Engagement Party 🎆

49 9 8
                                        

Gelak tawa terdengar di halaman rumah Tuan Kim yang sangat luas. Tawa itu senyap saat Tuan Bae datang dan berteriak memanggil nama Tuan Kim untuk segera keluar menemuinya.

"Hyun Jo, keluarlah!"

Tuan Kim akhirnya keluar.

"Bicaralah, Joo Han," sahutnya.

"Apa yang harus dibicarakan sekarang? Kau baik sekali menjaga persahabatan kita, Hyun Jo! Kau lindungi musuhku di rumahmu. Dan kau sebarkan undangan pertunangan ini! Kau baik sekali, Hyun Jo! Kau baik sekali."

"Joo Han, aku sudah memikirkan segalanya dengan seksama."

"Melihat darah anakmu telah membuatmu lemah. Kau senang membantu orang miskin. Menjadikan pengemis wanita ini menjadi menantumu...," ucapnya seraya menunjuk Jihyo, "tapi aku takkan pernah menerima keparat ini sebagai menantuku." Kini jarinya beralih menunjuk Taehyung.

"Appa, cobalah untuk mengerti..."

"Diam! Dan dengarkan aku baik-baik. Caramu yang memilih suami dari pinggir jalan. Dengan cara sama kau harus mencari Appa untuk merestui pernikahanmu. Karena setelah hari ini, aku bukan lagi Appamu."

Irene tidak mampu berkata apa-apa selain menatap kepergian Appanya.

"Kau boleh pergi dari sini, tapi ingatlah satu hal. Kau tidak punya rambut, kau tidak punya hati, apa yang kau tau tentang memberi? Hal ini di luar jangkauanmu."

Tuan Bae sangat kesal mendengarnya.

"Pergi, kubilang pergi, cepat!"

Tuan Bae pergi membawa sejuta sakit di hatinya, sakit karena tidak dianggap oleh anak, dan sakit dihina oleh sahabatnya sendiri.

"Jangan khawatir, Nak. Aku akan melakukan tugas Appamu."

"Oh, Tuhan memberimu pencerahan. Hari ini kau memberiku kejutan besar," kata Hoseok.

🍃🍃🍃

17 Mei
Pesta Pertunangan

"Tuan Seo, aku senang kau telah datang."

"Tuan Kim, mana mungkin aku tidak datang? Mana bisa kuabaikan! Aku mau bertanya, Tuan Kim."

"Ya, silahkan."

"Kau sedang mencari gadis kaya untuk anakmu, bukan?"

Ucapan itu tidak sengaja didengar oleh Irene dan Hoseok yang kebetulan berada di dekat mereka.

"Tapi sekarang kudengar kau menerima pegawai biasa untuk puteramu. Dengan kata lain, kau menunjuk bintang, tapi mendapat kotoran."

Tuan Kim menengok jengah pada Irene. Hoseok bangkit dari duduknya, ikut tertawa saat Tuan Seo tertawa renyah.

"Tuan Seo, apa kabar?" tanya Hoseok.

"Baik."

"Jika tidak keberatan, aku ingin bertanya?"

"Tidak, tidak, mengapa aku keberatan?"

"Ada apa dengan puterimu?"

"Wae?" lirihnya. Dalam seketika Tuan Seo menunduk malu.

"Kudengar dia berhubungan dengan tukang roti. Kau tidak perlu khawatir, semua roti di pesta ini dari toko menantumu."

Hoseok mengambil sepiring roti, "Ayo, buka mulutmu. Buka mulutmu atau kubuka rahasiamu."

Karena sudah tidak ada pilihan lain lagi, akhirnya Tuan Seo membuka mulutnya dan langsung dijejali sepotong roti oleh Hoseok.

Semua yang menyaksikannya ikut tertawa, namun tawa itu hilang saat melihat kedatangan Tuan Bae.

"Kajja. Joo Han, kau datang jauh-jauh mengapa ragu untuk mendekat? Kemarilah, dan berkati puterimu."

Joo Han langsung mendekat dan memeluk Irene.

"Appa, aku tau kau pasti datang."

Joo Han melepaskan pelukannya.

"Tentu saja, Nak. Mana mungkin aku tidak menghadiri pertunanganmu. Di mana Taehyung?" tanyanya.

"Dia akan datang sebentar lagi."

...

Saat Taehyung dan Jihyo dalam perjalanan menuju istana Tuan Kim, bersama pamannya Jihyo, di pertengahan jalan mereka mengalami kendala.

Beberapa orang menghadangnya dengan memasangkan banyak petasan air mancur di sana.

"Lihatlah, Tuan! Anak orang kaya yang nakal! Hari inu bukan perayaan tahun baru, tapi menyalakan petasan. Itu juga di tengah jalan."

"Kurasa ini akan sampai malam. Ayo kita bicara pada mereka," ucap Taehyung.

"Ayo, Tuan!"

Sementara Taehyung dan juga supir taxi sedang keluar, saat ini di dalam mobil hanya ada Jihyo dan pamannya.

"Ya! Bisakkah kalian hentukan ini dulu sebentar? Kami ingin lewat."

Sret!

Seseorang membekap mulut Jihyo melalui jendela mobil yang kacanya tidak tertutup itu. Dan seseorang lainnya menjerat leher paman Jihyo.

"Kenapa menyalakan petasan? Tolong dengar! Hentikan sebentar, kita harus pergi dari sini," pinta Taehyung.

"Bicaralah lebih keras, aku tidak bisa mendengar."

"Taxi kami harus lewat, tolong beri jalan."

"Dengar, berhenti sebentar, biarkan taxi mereka lewat."

"Baiklah."

"Gomawo.."

"Mari kita pergi!"

"Mari, Tuan!"

Setelah kembali ke mobil, Taehyung tidak menemukan Jihyo di sana. Bahkan pamannya pun sudah tergeletak di aspal. Ia menoleh ke arah orang yang main petasan tadi, mereka pun sudah menghilang. Dan... supir taxinya pun ikut menghilang padahal daritadi ia mengikuti Taehyung.

...

Gudang. Jihyo dibawa ke sebuah gudang besar oleh seseorang dengan tangan yang sudah terikat.

Orang itu merusak gaun bagian atasnya, hingga terekspose tank top berwarna coklat yang dikenakan Jihyo.

Belum sempat orang itu berbuat kurang ajar, Taehyung sudah lebih dulu datang, memukulinya hingga babak belur.

Taehyung membuka ikatan tali itu tanpa berbicara sepatah katapun. Jihyo terus memperhatikannya, lalu memeluk pria itu.

Tanpa mereka sadari, setiap pergerakan yang mereka lakukan berhasil diabadikan oleh seseorang.

Hosh
Hosh
Hosh

Paman Jihyo datang dengan napas yang terengah-engah. Ia tersenyum melihat keponakannya itu baik-baik saja.

🍃🍃🍃
To be continued.

Serupa Tapi Tak Sama [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang