Pagi menjelang, Devanopun akhirnya terbangun pada pukul 5.00 AM, ia terkejut saat menyadari bahwa ia semalaman tidur di kamar Dira. Dengan gerakan cepat, ia keluar dari kamar Dira dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Devano buru-buru mandi dan setelah itu berwudhu, mumpung waktunya masih tersisa untuk sholat Shubuh. Jadi ia dengan cepat membersihkan tubuhnya lalu mulai beribadah.
Sedangkan Dira, mulai bergerak diatas kasurnya karena alarm jam wakernya yang berbunyi nyaring, yang sengaja ia setting agar ia bisa sholat Shubuh. Ia lantas bangun dari tidurnya dan berjalan terseok-seok ke kamar mandi.
Tak lupa membaca do'a masuk kamar mandi, dan mendahului kaki kirinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia selalu melakukan sunnah-sunnah Rasul, kapanpun dan dimanapun. Sama halnya dengan Devano. Walaupun cowok itu terkesan cuek, dingin, dan irit bicara. Tapi sebenarnya ia adalah hamba yang termasuk taat pada Tuhannya.
Disekolah saja yang selalu mengisi Mushola sekolah adalah mereka berdua. Yang lainnya? Hanya beberapa kali mengisi saja dalam satu bulan. Bahkan guru-guru yang selalu sholat disana merasa takjub dengan mereka berdua. Selalu sholat tepat waktu dan selalu menyempatkan diri untuk ke Mushola.
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Karena sudah rapi, Dira langsung turun kebawah dan menyapa semua keluarga Om Rio. Ia juga menyapa Devano yang sedang sibuk menyantap roti bakarnya.
Namun ia merasa berbeda kali ini, Devano seperti terlihat tidak nyaman ditempat duduknya saat Dira duduk disebrangnya. Tapi, Dira tidak terlalu banyak memikirkan hal itu. Yang penting ia bisa cepat sampai sekolah. Karena ia benar-benar tidak sabar dengan Irzan yang akan memberitahunya kapan ia akan tampil di Pensi nanti. Karena bernyanyi adalah hobi dan talentanya. Jadi ia amat sangat bersemangat.
"Dira, kamu hari ini berangkat sama Devano. Kebetulan dia lagi nggak terburu-buru. Kamu mau kan Dev berangkat bareng Dira? Kasian dia kalau harus naik angkut terus." ujar Om Rio tiba-tiba saat mereka asyik sarapan.
Devano hanya menjawab dengan gumaman. Tapi tentu saja itu membuat Dira nenjerit kegirangan di dalam hatinya. Ia bahkan tersenyum-senyum sendiri ditempatnya. Sedangkan Devano yang melihat itu langsung membuang nafas berat.
***
"Gue nggak akan turunin lo di area Sekolah. Gue bakalan turunin lo di Halte Bus Sekolah. Karena gue nggak mau kita jadi bahan gosip. Ngerti?" Devano menatap Dira dengan serius. Sedangkan Dira mengangguk-anggukan kepalanya.
"Yaudah. Cepet naik. Ini helm lo." lalu Dirapun mengambil helm yang diberikan Devano dengan senang hati. Setelah itu merekapun melesat pergi menuju ke Sekolah.
Di tengah perjalanan Dira tak berani menyentuh apapun yang ada ditubuh Devano. Ia hanya berpegangan pada pegangan di belakang jok motor Devano. Bukan karena ia gugup atau semacamnya, ia hanya tidak ingin Devano menurunkannya ditengah jalan kalau ia berani menyentuh apapun yang ada ditubuh Devano. Seperti tas, pundak, jaket, ataupun pinggang Devano.
Saat Devano tak sengaja hampir menabrak orang didepannya, Devanopun menghentikan motornya secara tiba-tiba, dan itu membuat Dira sedikit oleng. Tapi untung saja Dira bisa mengimbanginya kembali.
"Lo kenapa nggak pegangan, sih? Kalau lo kenapa-kenapa, gue yang bakalan repot karena ditanya Mama sama Papa!" ketus Devano sedikit membentak. Dira bahkan sedikit terkejut karena bentakan Devano tadi.
Dan yang Dira hanya bisa lakukan adalah pegangan tas Devano dengan cengkraman yang kuat. Tapi karena Devano menyadari hal itu langsung saja ia menoleh kebelakang Dira, karena posisinya kini mereka sedang berada di lampu merah.
"Lo dengar gue ngomong apa, nggak?! Pegangan! Kalau lo jatuh, bukan lo yang repot, tapi gue! Ngerti?!" ketusnya lagi dan membuat Dira kembali tertegun.
Buru-buru Dira memegang pundak Devano dengan ragu, namun Devano kembali bersuara dengan menatap kedepan. "Gue bukan tukang ojek! Pegang pinggang gue, Dinandira Prasetyo!" bentak Devano kesal, dan dengan gerakan cepat Dira langsung memegang pinggang Devano dengan erat.
Lalu tidak lama kemudian lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Dengan cepat, Devano melajukan motornya dengan kencang menuju ke Sekolah. Dira bahkan memejamkan matanya karena saking kencangnya. Ia bahkan sudah berfikir yang aneh-aneh sekarang. Ia hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh mereka berdua. Namun Dira menepis semua itu dan memilih berdoa dalam hati agar selamat sampai tujuan.
Dan benar saja, mereka telah sampai di Sekolah. Sesuai ucapan Devano tadi, Dira diturunkan di Halte Bus Sekolah. Setelah Dira turun dan memberi helmnya kepada Devano. Tiba-tiba Devano langsung pergi begitu saja meninggalkan Dira ditempat.
Dengan menghembuskan nafas panjang, Dira mulai berjalan menuju ke Gedung Sekolah dengan langkah santai namun dengan senyuman yang tak henti-hentinya tercetak jelas di wajahnya.
Saat ia tengah asyik berjalan, tiba-tiba ada yang merangkulnya dari belakang. Buru-buru Dira menoleh dan mendapati Irzan yang tersenyum kearahnya. "Pagi, Dira." sapa Irzan padanya.
Dira ikut tersenyum dan balik menyapa Irzan. "Penasaran nggak tentang Pensinya?" tanyanya pada Dira sambil menaik-turunkan alisnya kearah Dira.
Sedangkan cewek itu mengangguk-anggukan kepalanya dengan mata yang dikedip-kedipkan, layaknya seorang anak kecil yang minta dibelikan permen lolipop pada orangtuanya.
Irzan terkekeh pelan, dan mengacak-acak rambut Dira dengan gemas. "Sabar ya, nanti siang aja pas Istirahat. Karena sekarang gue harus ngurusin adik-adik kelas Osis yang mau mempersiapkan anggota Osis baru." Dira mengangguk dengan senyuman lebarnya.
"Yaudah, nggak apa-apa. Tapi jangan lupa ya?!" pekiknya semangat. "Beres!"
♣♣♣
Devano terus saja melihati Dira dan Irzan yang sedang berjalan beriringan sambil tertawa bersama di area Gedung Sekolah. Entah kenapa, Devano merasa sedikit aneh pada dirinya. Kenapa juga ia kepo pada urusan orang lain? Cih! Devanopun berjalan dengan tegas menuju kelasnya, lalu melewati Dira dan Irzan yang masih asyik tertawa bersama di tengah koridor. Bahkan Dira tidak menyadari keberadaan Devano yang sedang berjalan melewatinya.
Devano kembali menoleh kebelakang dan benar saja, mereka masih bercanda bersama tanpa memperdulikan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Devano tersenyum sinis dan langsung berjalan menuju kelasnya dengan cepat.
♠♠♠♠♠♠♠♠♠
To be continue.
Jadi gimana sama jalan ceritanya untuk sejauh ini guys? Seru atau bosenin? Komen ya jangan lupa, vote juga. Kalau banyak yang bilang seru, i'll post the next chapter as soon as possible.
-xoxo
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine [TAMAT]
Teen FictionBerawal dari kedatangan tamu spesial yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman dekat sang Ayah, yang mengharuskannya menampung seorang anak remaja perempuan yang beranjak dewasa yang seumuran dengannya di Rumahnya. Pasalnya teman dari Ayahnya itu...
![Mine [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/129195031-64-k837311.jpg)