4

22.4K 535 24
                                        


Sedari tadi senyum di wajah Dava tidak pernah hilang.terlalu senang dan tidak bisa diucapkan dengan kata kata lagi.

"Kamu kenapa sih senyum senyum terus sih macam orang gila" kata Lila dengan kening berkerut.selama perjalanan Dava hanya tersenyum saja membuat Lila yang kadang meliriknya membuat kesal sendiri.

"Nanti aku cemberut kamu protes muka ku kayak tembok,nih aku senyum biar kamu nggak ngatain aku muka tembok" memang Lila selalu kesal jika Dava memasang wajah cemberut atau datar,karena membuat Lila bosan sendiri berasa pergi bersama patung.begitu katanya.

"Iya tapi nggak sepanjang jalan senyum terus,bikin ngeri juga kan,dikira kesambet apaan" kata Lila dengan wajah yang masih kesalnya.Dava hanya tertawa kecil.ia senang dengan kejadian tadi sore yang membuat Dava tidak bisa untuk tidak tersenyum.

"Emang kenapa sih?" tanya Lila.

"Aku seneng kamu berubah kayak Lila yang dulu,walaupun belum 100% tapi aku seneng sama perubahan kamu ini" Lila hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Dava.

Dava masih sibuk menyetir sambil sesekali menatap Lila yang mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela "segitu menariknya ya diluar sampe aku dicuekin gini" kata Dava sontak membuat Lila mengalihkan pandangannya menatap Dava sambil tersenyum.

"Ngambek?" tanyanya.

"Biasa aja kok" jawab Dava membuat Lila terkikik geli.dengan cepat Lila mengecup pipi Dava dari samping membuat senyum Dava perlahan merekah.sekesal apapun Dava jika dikecup pipi nya pasti langsung tersenyum.

"Udah ah jangan ngambek terus nanti gantengnya hilang"

Beberapa menit kemudian mereka sampai di Hotel tempat pertemuan itu dilaksanakan.sengaja Dava membuat pertemuan dengan koleganya di salah satu Ballroom Hotel bintang Lima yang cukup terkenal dengan servis yang diberikan,selain itu perusahaan Dava baru saja menyelesaikan proyeknya di Surabaya yang cukup sukses,dan lagi Dava sedang dalam keadaan mood yang baik jadi moment merayakan party ini cukup pas.

"Perasaan dari kemarin kamu sibuk mulu,nggak pernah nyinggung acara kek gini,terus siapa yang nyiapin?" tanya Lila saat mereka sudah memasuki Ballroom itu.ruangan yang cukup luas dan di desain khusus membuat kesan mewah ketika melihatnya.dari mulai kita masuk pintu depan pun dekorasi nya cukup mewah.Dava memang tidak pernah main main jika masalah menjamu tamu,ia hanya berkata "kalau kita menjamu orang dengan baik,kemanapun kita juga kalau dijamu juga akan baik juga,semacam timbal balik tapi nggak secara langsung juga" begitu ia bilang ketika salah satu tim yang mendekor iseng bertanya saat meeting untuk dekorasinya.

"Iya,kemarin aku sewa orang buat bikin ini ,temennya Dika sih ,terus ketemu sama aku buat atur dekorasi sama budget gitu,pas udah deal dia meeting sama tim nya deh" Lila hanya mengangguk paham mendengar ucapan suaminya.

"Berlebihan" cibir Lila membuat Dava tertawa melihat ekspresi Lila,ia mendekap Lila kemudian berbisik ditelinga Lila "you know me so well baby,at least kalo masalah kayak gini harusnya kamu udah paham sayang"

"Yaudah yuk aku kenalin sama rekan kerja aku" kata Dava sambil menarik Lila ke arah gerombolan yang Lila yakin itu adalah rekan bisnis suaminya.

"Selamat malam,pak Dava" sapa seseorang yang kalau dilihat sudah berkepala 4 itu dengan senyum ramah.Dava tersenyum tak kalah ramahnya kemudian menjabat tangan orang itu.

"Selamat malam pak hartono,selamat menikmati pestanya" katanya.

"Iya terima kasih,pesta yang meriah pak" memang pesta yang cukup meriah yang Dava adakan ini,selain dekorasinya yang melebihi orang kawinan juga jumlah undangan yang dikirim bisa melebihi 2000 orang,padahal itu sudah disortir diambil yang orang penting saja tapi tetap saja masih banyak.

MY POSESIF HUSBAND *season_2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang