Bagai langit dan bumi, begitulah perumpamaan yang pantas disangdingkan untuk dua orang pemuda yang memiliki perbedaan latar belakang.
Kim Namjoon, pria yang biasa dipanggil Namjoon itu berasal dari keluarga kaya yang terpandang. Bahkan kekayaan dari...
"Kenapa berhenti?" Kata Tuan Bae saat supirnya mengerem mobil secara mendadak.
"Tidak boleh lewat, Tuan." Sahutnya.
"Persetan dengan itu. Cepat jalan!" Ucapnya menggebrak bahu supirnya dari belakang.
"Ya, Tuan."
Tinnn!
Mobil kembali berhenti saat mobil milik Tuan Bae berpapasan dengan mobil milik Tuan Kim.
Sepertinya akan terjadi pertengakaran antar orang kaya sebentar lagi.
"Siapa orang bodoh yang salah jalan itu?" Tanya Tuan Kim pada supirnya.
"Katakan pads si brengsek itu untuk menyingkirkan mobilnya!" Suruh Tuan Bae pada supirnya.
"Hei minggir!" Ucap supir.
"Siapa si brengsek ini? Biar kulihat." Kata Tuan Kim turun dari mobilnya, hal yang sama dilakukan oleh Tuan Bae.
"Pindahkan mobilmu atau kupatahkan lehermu!" Kata Tuan Bae.
"Kau mundur atau..." Ucapan Tuan Kim terhenti saat melihat dengan jelas wajah yang berhadapan dengannya saat ini.
Mereka berdua sama-sama diam tidak bergeming. Menatap lawan bicaranya satu sama lain, dari atas hingga bawah. Sampai akhirnya sebuah senyuman terukir di wajah masing-masing.
"Hei, Joo Han- kau?"
"Hyun Jo?"
Mereka tertawa renyah sambil berpelukan.
"Joo Han! Selama 20 tahun kau belum berubah sedikit pun."
"Benarkah? Terima kasih." Ucapnya merasa senang.
"Dulu kau botak... sekarang juga masih botak."
Semua orang yang mendengarnya tertawa kecuali si pemilik kepala botak itu, sebab saat ini mereka tengah berhenti di salah satu pasar.
"Hyun Jo! Kau juga tidak berubah."
"Benarkah?" Tanyanya bersemangat.
"Kau dulu hitam, sekarang juga masih!"
Joo Han membalasnya, semua orang tertawa tapi tidak dengan si pemilik tubuh hitam itu.
"Hyun Jo! Ini suatu kebetulan. Kau tinggal di kota yang sama namun belum pernah bertemu."
"Tapi hari ini kita bertemu. Ikut aku!"
"Ikut kemana?"
"Bertemu calon pendamping anakku!"
"Bagus sekali!" Joo Han mengulurkan tangannya mengajak Hyun Jo bersalaman.
"Tapi dia putri siapa?"
"Dia putri Tuan Joo Hyun, konglomerat tekstil."
"Mwo?" Tentu saja Joo Han terkejut, bagaimana tidak? Joo Hyun konglomerat tekstil itu adalah namdongsaeng-nya.
"Ya!"
"Tuan Joo Hyun?"
"Ya!"
"Lebih baik batalkan saja!"
"Mengapa?"
"Karna kebetulan Tuan Joo Hyun namdongsaeng-ku. Dan putrinya sudah menikahi anak dari supirnya."
"Mwo?" Ucapnya terkejut.
"Anak-anak kita juga dapat membuat kesalahan yang sama."
Hyun Jo semakin terkejut, ia memegangi dadanya.
"Kita harus temukan cara untul menghentikan semua ini. Kajja, ikut aku!"
"Ikut kemana?"
"Aku akan memberitahumu nanti."
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BIOENERGI CENTER
Ruang Konsultasi~
"Aku mengerti masalahmu, Tuan Joo Han. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Ketika anak-anak sudah dewasa, mereka bisa menikahi siapa pun. Dan tak ada hukuman atau lembaga yang dapat menghentikan mereka."
"Itu sebabnya aku datang padamu, untuk menghentikan putriku menikahi supir atau orang lainnya! Jika itu terjadi, aku tak punya pilihan lain selain bunuh diri. Kau harus temukan cara untuk menghentikannya." Ucap Tuan Joo Han sedangkan Tuan Hyun Jo hanya menggut-manggut.
"Uang bukan masalah di sini." Lanjutnya.
Orang itu tertawa mendengarkannya, "Kalian orang kaya sungguh tau cara menyelesaikan masalah. Lagi pula aku sudah temukan caranya."
Ia membuka laci mengambil selembar surat dan meletakkannya di atas meja, di hadapan mereka.
"Ini adalah surat nikah."
Joo Han mengambilnya dan membolak-baliknya.
"Ini untuk?"
"Kau harus mendapatkan tanda tangan putrimu."
Joo Han bangkit dari kursinya.
"Dan jika dia bertanya untuk apa ini semua? Aku harus bagaimana?" Ucapnya.
"Kau harus meyakinkannya. Kau harus mendapatkannya bagaimana pun caranya."
"Cuma begitu?"
"Ya!"
"Baik akan kulakukan. Lalu?" Pria itu kembali duduk dengan tenang.
"Lalu dapatkan tanda tangan anak pilihanmu di sini." Sambil menunjuk tempat tanda tangan pada kolom yang lain.
"Oh, begitu. Lalu?"
"Tanda tangan 5 saksi. Dan aku akan mengesahkannya."
"Lalu?" Tanyanya lagi.
"Lalu apa? Selesai... mereka sudah menikah secara hukum!"
Wajah sumringah langsung tergambar dari ketiga pria itu.
"Kau jenius! Hyun Jo. Dia sungguh jenius!" Puji Joo Han.
"Ya, jenius." Timpal Hyun Jo
"Ini cek. Cek kosong. Isi sendiri jumlahnya!" Joo Han mengeluarkan cek lalu menandatanganinya dan diberinya pada orang itu.
Keduanya menoleh saat Hyun Jo ikut menyodorkan cek kosong di hadapannya.
"Ini cek kosong. Berikan aku surat nikah juga!"
"Kenapa tidak?" Ucap orang itu.
"Hyun Jo, kenapa kau membutuhkannya?" Tanya Joo Han heran.
"Joo Han, kita punya masalah yang sama. Anakku sangat sulit dikendalikan."