Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sisi lain, di tempat dan waktu yang sama, seorang pria bergegas memasuki ballroom hotel yang terkenal itu. Ia adalah Winwin.
Nama asli pria itu sebenarnya Dong Sicheng, tetapi karena orang-orang banyak yang mengeluh susah menyebutnya dengan ejaan dan aksen yang benar, maka ia menyarankan untuk memanggil dirinya dengan Winwin saja. Toh menurutnya itu bukan nama yang buruk.
Malam ini sepupunya-Cheng Xiao-mengadakan pesta pernikahan. Tadinya ia tidak berniat datang karena akan kerja lembur mengurusi bisnis pembangunan cabang apartemen baru di perusahaan milik keluarganya yang turun menurun. Tetapi Mamih dan Papihnya mengancam akan memberhentikan pembangunan tersebut apabila ia tidak datang.
Saat keluar dari lift, Winwin memutuskan untuk pergi menuju toilet terlebih dahulu. Ia merasa harus benar-benar mengecek penampilannya karena tadi ia hanya berganti baju seadanya di kantor.
Tiba-tiba, ketika ia sudah selesai dan ingin berjalan menuju pintu ballroom ada yang menarik pergelangan tangannya. Refleks ia berbalik.
"Ehm, mas.."
Winwin mengerutkan keningnya merasa tidak mengenal perempuan yang menarik tangannya ini.
"Mas, biasa aja dong ngeliatinnya. Saya bukan copet kok" kata gadis itu kemudian melepas pegangannya di tangan Winwin.
"Anu.. mas, bisa minta tolong gak? Saya daritadi nungguin orang tapi gak ada yang ke toilet selain mas-nya ini" pinta Jihyo dengan wajah memelas sambil memegangi perutnya dengan sebelah tangan.
Mengedarkan pandangannya, Winwin mencoba mengerti kalau memang tidak ada orang selain mereka berdua di lorong ini.
Winwin berdehem pelan kemudian menjawab, "tolong apa?"
Mata Jihyo berbinar merasa menemukan pahlawannya di tengah-tengah gurun pasir.
"Mas bisa tolongin saya beli pembalut di indomaret gak, mas? Pliiiissss, saya butuh banget mas. Kalo gak dipake, bisa luber kemana-mana."
Kemudian Winwin membelalakan matanya kaget. Yang benar saja, masa seorang Winwin disuruh membeli pembalut di mini market. Mau ditaruh dimana nama baiknya sebagai pemimpin perusahaan.
"Ma..maaf, saya gak bisa. Minta tolong yang lain aja" Ujar Winwin menolak dengan terang-terangan.
Jihyo mencibir pelan, "Kalo hape saya gak lowbat juga daritadi saya udah nelpon temen-temen saya mas. Lagian saya males masuk ke ballroom lagi, soalnya ada mantan saya."
"Sini deh pinjem hape mas nya aja. Mas terlalu sombong untuk berbuat baik kayanya."
Winwin mengeluarkan ponsel dari saku jas nya dengan setengah hati. Gadis didepannya ini kasar sekali untuk orang yang meminta tolong.
"Halo, Chung..." ucap Jihyo saat sambungan telepon sudah terangkat.
"Siapa nih?"
"Gue, Jihyo. Udah jangan banyak tanya, cepet susul gue ke toilet. Penting."