11 - The Baby Is Mine

93.3K 5.7K 38
                                        

Hanna kembali mendapati dirinya terbangun di ruangan bernuansa serbaputih dengan suasana hening menegangkan. Belum genap seminggu dirinya keluar dari rumah sakit karena pingsan di lobi kantor, sekarang dia sudah kembali terbaring di brankar dengan tubuh lemas tak berdaya.

Ketika pandangan matanya mulai jelas, ia melihat Nathan yang bersedekap dan memandanginya dengan raut wajah penuh kemarahan. Ekspresinya terlihat menakutkan, membuat Hanna memalingkan muka untuk menghindari tatapan tajamnya. Mereka saling terdiam sampai Nathan membuka pembicaraan.

"Kau masih terus menghindariku di saat kau sedang mengandung anakku?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang sangat tak diinginkan karena terlalu menakutkan bagi Hanna. Sontak, ia membelalakkan mata tidak percaya bahwa akan secepat ini Nathan mengetahui perihal kehamilannya. Sejenak ia berusaha kembali menormalkan raut wajahnya, lalu dengan segenap alasan Hanna berencana menyangkal semua kebenaran.

"Dia milikku. Aku tidak sedang mengandung anakmu," sangkal Hanna. Dengan protektif, ia memeluk perutnya.

"Kau sedang mencoba membodohiku?" Nathan mendekat, sedangkan Hanna beringsut mundur sampai ujung brankar untuk menghindarinya. Namun, dengan segera Nathan meraih kedua lengannya, membuat Hanna tersentak akan jarak yang semakin menipis.

"Ak-aku hamil karena kekasihku. Bukan denganmu."

"Kau pikir aku sebodoh itu? Sejak bertemu denganmu aku selalu mengawasimu, Hanna. Kau tidak pernah dekat dengan pria mana pun dalam dua bulan terakhir. Bahkan kau sudah memutuskan hubungan dengan kekasihmu yang bernama Lucas. Aku benar, bukan?"

Hanna menggeleng keras dengan mata berkaca-kaca masih berusaha menyangkalnya. "Dia milikku. Dia tumbuh di rahimku dan aku yang berhak atas dirinya. Bukan kau ataupun yang lainnya."

Nathan semakin geram mendengar penolakan Hanna atas dirinya. Ia mencengkeram kedua lengan Hanna dengan kuat dan mendekatkan bibirnya ke telinga Hanna.

"Dengar baik-baik, Nona Keras Kepala. Tanpaku, kau tidak akan pernah memilikinya," kata Nathan berbisik, lalu menegakan tubuhnya melepaskan Hanna. Ia menyeringai menatap Hanna.

"Aku akan membawa orang tuaku datang ke rumahmu untuk membicarakan pernikahan kita," ujar Nathan penuh kemenangan.

Nathan beringsut mendekati Hanna untuk mengecup keningnya. "Aku pergi sebentar untuk mencari makanan untukmu. Aku yakin kau akan muntah jika memakan makanan yang disediakan rumah sakit." Nathan meninggalkan ruangan tersebut setelah memakai setiap atribut penyamarannya.

"You bastard," umpat Hanna.

~o~

Nathan yang akan mengambil pesanan khususnya di kantin rumah sakit dikagetkan oleh tepukan di pundaknya. Orang yang mendapat pelototan marah dari Nathan menyengir dan meminta Nathan duduk sebentar, menceritakan perihal dirinya yang bisa sampai di rumah sakit.

"Bagaimana kau bisa tahu jika aku ada di sini, Ethan?" Mata Nathan menyipit curiga pada Ethan, sedangkan Ethan hanya menyengir menunjukkan ponselnya.

"Aku mengkhawatirkanmu, Nate. Orangtuamu akan membunuhku jika kau terluka bahkan hanya sedikit saja," ucap Ethan sedikit mendramatisasi suasana.

"Kau sudah melanggar privasi seseorang karena menyadap ponselnya," ucap Nathan menahan kesal. Ethan hanya mengedikkan bahu mengabaikan ucapan Nathan.

"Jadi bagaimana kau bisa berakhir di sini? Lukamu tidak parah. Hanya memar sedikit," tanya Ethan seraya memeriksa kondisi artis asuhannya yang terlihat memar di bagian pipi kiri.

"Tadi aku melihat Hanna dan langsung mengejarnya hingga sampai basement. Terjadi sedikit insiden di sana sehingga aku harus segera membawa Hanna kemari. Ah, aku masih sangat kesal dengan para preman itu. Aku harap Anderson segera menemukannya karena aku tidak akan pernah memaafkan mereka jika terjadi sesuatu pada Hanna dan kandungannya."

NOT Strangers [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang