"Choose me or lose me."
***
"Loh? Kak Anya?"
Anya tersenyum lantas melambai ke arah Irene yang sedang menyapu teras depan rumahnya.
Irene menyandarkan gagang sapunya lalu segera berjalan menuju pagar-membukanya untuk Anya.
"Terima kasih," ujar Anya tulus. "Kiel udah pulang?"
Irene menggeleng, "Belum, tuh,"
Anya menghembuskan nafasnya.
"Kenapa kak?"
Anya tidak segera menjawab. Ia melepaskan sampiran tas-nya lalu duduk lesehan di teras rumah Kiel.
Anya mendongak melihat langit senja yang tampak begitu menawan dalam balutan warna jingga kemerahan yang mulai menggelap.
Di luar kendalinya, kelenjar air mata mendesak pasokan tetes kristal bening itu untuk keluar.
Dadanya terasa sesak. Sangat.
Anya pernah mendengar bahwa seringkali kita menangis tanpa tau alasan atau penyebabnya. Dan hal itu dialami olehnya akhir-akhir ini.
Irene sebenarnya tidak tau apa yang terjadi, tapi gadis itu berusaha menjadi perosotan Anya untuk meluncurkan apa yang gadis dengan iris amber itu rasakan.
"Kak Anya baik-baik aja?"
Pertanyaan klise. Pertanyaan yang sering diajukan walau jawabannya sudah diketahui.
Pertanyaan yang sangat sensitif apabila ditanyakan saat air mata sudah menggunung di pelupuk mata.
Sebab pertanyaan itu membantu air mata itu tumpah. Luruh dalam sekali kedip.
Irene sengaja.
Anya menangis saat itu juga. Terisak.
Gadis itu menutup wajahnya. Bahunya berguncang hebat.
Anya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan isakan. Wajahnya benar-benar ia tenggelamkan.
Tangisan ini benar-benar tak tahu tempat.
Irene memeluknya erat, mengusap punggungnya, menenangkan.
Sesaat pelukan itu terasa asing namun hangatnya begitu familiar.
Sayup-sayup Anya mendengar Irene berbisik, "Jangan nangis di teras rumah gue, An. Lo jelek, malu diliatin tetangga,"
Ajaib. Isakan Anya terhenti.
Refleks, terjadi begitu saja, Anya mendorong tubuh yang memeluknya tadi.
Astaga, bukan Irene!
______
"Pelan-pelan An—aww!"
Kiel meringis sambil meremas-remas celana abu-abu seragam sekolahnya.
Anya meletakkan kapas putih yang berbau alkohol itu di tepi meja.
Ia memandang kesal ke wajah Kiel. Tangannya terulur. Anya meremas udara di samping kedua pipi Kiel. Gemas.
Kiel menatap Anya horror.
"Serius deh, Ki." ujar Anya sebal.
Serta merta saja Kiel tertawa. Sedari tadi cowok itu selalu saja menggoda Anya sebagai pengalih jawaban atas pertanyaan Anya tentang alasan Kiel sampai lost control di kantin sekolah tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flirtationship
Fiksi Remaja#890 in teenfic 21/08/2017 amazing cover by @loliluu Flirtationship ; More than a friendship less than a relationship. Ini tentang Yehezkiel Salvanio yang egois atas perasaannya dan juga tentang Zefanya Fricellia yang tak bisa memaksa dan menuntut t...
