Semenjak malam yang penuh dengan Air mata itu Aida tak pernah bertemu lagi dengan Arsad, bahkan dia tak mengahadiri latihan beberapa kali. Bahkan hari ini Arsad pun tidak hadir saat pengumuman urutan penampilan kemampuan diri Bulan dan Bintang kampus yang akan dilaksanakan beberapa hari kemudian.
"Yan, Arsad kemana ya?" Tanya Aida ke Yana.
"Nggak tau Da, gue udah seminggun ini nggak liat dia ikut latihan, bahkan Arnold juga nggak pernah ketemu sama dia, lo udah coba hubungi dia belum Da?" Tanya Yana.
"Udah tapi panggilan aku ditolak terus, aku kirim pesan aja nggak dibalas-balas." Jelas Aida.
"Kalian lagi ada masalah?" Tanya Yana.
"Echmm nggak Yan, munggkin dia emang lagi pengen sendiri." Jawab Aida mencoba menyembunyikan semuanya.
"Iya mungkin Da, kita kerumahnya nanti gimana?" Tawar Yana.
"Echm kalian deh aku nanti ada acara sama keluarga." Jawab Aida berusaha menghindar menemui Arsad karna Aida merasa malu dengan kejadian malam itu.
"Ya udah deh, nanti gue salamin aja kalau lo kangen ma dia." Canda Yana sambil senyum-senyum sendiri.
"Apaan sih Yan. Janganlah, nanti dia kepedean gimana?" Tanya Aida sambil memukul pundak Yana dengan tangannya.
"Lo kangen kan? Tuh muka lo udah merah tu." Yana mencoba mengajak bercanda Aida, namun muka Aida saat itu benar-benar memerah.
"Ahh, Apaan, muka aku nggak merah kok, nggak." Aida histeris sambil memegang mukanya sendiri.
"Kalian berdua yang dibelakang bisa diem nggak, kita yang di depan sedang ngasih pengarahan buat kalian, kalian malah asik ngobrol sendiri." Teriak Pembina Acara kepada Aida dan Yana.
"I-iya kak." Jawab keduanya. Setelah itu mereka kembali diam dengan senyum-senyum tak bersalah mereka.
***
Arsad sibuk membongkar isi lemarinya, ada sesuatu yang sedang ia cari, sesuatu yang sangat berharga. Keadaan kamarnya saat ini sangat berantakan dengan barang-barang yang ia lempar sedari tadi. Tak lama kemudian Bibi Iyem pembantu Arsad datang menghampirinya.
"Maaf den, Aden Arsad sedang cari apa?" Tanya Bi Iyem dengan sopan.
"Echmm ini bi, Arsad lupa naruh Kotak berharganya Arsad. Perasaan Arsad taruh diatas meja tadi." Jelas Arsad.
"Kotak yang gimana den, siapa tau bibi bisa bantu nyari." Tawar Bi Iyem.
"Kotaknya Warna merah bi, ada ukiran nama Arsad bi." Jelas Arsad.
"Bibi cari juga ya den" Ujar bi Iyem.
"Iya bi, makasih ya." Arsad mengucapkan terima kasih.
Arsad dan bi Iyem pun terus mencari kotak merah tersebut, tak lama kemudian bi Iyem berteriak kepada Arsad.
"Den..... Kotak ini ya den?" Tanya Bi Iyem sambil menunjukkan sebuah kotak Merah yang ia dapatkan di kolong tempat tidur Arsad.
"Iya bi, ketemu dimana?" Arsad segera mengahmpiri bi Iyem.
"Ini ada dibawah kolong tempat tidur aden, kayak waktu tidur jatuh deh den." Jelas Bi Iyem.
"Iya kali bi, makasih ya bi." Arsad kembali mengucapkan terima kasih. Sementara bi Iyem membalasnya dengan senyuman sambil mengambil semua barang dan pakaian yang berserakan dilantai.
"Itu sudah kewajiban bibi den, kayaknya itu kotak berharga banget ya den?" Tanya Bi Iyem mulai penasaran.
"echhmm kotak ini isinya kenangan Arsad sama seseorang dulu bi, namun sayangnya kita terpisah, karna Arsad harus pindah kesini. Sejak saat itu Arsad nggak pernah ketemu lagi sama dia bi." Jelas Arsad.
KAMU SEDANG MEMBACA
ESOK
Fiksi RemajaBerawal dari hukuman diawal Ospek karena keterlambatan, disanalah Aida dan Arsad bertemu. Arsad sesosok Mahasiswa Kaya namun tak menunjukkan kekayaannya sedakan Aida mahasiswi sederhana namun kecantikannya mengalahkan kecantikan Bintang Kampus dikam...
