat ingin sekali mewujudkan impiannya dan bertemu Caitlin. Maka sejenak ia mematung, membiarkan perdebatan berakhir dengan sendirinya. Dilema.
Teriring ucap basmallah, ia perlahan berjalan menuju pintu gerbong kereta. Iya, dalam perdebatan tadi ia lebih memilih tidak memperdulikan resiko dan mengejar impiannya. Baru saja ia berdiri di gerbong, kereta itu membunyikan klakson pertanda akan berangkat. Rifqi bergegas mencari kursi kosong dan mendapatkannya di ujung gerbong keempat di dekat jendela. Dengan perlahan, kereta bergerak meninggalkan stasiun. Rifqi tersenyum menatap ke arah jendela, menyadari kini dirinya akan menjadi manusia seutuhnya di Ibukota, di tempat asing.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mencari Caitlin
RomanceTerinspirasi dari tulisan yang berjudul "Mencari Herman" karya Dee Lestari. Berisikan kisah tentang seorang remaja yang gila akan sebuah obsesi.