Empat tahun sebelumnya.
Abi masih mengenakan pakaian putih abu-abunya, ia masih duduk di bangku kelas XI waktu itu. Hari ini nampaknya ia sedang menunggu seseorang didepan rumahnya, Aldi. Iya, Abi sedang menunggu Aldi adik laki-laki kesayangannya. Abi telah berjanji akan mengajak Aldi kesesuatu tempat jika Aldi mampu mendapatkan nilai terbaik dikelasnya. Dan terbukti Aldi mampu memperoleh nilai terbaik itu. Aldi tergolong murid yang pintar namun tingkah jail dan kenakalannya yang banyak tidak disukai orang, lain halnya dengan Abi, dia sangat menyanyangi adeknya itu, bahkan mereka berdua bagaikan prangko, jika bersama tak dapat dipisahkan dan jika berjauhan meraka saling menghawatirkan.
Aldi keluar dari rumah dengan masih mengenakan seragam putih birunya, saat itu ia masih duduk dibangku kelas IX. Dengan semangat ia menghampiri kakaknya yang tengah menunggu sedari tadi didepan rumah.
"Okey Aldi siap." Ujarnya penuh semangat.
"Mau pakek mobil apa sepeda motor?" Tanya Abi pada adeknya.
"E-ehmm kayaknya enakkan pakai sepeda motor deh kak, saat ini Aldi pengen menyatu dengan alam, ingin menyatu dengan angin dan udara, lalu menghirup hembusan lembutnya yang meninmbulkan sensasi yang luar biasa, yang tak dapat dibayangkan manusia biasa. Semuanya akan menjadi damai saat itu." Jelas Aldi dengan bahasa puitisnya, dari kecil Aldi memang ingin menjadi seorang penulis, bahkan ia mengaku dirinya adalah titisan Khairil Anwar dan penerus Kahlil Gibran, kecintaannya akan sastra mampu membuatnya lupa akan segalanya, jika dia berfatwa dengan kalimat-kalimat puitisnya, maka ia akan menyatu dengan alam tanpa menghiraukan sekitarnya.
"Mulai dah sok jadi pujangga. Ya udah ambil sono!" Perintah Abi sambil melemparkan kunci sepeda motornya pada Aldi. Kunci itu pun di raihnya oleh Aldi dan bergegas iya pergi kegarasi untuk mengambilnya. Tak menunggu lama Aldi pun sudah datang lengkap dengan dua helm untuk keselamatan mereka.
"Kita siap meluncur kak. Kakak yang bawa ya, Aldi lagi pengen fokus sama alam." Pinta Aldi.
"Okey, turun lo!" Perintah Abi sambil meraih sepeda motor yang sedang dibawa Aldi.
"Mau kemana kita kak?" Tanya Aldi penasaran.
"Mau ngajak suatu tempat yang pasti lo bakalan suka, gue baru nemuin tempat itu dan tempat itu pas banget sama lo." Jelas Abi pada Aldi.
"Serios lo kak?, dimana?" Aldi penasaran.
"Banyak Tanya lo ah, udah naik buruan!, lo ngoceh terus lo nggak bakalan tahu tempatnya." Oceh Abi sedikit kesal dengan tingkah adeknya.
"Okey siap bos." Jawab Aldi dan bergegas duduk dibelakang Abi.
"Beragkat." Teriak Aldi penuh semangat. Mereka pun berangkat dengan penuh semangat dan rasa tidak sabar untuk cepat sampai tempat tujuannya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba Aldi berdiri dari tempat duduknya, seketika Abi khawatir dan memarahi Aldi.
"Lo ngapain berdiri sih? lo jatuh nanti." Teriak Abi dalam perjalanan tersebut.
"Gue lagi mencoba menyatu dengan alam kak, Aldi seorang pujangga terhebat didunia, penerus Kahli Gibran dan titisan Khairil Anwar harus bisa menyatu dengan alam, dimana pun itu." Ujar Aldi.
"Nggak disini juga, dek. Duduk nggak lo!, kalau nggak gue berhenti." Teriak Abi tapi tak dihiraukan oleh Aldi. Abi terus mengoceh, berteriak penuh dengan rasa khaawatir namun tak mendapat respon Aldi masih pada tempatnya dan berfatwa ria dengan kalimat-kalimar puitisnya, namun teriakkan Abi seketika berhenti, Abi merasakan kepalanya begitu sakit, ia tak mampu mengontrol dirinya saat ini, pandangannya mulai kabur, semuanya mulai buram. Sementara Aldi tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada kakaknya tersebut, ia sudah terlalu terlena akan dunia sastranya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ESOK
أدب المراهقينBerawal dari hukuman diawal Ospek karena keterlambatan, disanalah Aida dan Arsad bertemu. Arsad sesosok Mahasiswa Kaya namun tak menunjukkan kekayaannya sedakan Aida mahasiswi sederhana namun kecantikannya mengalahkan kecantikan Bintang Kampus dikam...
