Saat ini Namjoon tengah terduduk di lantai bersandar pada meja sambil mendengarkan dvd player yang memutar lagu lawas.
Taehyung menghampirinya dan mematikan lagu itu.
"Hei, pangeran kesedihan apa yang kau lakukan? Aku di sini, jangan menjadi Romeo yang bersedih. Ayolah bergembira!"
Namjoon menghela napas lalu menunduk dalam.
Taehyung beralih mengambil barbel untuk mengencangkan otot tangannya, selama ini ia merasa kalau tangannya itu seperti tangan wanita. Tidak ada bentuk kotak-kotak otot. Ia juga ingin dikagumi oleh setiap wanita karena memiliki roti sobek, tidak seperti saat ini.. roti tawar yang tercelup ke dalam segelas susu. Lembek dan tidak bergairah dilihatnya.
"Sudah 3 hari kau seperti ini. Lupakan gadis itu, kau bisa cari gadis lain."
Namjoon menoleh pada pemuda itu, "Tidak Taehyung-ah, aku tak bisa hidup tanpanya. Sekarang apa yang harus kulakukan?" ucapnya lirih.
"Jangan terbawa perasaan. Jangan pernah lupakan 3 saran penyair terkenal, jangan pernah mengejar 3 hal dalam hidup..., bus, kereta, dan wanita. Hilang 1 datang 2. Mengerti? Hilang 2 datang 3, hilang 3 datang 4, hilang 4 datang 5."
Namjoon sontak mengabaikan ucapan Taehyung yang terus saja mengoceh menghitung sampai 'hilang 99 datang 100.'
Rupanya pemuda itu tak sengaja melihat Jihyo yang berlarian karena tangannya ditarik oleh 2 anak perempuan di seberang gedung tempatnya dan Taehyung saat ini.
"Kenapa kalian mengajakku kemari?" tanya Jihyo pada kedua anak kecil itu.
"Bukankah ucapan ini bagus?" Anak kecil itu menunjuk pada sebuah tembok yang terdapat gravity nama Jihyo.
"Happy birthday?" gumam Jihyo.
Namjoon meninggalkan Taehyung, ia berjalan dengan mata yang memandang lurus ke arah Jihyo.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Taehyung.
Perlahan Namjoon terus melangkah menuju pinggir gedung, menginjak kedua pipa yang menghubungkan antara gedung tempatnya berdiri saat ini dengan gedung tempat Jihyo bersama anak kecil.
Ia berjalan seolah tidak takut ketinggian sebab matanya telah dibutakan oleh cinta.
...
"Apa kau tau mana pipa yang harus dipotong?" kata seorang pria tua yang berada pada salah satu kamar di gedung apartemen itu.
Pria satunya hanya menjawab dengan gelengan dan anggukan.
"Dasar budek! Kau harus potong pipanya."
"Pipa? Ya, ya."
"Palli, paboya!"
Pria yang disuruh untuk memotong pipa berjalan keluar sedangkan pria tua itu mengamatinya melalui jendela.
"Omo!" Ia terkejut melihat seorang pemuda berjalan di atas pipa itu.
"Hei bodoh, mengapa kau jalan di atas pipa?"
Namjoon tidak menghiraukannya, telinganya benar-benar sudah tuli.
"Dasar bodoh! Aku bicara denganmu. Apa kau tuli?"
Namjoon menoleh karena merasa terganggu.
"Ada apa? Pergilah!" usirnya.
Ia malah mengusir pria tua itu, dasar bodoh!
Matanya kembali terfokus pada Jihyo, wanita idaman hatinya. Wajahnya terlihat seperti orang bodoh, senyum yang ia lukiskan benar-benar menjijikan.
"Hei bodoh, lihatlah ke bawah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Serupa Tapi Tak Sama [ END ]
FanfictionBagai langit dan bumi, begitulah perumpamaan yang pantas disangdingkan untuk dua orang pemuda yang memiliki perbedaan latar belakang. Kim Namjoon, pria yang biasa dipanggil Namjoon itu berasal dari keluarga kaya yang terpandang. Bahkan kekayaan dari...
![Serupa Tapi Tak Sama [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/121837260-64-k558918.jpg)