▪06 [His Other Side]

3.6K 149 12
                                        

Waktu sudah memasuki pukul 12.00 Siang. Itu artinya sudah memasuki Sholat Zhuhur. Di Mushola Sekolah SMA KENCANA JAKARTA sudah ada beberapa guru dan beberapa murid, termasuk Dira dan Devano. Dira yang sudah siap dengan mukenanya tengah terduduk di shaf perempuan, bersama Tiara. Entah kenapa kali ini Tiara ingin sholat bersama Dira di Mushola. Biasanya teman-teman Dira selalu beralasan kalau diajak sholat bersamanya.

Sedangkan Devano saat ini tengah berwudhu di tempat wudhu khusus pria. Ia berwudhu sendirian, karena Verrel—yang beragama Islam. Berkata dengan terang-terangan jika ia sedang malas Sholat. Lagipula mau bagaimana lagi? Rico dan Axel beragama Kristen. Hanya dia dan Verrel yang beragama Islam.


Lalu hampir 20 menit Sholat Zhuhur dilaksanakan, dengan Devano yang lagi-lagi dipilih sebagai Imam oleh Guru Olahraga, Pak Saman. Setelah semuanya selesai, merekapun keluar dari Mushola. Tiara dan Dira memilih pergi ke Kantin menyusul teman-temannya yang lain. Sedangkan Devano, ia justru berbalik arah dengan Dira.

Dira terus memperhatikan gerak-gerik Devano yang sepertinya sedikit aneh. Namun cewek itu tak mau ambil pusing karena masalah tersebut. Ia tetap berjalan menuju Kantin bersama Tiara.



Sesampainya di Kantin mereka langsung memakan makanan mereka yang sudah lebih dulu dipesan oleh Cindy dan Resti. Saat sedang asyik menyantap makanan, tiba-tiba saja Dira ingin membuang air kecil. Karena tidak bisa ditahan lagi, Dirapun langsung pamit pada ketiga temannya dan mulai berlari menuju ke toilet.

Berhubung toilet didekat Kantin itu terletak di belakang Sekolah, jadi ia mau tak mau harus berlari karena letaknya yang lumayan jauh.

Setelah selesai membuang air kecil, iapun merapikan tatanan rambut dan seragamnya. Ketika ia sibuk merapikan kunciran rambutnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara barang yang dibanting. Suaranya cukup dekat dan tentu saja membuat Dira terlonjak kaget ditempatnya.

Dengan langkah penasaran, iapun keluar dari Toilet dan mendekati suara berisik-berisik tadi. Ia berjalan mengendap-endap dengan penuh hati-hati. Saat ia tiba disana, ia cukup terkejut kalau ternyata suara barang dibanting tadi adalah berasal dari Irzan. Ya. Irzan. Cowok itu terlihat sangat marah dengan wajah yang merah.

Alis Dira bertaut, ia bertanya-tanya dengan siapa Irzan berbicara? Kenapa sangat marah sekali? Dan iapun kembali mendekat dengan penuh kehati-hatian. Saat ia berhasil mendekat, ia justru semakin terkejut bahkan sangat amat terkejut saat mengetahui jika Irzan berbicara dengan... Devano.



Dira bahkan menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanannya. Lalu ia mulai mendengar Devano bersuara.

"Gue udah pernah bilang sama lo. Berhenti jadi cowok pecundang kayak gini! Kenapa? Karena Dio benci elo yang pengecut!" ketus Devano dengan nada datar. Devano terlihat masih bisa mengontrol emosinya, sedangkan Irzan emosinya sudah meluap-luap.

"Itu bukan urusan lo! Karena lo bukan sahabat gue lagi! Ngerti?! Lo bisakan urus semua urusan lo sendiri? Jangan ikut campur urusan gue!" bentak Irzan mulai emosi.

Devano menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menatap tanah sekilas, lalu kembali menatap Irzan dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celana seragamnya.

"Gue nggak akan ikut campur kalau target lo selanjutnya adalah bukan dia! Jauhi dia, or you're gonna die!" ancam Devano dengan mata tajam elangnya. Tatapan matanya seperti ingin menerkam mangsanya, saking tajam dan dinginnya.

Irzan terkekeh sinis, "Gue tanya sekali lagi sama lo! Siapa dia? Kenapa lo begitu khawatir kalau dia gue jadiin target? You like her, hm? Hahaha... Seriously, setelah sekian lama lo nggak jatuh cinta, dan kali ini pilihan lo jatuh sama dia? Oh my God, man! Cewek di luaran sana banyak. Dia itu nggak lebih dari sekedar kotoran--BUGH!" Dira terbelalak kaget saat Devano melayangkan pukulannya ke wajah Irzan.

Mine [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang