9. Kepergian

27 2 0
                                    

Hari sabtu, tanggal dua puluh tiga desember dua ribu tujuh belas. Tepat hari itu Rifqi akan berangkat, mengadu mimpi dan harapan dengan kenyataan. Pagi-pagi sekali dia sudah bersiap-siap, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang melewati pagi dengan tertidur pulas. Tepat ketika jarum jam menunjukan angka delapan, semua persiapannya sudah selesai, Rifqi hanya perlu pergi ke stasiun yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tapi karena keberangkatan keretanya pukul dua belas siang, Rifqi memilih untuk menunggu di rumah. Tak banyak yang ia lakukan, hanya makan dan menonton film bajakan di laptopnya serta tak lupa minum agar tidak tersedak. Setelah menonton dua film, barulah jarum jam menunjuk ke sebuah tempat kosong diantara angka sebelesan dan dua belas. Saat itu juga Rifqi mematikan semua alat elektroniknya, termasuk smartphone-nya karena tidak akan dibawa dengan alasan agar tak ada orang yang menanyakan keberadaannya. Dengan mengenakan baju berwarna abu-abu yang ditutupi jaket bomber berwarna hitam corak kotak-kotak, celana cargo berwarna gelap dan sepatu berwarna abu-abu, dia benar-benar sudah siap. Kemudian dia membawa carrier-nya dan bergegas pergi meninggalkan rumah. Kebetulan hari itu kedua orangtua Rifqi tidak ada di rumah karena harus datang ke sebuah resepsi pernikahan di Bandung. Dari rumahnya ia berjalan kaki ke jalan raya dan menaiki angkot untuk pergi ke stasiun. Di sepanjang jalan, hanya ada senyuman yang menghiasi wajah Rifqi, pikirannya menerawang pertemua dengan Ayla, dengan Caitlin Halderman.

Semuanya berjalan lancar, sampai suatu ketika ban angkot yang ia tumpangi tiba-tiba bocor. Setelah terjatuh, tertimpa tangga pula. Tak hanya ban angkot yang bocor, siang itu tak ada angkot yang lewat dan membuatnya harus menunggu lama. Bahkan sampai ban angkot itu diganti tak ada satupun angkot yang lewat. Terdengar umpatan-umpatan kekesalan muncul dari mulut Rifqi. Setelah ban angkot itu diganti, Rifqi kembali menaiki angkot. Dia melihat jam, hanya tinggal sepuluh menit lagi menuju jam dua belas. Mulai ada kekhawatiran, takut terlambat. Raut mukanya benar-benar berubah, yang sedari tadi tersenyum berubah dengan penuh kepanikan dan kecemasan. Sembari melihat terus jamnya, dia berharap tidak terlambat. Karena angkot itu memang tidak melewati stasiun, membuatnya terpaksa turun di Alun-alun Cibatu dan kembali berjalan kaki. Dari sana ia belok ke kiri dan berjalan lurus sampai ke ujung jalan, tepat stasiun itu berada.

Dengan sedikit berlari akhirnya ia sampai di stasiun. Suasana stasiun sangat terasa, apalagi ditambah dengan bunyi klakson kereta pertanda akan berangkat. Orang-orang sibuk berlalu lalang keluar masuk stasiun. Puas melihat sekeliling, ia langsung menuju loket tempat pembelian tiket. Tanpa basa-basi ia menanyakan kereta serayu pagi dengan tujuan stasiun pasar senen. Penjaga tiket itu tersenyum kemudian berkata, "Aduh maaf Kang, kereta itu baru aja berangkat. Tadi kedengeran kan bunyi klaksonnya?" Sontak Rifqi terdiam, berarti bunyi klakson yang ia dengar ketika baru sampai di stasiun adalah tanda keberangkatan kereta yang hendak ia tumpangi. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke rel dan mengejar kereta serayu pagi yang berjalan perlahan meninggalkan stasiun. Namun sayangnya meskipun sudah berlari sekuat tenaga, kereta itu tetap saja tidak terkejar. Dia terdiam, duduk di rel melihat kereta itu pergi tanpa dirinya dan kembali terdengar umpatan-umpatan kekesalan.
"Ah anjing! Gara-gara angkot goblok tadi gue jadi telat! Persetan!!"

Rifqi bangkit dan sembari mengucapkan umpatan-umpatan kekesalan ia kembali berjalan kaki ke stasiun. Sesekali ia menendang batu-batu kerikil yang ada di rel. Sesampainya di stasiun ia menanyakan tentang kereta tujuan Jakarta yang lainnya kepada penjaga loket. Namun sial, penjaga loket itu menjawab, "Mohon maaf Kang, gak ada kereta tujuan Jakarta yang lewat Cibatu selain serayu pagi. Terus buat besok, kereta serayu pagi gak bakal beroperasi karena..." belum sempat menjelaskan, Rifqi langsung memotong jawaban penjaga loket, "Udahlah gak usah ribet-ribet ngejelasin. Jadi kapan kereta serayu pagi beroperasi lagi?" kata Rifqi dengan nada kesal. "Paling hari selasa tanggal dua puluh enam Kang." Mendengar perkataan penjaga loket tadi, Rifqi kembali mengumpat dan pergi meninggalkan stasiun.

Entah kenapa dia terus mengumpat dan menyalahkan orang lain. Kenapa tidak instrospeksi diri? Bukan kah keterlambatan itu salah satu kelalaiannya berleha-leha di rumah? Engah ada apa, mungkin kah keterlambatan itu pertanda Tuhan tak merestui? Atau mungkin akan ada cerita menarik dibalik keterlambatan itu? Entahlah...

Mencari CaitlinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang