Oleh Verina Zahira
"Hey! Berhenti!" detektif Odie Jensen mengejar perampok toko perhiasan seberang jalan. Polisi lain menyusul dengan mobil untuk mengepung dari arah yang berbeda. Tak lama kemudian, perampok amatiran itu tertangkap. Detektif Odie membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi.
~~~***~~~***~~~***~~~
Ya, itu ayahku yang dulu. Sekarang aku yang meneruskan karir kejar mengejar itu. Perkenalkan, namaku Catherine Jensen. Lebih tepatnya aku dipanggil officer Jensen di tempat kerja. Menjadi petugas polisi wanita pertama dalam sejarah kepolisian itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Tapi tekanan dari teman kerja pria membuatku tidak nyaman. Apalagi dukungan dari ayahku saja tidak ada.
Haah.. memang pekerjaan ini nggak cocok untuk perempuan. Tapi ini cita-citaku sejak kecil. Mana mungkin aku mengikuti saran ayahku untuk menjadi seseorang yang tidak kuinginkan.
"Di mata orang 90-an, pekerjaan ini harus dilakoni seorang pria. Wanita itu cocoknya kerja kantoran atau dosen." Kurang lebih itu 'ceramah' ayahku yang kudengar hampir setiap hari.
~~~***~~~***~~~***~~~
Oke, kembali ke cerita.
Aku ditugaskan untuk menyelidiki sebuah geng penjahat yang terkenal suka menculik korban secara acak dan membunuhnya secara perlahan. Geng itu bernama Mudblood.
Ketika mendengar nama geng itu, yang terlintas di pikiranku sekarang adalah sekelompok pembunuh bayaran berwajah tampan dengan sifat sadis.
Usut punya usut, geng itu dipimpin seseorang bernama R.A.Y. Ia memiliki deretan kasus pembunuhan yang belum dipecahkan. Banyak dari anak buahnya diduga mencari masalah dengan penduduk kota. Kasus ini termasuk level top priority yang harus diselesaikan timku. Sebuah batu loncatan besar yang ditempuh untuk mendapatkan hati ayah.
Jam makan siang ...
BRAKK!!!
Aku tidak sengaja menabrak seseorang di depanku. Terlalu banyak pikiran memang tidak baik. Penjelasan chief tentang geng sadis itu terngiang-ngiang di otakku sejak pagi tadi. Dengan cepat aku membereskan makananku yang jatuh.
"Ahahahah!" terdengar tawa dari orang sekelilingku. Tapi aku terlalu sibuk untuk menghiraukan mereka. Terpaksa aku berjalan ke kafetaria lagi untuk mengambil jatah makan siang.
Malas rasanya kalau ke tempat istirahat petugas lagi. Lebih baik ke ruang kerjaku saja. Disana lebih 'aman' dari tukang nyinyir. Dalam hitungan menit, ayam goreng dan mash potato lenyap.
~~~***~~~***~~~***~~~
Tak...tak.... tak...
Jariku menari-nari di atas keyboard komputer. Mencari informasi yang bisa menunjukkan dimana keberadaan geng itu sekarang. Bukan hanya itu, aku lebih penasaran dengan inisial R.A.Y. Itu nama palsu. Pasti orang itu mempunyai kesalahan besar sampai mengganti namanya sendiri. Kesalahan yang membuat dia ingin menghilangkan jejak-jejak hidupnya.
Konsentrasiku buyar karena sebuah suara ketukan yang keras. Tampaknya ketua tim penyelidik, Hans, mengetuk pintuku sejak tadi. Dengan tergesa-gesa aku membukakan pintu ruang kerjaku.
"Apa yang kau lakukan sejak tadi? Waktuku habis hanya untuk menunggumu membukakan pintu ini!" aku tertegun dengan omelan ketua timku itu. Sebelum aku sempat menjawab, ia melanjutkan kata-katanya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
25CERPEN
Short StoryKUMPULAN CERPEN : 1. KENANGAN INDAH ITU TERULANG KEMBALI 2. DECEMBER 12TH 3. SEJARAH KYOTO 4. BEGITULAH 5. AFTER THE SUNSET 6. RIANA 7. MY BEST BEST FRIEN 8. KAU DAN AKU 9. DEPARTURE 10. ADINDAKU 11. WAKTU YANG SINGKAT 12. KEJADIAN YANG TAK TERDUGA ...
