Sehabis berperang dengan Devano. Lantas Dira dan ketiga sahabatnya mulai melangkah pergi dari Kantin untuk kembali ke kelas.
Ditengah-tengah perjalanan Dira tak henti-hentinya mengumpat. Ia benar-benar naik pitam saat diperlakukan seperti itu oleh Devano.
Sesampainya didepan kelas, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat Devano yang sedang berdiri didepannya sambil membawa sebuah kotak makanan.
Tanpa basa-basi, Devano langsung menjulurkan kotak makan tersebut dengan wajah datarnya. "Nih, ambil. Dari nyokap gue. Sori, gue lupa ngasih ke elo." ucapnya setelah menarik paksa tangan Dira dan menaruh kotak makan tersebut di tangan Dira. Setelah mengatakan itu, ia lantas kembali melangkah menuju kelasnya.
Namun saat beberapa ia melangkah, tiba-tiba ia berhenti kembali saat mendengar Dira membuka mulutnya.
"MAKASIH!" bentaknya dengan cukup keras. "Gue bilang MAKASIH cuma buat Tante Riana! Bukan buat lo!" setelah mengatakan itu Dira langsung masuk kedalam kelas dengan langkah kesal. Bahkan orang-orang yang tadi memperhatikan langsung terbelalak kaget saat Dira bersikap begitu. Apalagi mereka dibuat kaget lagi saat Devano memberikan sebuah kotak makan kepada Dira. Tapi untungnya tak ada satupun diantara mereka yang mendengar percakapan antar dua orang tersebut.
Setelah mendengar bentakan tersebut, Devano kembali melangkah menuju kelasnya. Kelas 12-1.
♣♣♣
"Minggu depan udah masuk pendalaman materi, kan?" tanya Axel tiba-tiba. Mereka semua mengangguk kecuali Devano. Ia tampak tengah terdiam sembari menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
"Berarti kita pulang sore terus sampai maghrib. Nggak bisa main futsal nih jadinya." ujar Rico dengan lemas.
"Futsal untuk sementara ini kita tiadakan dulu. Nanti kalau udah selesai UN baru main lagi." jawab Verrel dengan wajah seriusnya.
Axel mengangguk-anggukan kepalanya, diikuti Rico. Namun Devano masih terdiam ditempat duduknya. Sebenarnya ia sedang memikirkan masa depannya.
Disaat teman-temannya sudah merencanakan mengenai jalan hidupnya sendiri mau jadi apa, tetapi Devano yang dikenal sebagai cowok paling cerdas disekolah, malah belum tahu harus bagaimana. Ia bahkan tidak berfikir untuk melanjutkan studinya ke Universitas.
Ia masih belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya, ia belum tahu tentang apa yang ia sukai atau ia kagumi. Bahkan ia juga tidak tahu tentang keahlian apa yang ia punya, yang ia tahu hanya tentang betapa jagonya ia mengerjakan matematika dan fisika. Lagipula, ia juga tidak menginginkan jadi guru atau dosen atau apapun itu yang berkaitan dengan keduanya.
"Woy! Jangan ngelamun mulu, Dev. Kucing tetangga gue aja kemarin ngelamun langsung berubah jadi Tapir." celetuk Axel mencoba melawak, dan berhasil.
Semua yang berada didalam kelas tertawa karena suaranya yang keras. Sedangkan Devano hanya mendengus dan langsung menyibukkan diri dengan membuka bukunya.
***
"Assalamualaikum." sapa Dira saat membuka pintu rumah kediaman Om Rio. Riana yang mendengar hal itupun lantas menjawab dan mendekati Dira dengan senyuman lebarnya.
"Eh wa'alaikumsalam. Kamu udah pulang, Ra?" Dira mengangguk sopan dengan senyumannya.
"Iya, Tante. Dira kekamar dulu ya, mau ganti baju. Ohiya, ngomong-ngomong makasih ya, Tante buat bekalnya. Aku udah habisin kok." Riana tersenyum lebar dan mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine [TAMAT]
Teen FictionBerawal dari kedatangan tamu spesial yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman dekat sang Ayah, yang mengharuskannya menampung seorang anak remaja perempuan yang beranjak dewasa yang seumuran dengannya di Rumahnya. Pasalnya teman dari Ayahnya itu...
![Mine [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/129195031-64-k837311.jpg)