_Soo Hwa POV_
Jadwalnya mulai padat seperti dulu. Rasanya sama seperti saat dia meninggalkanku ke militer.
Sepi sekali.
Menyebalkan saat jadwalnya padat, jadwal kuliahku justru sudah mengendur. Aku kembali harus menikmati kesunyian tempat huni kami ini.
Ku banting tubuhku ke atas tempat tidur kami sebagai pelampiasan kejenuhkanku.
Ketidakyakinannya akan perubahanku terjawab. Benar. Aku belum sepenuhnya tumbuh dewasa. Itu sangat sulit.
Aku yang selalu melepasnya dengan senyuman lebarku saat dia pergi bekerja, meluntur cepat saat pintu mobilnya tertutup. Kadang aku merasa bersalah karena sepertinya aku berpura-pura dan menutupi sesuatu darinya.
Aku sangat membutuhkannya di setiap hariku, tapi aku juga tidak bisa terus-menerus bersikap egois.
Tapi kalau dipikir-pikir walaupun aku tidak sepenuhnya berubah menjadi dewasa, setidaknya ada perubahan dariku. Terhitung saat kepulangannya, aku belum pernah memulai pertengkaran kami.
"Aaaah, tidak. Tidak boleh!!" Gerutuku saat aku kembali mengingat pertengkaran kami dulu.
Mataku begitu saja melirik ke arah bingkai foto yang diletakkan di samping tempat tidur kami. Aku pun mengambil benda itu.
Foto kami 5 tahun yang lalu. Saat dia melamarku.
"Kau... melamarku? Tapi... kita baru saja bertengkar... dan... Oppa bilang tidak bisa melanjutkannya lagi.."
Benar. Saat itu kami bertengkar, tapi tiba-tiba saja dia melamarku, dan mengatakan,
"Aku tidak bisa melanjutkannya lagi sebagai kekasihnu. Aku ingin menikah denganmu."
Namja itu memang sulit untuk ditebak. Padahal saat itu aku memang sudah sangat keterlaluan, bahkan sampai sekarang aku tidak mengerti atas pilihannya.
"Melamun lagi, hm?"
"AIGOO!!" pekikku karena dia tiba-tiba saja datang di hadapanku.
Ya, siapa lagi kalau bukan suamiku😁
"Aish, kau mengejutkanku." Rengekku.
"Waah.. nada bicara itu. Sudah lama sekali tidak terdengar." Tuturnya yang langsung duduk di samping kepalaku -posisiku masih sama, terbaring di tempat tidur-.
Aku hanya mengerucutkan bibirku dan memindahkan kepalaku untuk bersandar di pahanya.
"Kau bilang tidak pulang hari ini?" Tanyaku.
"Jawab pertanyaanku dulu." Balasnya yang membuatku bingung.
"Eung?"
"Apa yang sedang kau lamunkan? Sampai tidak mendengar panggilanku." Jawabnya.
"Euh.. Aku hanya mengingat-ingat tentang foto ini, yang membuatku kembali berpikir." Jawabku yang membuat Hyukjae Oppa menatapku, sepertinya dia ingin aku melanjutkan perkataanku.
"Aku masih belum mendapatkan jawabannya. Kenapa saat itu kau melamarku? Tepat di saat kita sedang bertengkar." Serbuku.
Bisa kulihat Hyukjae oppa sedikit terkejut dan bingung dengan pertanyaanku.
"Aku selalu menanyakan hal ini, tapi kau selalu mengalihkannya. Jadi, aku mohon kali ini kau harus memberikanku jawaban." Pintaku sedikit takut, karena aku merasa pertanyaanku ini sangat tiba-tiba. Bahkan dia baru saja pulang.
"Karena aku ingin hidup denganmu. Sudah. Tidak perlu jawaban lain lagi." Tegasnya.
Ah, tidak. Ku rasa mood nya sedang tidak baik. Aku kembali mendapat tatapan tajam itu. Aku merasa takut sekarang.
"Tapi... saat itu kita sedang bertengkar, seharusnya kau... ragu." Tambahku lagi yang kini menyamakan posisi wajah kami.
Astaga Soo Hwa! Tidak bisakah kau mengiyakan pernyataan nya. Aku bisa melihat dia menarik napasnya.
"Sayang, kau tau kan aku..."
"Ini bukan pertanyaan sulit kan? Tidak perlu marah." Jawabku.
Ok. Aku takut.
Aku menundukkan kepalaku. Baru saja aku menyadari jika belum ada pertengkaran di antara kami, sekarang justru aku yang terlihat memulai pertengkaran kami.
"Astaga aku tidak marah, Sayang. Aku... aigoo jangan menangis." Ucapnya saat dia meraih wajahku, bahkan aku tidak menyadari jika aku mulai menangis.
"Maaf. Aku... aku tidak tau kenapa tiba-tiba aku seperti ini... Aku..." rengekku.
Hyukjae oppa menarikku ke dalam pelukannya untuk menenangkanku. Bisa kurasakan dia mengusap kepalaku dengan lembut dan sesekali mencium pipiku.
"Aku tau itu bukan pertanyaan sulit. Aku hanya terkejut dengan pertanyaanmu yang tiba-tiba."
**
"Jadwalnya begitu padat. Aku terkejut dengan semua itu. Aku pulang hari ini dan kembali lagi besok pagi-pagi sekali. Yesung hyung bilang pasti kau akan kesepian, jadi aku memilih untuk pulang." Jelas Hyukjae Oppa.
Astaga Soo Hwa. Dengan ini kau akan membuat Hyukjae Oppa tau kalau kau masih belum dewasa.
"Ah.. Begitu..." lirihku.
Hyukjae oppa menghembuskan napasnya dan tersenyum tipis, "Aku juga tau. Mungkin kau juga terkejut karena aku yang kembali sibuk kan? Pasti perasaanmu tak karuan sekarang. Benar?" Tanyanya dengan begitu lembut.
Aku hanya menganggukkan kepalaku sekali karena tidak kuat untuk berbicara lagi. Aku takut tangisanku kembali membuatku terlihat kekanak-kanakan di hadapannya.
"Dan... jawabanku adalah karena aku sudah yakin denganmu. Tepat saat kita bertengkar saat itu, aku memang ingin melamarmu. Saat aku membanting pintu itu, aku terus berpikir dan menimbang semuanya, dan jawabannya tetap menunjukkan jika aku memilihmu. Dan aku yakin... kau juga begitu." Jelasnya lagi tiba-tiba.
Aku tidak bisa menjawab apa-apa lagi selain menganggukkan kepalaku dengan kencang dan menghambur ke dalam pelukannya.
"Mianhae." Rengekku yang kembali menangis kencang di dalam pelukannya.
"Aku bahagia hidup bersamamu, apapun yang terjadi, Sayang." Bisiknya.
"Aku juga, Oppa." Balasku.
