_Soo Hwa POV_
Setelah melepaskan rasa rindu kami, aku yang telah bekerja sama dengan So Ra eonnie, Eommonim, dan Abonim sudah menyelesaikan persiapan makan malam bersama di apartment kami.
Apartment kami?
Ya, aku dan Hyukjae Oppa sudah tinggal bersama, karena kami juga sudah menikah. Kabar itu pun sudah tersebar luas walaupun kami sempat mengalami begitu banyak masalah 5 tahun yang lalu, dan pada akhirnya secara perlahan pun ELF menerima fakta itu.
"Jadi bagaimana kuliahmu, Sayang?" tanya Eommonim disela lamunanku.
Aku sedikit bergedik dan menimbang jawabanku, "Hmm.. Baik-baik saja, Eommonim."
"Katamu kau jenuh." Gumam Hyukjae Oppa yang sebenarnya berniat untuk menggodaku.
Hm, aku sedang menjalani masa perguruan tinggiku. Hyukjae Oppa berangkat saat aku masih di tahun pertama, dan sekarang aku sudah memasuki tahun ketiga. Jika dipikir-pikir waktu benar-benar berjalan begitu cepat.
"Jenuh kenapa, hm?" Tanya Abonim bergantian.
"Hanya jenuh karena kembali dipusingkan saja, Abonim. Di luar itu aku menikmatinya." Jawabku.
***
Setelah menghabiskan makan malam, kami sedikit berbincang-bincang membahas tentang setiap keseharian kami salah satunya membahas kemajuan usaha keluarga Hyukjae Oppa.
Saat waktu menunjukkan pukul 10 malam, mereka pun pamit pulang setelah menolak permintaan kami untuk menginap. Setelah mengantar keluar, aku dan Hyukjae Oppa kembali ke dalam.
"Sekarang kita juga istirahat, hm?" Ajak Hyukjae Oppa yang sudah merangkulku.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyumku. Setelah itu kami beralih ke kamar kami.
Sesampainya di kamar, kami justru diselimuti dengan keheningan, entah kenapa aku hanya ingin menghabiskan waktuku untuk menatap matanya yang menjadi organ favoritku.
Hyukjae Oppa terkekeh dan mengusap pipiku, "Waeyo?"
"Eung?" Responku.
"Bukankah aku bilang kita harus istirahat? Kau besok kuliah kan?" Tanyanya.
"Tidak. Besok aku libur. Hari senin nanti aku akan menghadapi ujian akhir semester. Jadi masih ada sisa waktu libur sebelum ujian." Jelasku.
Dia tersenyum tanda mengerti, "Kau tumbuh dengan cepat, hm?"
Aku hanya tersenyum dan beralih untuk masuk ke dalam pelukannya. Hari ini yang ingin aku lakukan hanya dua, menatap matanya dan memeluk tubuhnya seharian. Bisa kurasakan dia mengusap kepalaku dan membalas pelukanku.
"Rasanya baru kemarin, saat kau selalu merengek saat bersamaku, saat kau cemburu dengan yeoja lain yang dekat denganku bahkan dalam pekerjaan, kau yang selalu memilih untuk menjauhiku dan menangis sendirian saat kau marah dan juga cemburu padaku." Ucapnya panjang lebar, dan aku memilih untuk diam mendengarkan ucapannya serta membiarkan memori itu kembali berputar di kepalaku.
"Dan juga saat kau menangis kencang saat tanggal wajib militerku tersebar." Ucapnya lagi setelah mengeratkan pelukan kami.
"Sudah banyak kejadian yang kita lewati, dan kau masih mau bersamaku. Kau juga tetap menjadikanku sebagai pilihanmu." Bisiknya lagi.
Aku sedikit mengendurkan pelukanku dan kembali menatap matanya.
"Aku... aku bersyukur karena kau juga masih bertahan denganku. Dengan segala sikap kekanakanku yang menginginkan kau selalu mengikuti apa yang aku mau. Tidak hanya sekali aku membuatmu malu, pusing dan mungkin kesal padaku, tapi kau tidak pernah mengatakan jika kau ingin meninggalkanku." Tuturku kini.
"Karena aku mencintaimu. Karena kau adalah salah satu alasanku untuk hidup." Jawabnya.
Aku tersenyum, "Aku juga mencintaimu. Sangat." Balasku.
"Aku pikir waktu 1 tahun 9 bulan ini cukup membuatku berpikir untuk berubah. Aku tidak ingin menyusahkanmu lagi dengan sikapku yang kekanakan lagi." Tuturku lagi.
Hyukjae Oppa hanya menanggapi perkataanku dengan anggukan dan senyumannya.
CUP~
Dengan tiba-tiba dia mendaratkan ciuman ringannya itu di bibirku. Aku cukup terkejut dengan ciuman singkatnya itu.
"Haha... Wae?? Kenapa kau terkejut seperti itu?" Kekeh Hyukjae Oppa.
"Bagaimana aku tidak terkejut jika kau menciumku tiba-tiba dengan masih di dalam percakapan seperti ini." Jawabku.
Bukannya menjawab, Hyukjae Oppa kembali tersenyum dan mengusap pipiku.
"Aku masih merindukanmu." Bisiknya.
Yang entah kapan dimulainya dia sudah mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku yang mengerti dengan apa yang akan dilakukannya pun hanya menurut dan juga mendekatkan wajahku, dan akhirnya bibir kami bertemu.
Kami bahkan masih belum tau kapan rasa rindu ini akan menghilang, bahkan setelah kami sudah berada di jarak sedekat ini.
