▪02 [180 Degrees]

3.8K 163 0
                                        

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Lantas para Siswa dan Siswi berlomba-lomba untuk keluar dari kelas dengan cepat. Itu sudah menjadi rutinitas biasa di masa-masa Sekolah. Bukan karena mereka ingin cepat sampai dirumah, tapi karena mereka ingin pergi hangout bersama teman-teman kelas lainnya, atau menongkrong disuatu tempat untuk melepas penat sejenak setelah hampir seharian full belajar, belum lagi diberikan PR yang luar biasa banyaknya.

Lihat dari kelas 12.7 rata-rata Siswanya sudah keluar lebih dulu. Bahkan Dira, Cindy, Tiara, dan Resti sudah sampai di area parkiran Sekolah. Mereka berencana untuk pergi menonton bioskop di salah satu mal yang ada di Jakarta. Mungkin minggu-minggu ini adalah saat yang tepat untuk merefreshing segalanya. Fikiran, fisik, tubuh, dan lain sebagainya. Sebelum melakukan pertempuran yang luar biasa yaitu UN, Ujian Nasional yang beberapa minggu lagi akan dilaksanakan.

Sedangkan dari kelas 12.1 masih tersisa banyak Siswa-Siswi yang berada dikelas. Kebanyakan mereka tengah berkutat dengan tugas Sekolah yang baru saja diberikan hari ini, tapi mereka langsung dikerjakan sampai tuntas. Benar-benar murid teladan. Devano, Axel, Rico, dan Verrel juga tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi hanya Devano saja yang sibuk mengerjakan tugas Sekolahnya. Yang lainnya? Hanya sibuk bermain games di handphone masing-masing.

Saat Devano sudah selesai mengerjakan tugas Sekolah. Mereka langsung bergegas menuju ke area parkiran. Rencananya hari ini mereka akan bermain ke rumah Devano, sekaligus untuk mengerjakan tugas kelompok terakhir untuk minggu ini. Karena kedepannya, sudah tidak ada lagi tugas kelompok. Yang ada hanya pendalaman materi, dan sebagainya.

Di area parkiran, Devano tak sengaja melihat Dira yang sedang tertawa lepas bersama teman-temannya. Mereka sedang berdiri didepan pintu gerbang Sekolah. Seperti sedang menunggu.

Dan benar dugaan Devano, mereka ternyata sedang menunggu taksi online. Terbukti saat Mobil Avanza berwarna hitam berhenti didepan gerbang, mereka langsung masuk kedalam mobil tersebut.

Mereka menaiki taksi online bukan karena tidak mempunyai mobil. Tapi karena Sekolah yang tidak mengizinkan murid-muridnya untuk membawa kendaraan roda empat. Kemudian, Devano, dan ketiga temannya langsung bergegas pergi dengan motor besar masing-masingnya menuju ke rumah kediaman Devano sendiri.







***


"Jangan duduk disini. Di kamar gue aja." ucap Devano singkat dengan nada datarnya. Devano hanya tidak ingin teman-temannya melihat keberadaan Dira dirumahnya. Sebenarnya tidak masalah jika mereka tahu, hanya saja ia tidak ingin diberikan pertanyaan yang tidak penting tentang mengapa Dira bisa berada dirumahnya. Hal-hal seperti itu yang Devano hindari, karena notabenenya ia tidak suka diganggu.

Untung saja ketiga temannya tidak curiga dan menurut. Merekapun langsung masuk kedalam kamar Devano, setelah Devano mengunci kamarnya. Ia langsung menyalakan mesin komputer dan printernya.

"Sebenarnya udah gue kerjain tadi pagi, besok tinggal presentasi. Tapi menurut gue masih banyak yang kurang. Kalau kalian punya inovasi, boleh dirubah sedikit. Tapi jangan sampai merubah semua bentuk keasliannya. Hanya merubah beberapa itu nggak masalah." ucap Devano dengan wajah datarnya. Mereka mengangguk paham.

Setelah komputer menyala, mereka mulai sibuk mengerjakan tugas hingga larut malam. Tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ibunda Devano dan Vino adiknya sedang pergi ke rumah sepupunya yang ada di Bekasi. Sedangkan Papanya, masih berada di kantor. Menjadi seorang CEO memang terkadang selalu pulang lebih cepat dari pada karyawannya. Tapi terkadang juga ia bisa pulang lebih lama jika terjadi sesuatu dalam Perusahaannya.

"Ayo pulang. Gue mau tidur nih. Ngantuk." ujar Axel sambil mengusap-usap matanya. Mereka mengangguk dan mulai bergegas turun. Diikuti Devano dibelakang mereka.

Saat mereka sampai di ruang tengah, mereka terkejut saat melihat Dira di dapur yang tengah minum air putih dengan seragam yang masih utuh dan juga tas yang masih menempel dibelakang tubuhnya.

"Dev, dev! I-itu bukannya Dira?" tanya Axel tergagap karena saking terkejutnya melihat Dira tengah asyik meminum dirumah Devano.

Untuk sekadar informasi, Dira hampir terkenal di Sekolah. Bukan karena kecantikan atau kepintarannya, tapi karena ia jago menyanyi. Dira sering mengikuti kompetisi disana-sini dan selalu menang juara 1. Tapi sayangnya ia tidak pintar.

"Hmm." jawab Devano dengan gumaman, ia bahkan membuang pandangannya kearah lain.

"Dira!!" panggil Axel dengan lantang. Dira yang sedang sibuk memainkan handphonenya langsung menoleh kearah Axel dan matanya tiba-tiba melotot saat menyadari jika ternyata yang memanggilnya adalah Axel. Apalagi ada Devano dan kedua teman Devano lainnya.

Ini gawat. Batinnya berbunyi. Devano bilang orang-orang jangan sampai tahu kalau ia tinggal dirumah Devano sementara. Tapi sekarang? Teman-teman Devano sendiri yang pertama kali melihatnya. Habis sudah riwayat Dira pada Devano.

"Kok lo bisa disini?" tanya Rico saat mereka mendekati Dira yang saat ini sedang berdiri menatap mereka dengan terkejut.

"Eng... I-itu, gu--"

"Dia anak dari temen Papa gue. Orangtuanya tinggal di Australia karena kerjaan, jadi dia tinggal disini sementara." Devano memotong ucapan Dira, tapi untungnya teman-temannya mengerti dan tidak bertanya lagi. Sedangkan Dira masih dengan wajah melongonya saat Devano sendiri yang menceritakannya kepada teman-temannya.

Dasar aneh. Tadi nyuruh gue jangan kasih tahu siapa-siapa. Tapi kenapa dia sendiri yang ngasih tau ke temen-temennya sekarang? Yang IQnya 200 disini itu dia apa gue sebenernya? Batin Dira berbunyi lantang.

"Oh gitu. Yaudah, kita pulang dulu ya, Ra. Dah." ujar Verrel. Dira mengangguk dengan tersenyum ramah. Setelah mereka keluar dari rumah, Dira langsung berlari menuju kamarnya.

Namun saat ia sedang menaiki tangga, tiba-tiba Devano menahannya dengan bertanya. "Lo udah makan?" tanyanya tiba-tiba. Dira lagi-lagi dibuat melongo karena terkejut sekaligus bingung.

Dirapun berbalik badan dan menatap Devano yang sedang menaiki tangga, mendekatinya. "Hah?" hanya itu respon Dira. Tapi Devano malah mengangguk dengan wajah andalannya, datar.

"Tadi Mama gue masak sayur sop ayam, cuma gue hangatin di oven, kalau lo lapar lo bisa makan itu, tapi kalau nggak mau, lo bisa masak sendiri. Bahan-bahannya ada di kulkas." ucapnya cepat dan langsung berjalan melewati Dira yang masih terdiam membeku karena tingkah dan sifat Devano yang berubah 180 derajat.

"Heh! Gue kenapa deh? Kayak orang kena struk ringan. Itu orang nggak salah kan ya? Apa jangan-jangan dia mabok lem tikus? Tadi pagi marah-marah ke gue pake ngancem segala. Sekarang? Sok-sok perhatian nanyain gue udah makan apa belum. Sayang aja lo ganteng, Dev..Dev. Kalau nggak mah udah gue ceburin lo ke lobang buaya!" sungutnya marah-marah sendiri.

Mengingat Devano bilang jika Tante Riana membuat sop ayam. Ia jadi lapar lagi, Dirapun lantas berlari menuju ke Dapur lagi.









♣♣♣♣♣♣♣♣♣

So gimana? Seru nggak? Jangan lupa di Vote dan Komen ya. Makasih😘

-Novi

Mine [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang