Jangan Tinggalkan Aku sendiri.

175 9 3
                                        


Dua bulan sudah Aida pergi meninggalkan Arsad, dan kali ini hal yang pahit terjadi kembali. Abi tak sadarkan diri hari ini dikampus, darah keluar dari hidungnya. Bergegas Arsad membawa Abi ke rumah sakit, tak lupa pula Arsad memberi tahu Ayah dan Ibunya Abi begitu pula Ayahnya sendiri dan para sahabatnya.

Wajah tegang kini kembali Arsad lihat diwajah kedua orang tua Abi. Ibu Abi pun tak henti-hentinya menangis. Bahkan Arsad sendiri pun sesekali meneteskan Air matanya.

"Dia pasti kuat Sad." Ujar ayahnya sambil merangkul anaknya.

"Semoga yah, Arsad nggak mau kehilangan lagi orang yang Arsad sayang." Ujar Arsad sambil menyandarkan kepalanya dipundak ayahnya.

Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan Abi dirawat. Ayah Abi menghampiri dokter tersebut, dokter itu bicara panjang lebar dan Arsad semakin khawatir saat Air mata kini mengalir di pipi Ayah Abi. Arsad berdiri lalu menghampiri Ayahnya Abi.

"Apa yang dikatakan dokter pak?" Tanya Arsad.

"Abi kondisinya semakin melemah, bahkan kaki dan tanganya sudah tidak mampu digerakkan lagi." Jelas Ayahnya yang mampu membuat seluruh orang terkejut dan merasakan sedih.

"Anak kita yah, anak kita tidak bisa berjalan lagi? Kenapa yah?" tanya ibu Abi pada suaminya.

"kekebalan tubuh Abi sudah sangat lemah dan tubuhnya sudah tidak mampu menahan semua firus tersebut." Jelas Ayah Abi.

Seketika semuanya hening, Arnold, Vierna, Yana, dan Maya kini menghampiri Arsad mencoba menenangkan Arsad, saat itu Arsad merasa sangat terpukul.

"Dia pasti bertahan Sad, lo harus percaya sama gue, gue saksi dari perjuangan dia melawan penyakitnya ini dari awal hingga saat ini." Ujar Vierna menyakinkan Arsad.

"Apa yang dibilang Vierna benar Sad, lo harus yakin bahwa abang lo itu kuat." Tambah Arnold, namun hal itu tak dihiraukan oleh Arsad.

"Bang lo jangan tinggalin gua, lo pasti kuat bang." Ujar Arsad dalam hatinya.

***

Saat Abi sadar Abi melihat begitu banyak orang disekitarnya. Ada rasa yang aneh yang ia rasakan. Kaki dan tanganya serasa sangat berat bahkan ia tak mampu menggerakkannya.

"Yah, bu." Panggil Abi.

"Bu Abi sudah sadar." Panggil Ayahnya kepada suaminya.

"Yah, kaki sama tangan Abi kok nggak bisa digerakin." Tanya Abi.

"Kamu yang sabar ya nak, ayah yakin kuat." Ujar ayahnya.

"Tapi kenapa Abi nggak bisa gerakin semua tangan dan kaki Abi yah, bu jawab bu." Tanya Abi namun kedua orang tuanya tidak mampu menjawabnya. Dilihatnya Vierna disamping ayahnya.

"Vierna lo harus jawab! Ada apa dengan gue?" Tanya Abi.

"Kak Abi, tangan dan kak Abi nggak bisa digerakin karna tangan dan Kaki kak Abi lumpuh." Dengan berat hati Vierna mengucapkan kata-kata itu, tetesan Air mata pun kini mengalir di pipi Vierna. Abi hanya diam dan berusah menunjukkan ketabahannya.

"Bu, yah Abi kuat kok, Abi nggak ngeluh. Abi masih sehat yah, bu. Jadi kalian nangis, Abi nggak mau liat kalian nangis Cuma gara-gara Abi. Mungkin Abi nggak bisa gerak saat ini, tapi Abi masih melihat, mendengar dan berbicara bu, yah. Jadi apa yang kalian tangisi. Abi mohon kalian berhenti menangis." Ujar Abi mencoba tegar. Ruang itu kembali penuh dengan suasana haru dan kesedihan bahkan banjir Air mata.

***

Hari ini Abi ingin Arsad mengajaknya ke taman, dengan menggunakan kursi roda Abi masih tampak sok kuat didepan orang-orang, ia berusaha menutupi wajah pucatnya dengan senyumannya itu.

"Lo yakin mau kesini bang, disini dingin lo bang." Ujar Arsad pada Abi.

"Gue kan pakek jaket Sad, lo nggak liat tubuh gue dipenuhi penutup seperti ini, lo tau nggak gue udah kayak badut yang naik kursi roda coba." Ujar Abi mencoba mengajak bercanda.

"Ada ada aja lo bang." Ujar Arsad.

"Sad, gue ngajak lo kesini gue mau ngomong sesuatu sama lo. Lo tau kan umur gue nggak lama lagi, gue udah lelah juga, gue ingin tidur yang sangat lama. Sebelum gue tidur gue ingin minta lo nurutin kemauan gue." Ujar Abi.

"Lo ngomong apa sih bang, kalau lo mau sesuatu tidak bilang aja jangan pakai kata-kata kayak gini, satu hal lagi tolong bang jangan tinggalin gua sendiri bang." Ujar Arsad.

"Lo nggak bakalan sendiri Sad, gue akan selalu bersama lo, walaupun gue tidak terbangun. Oh ya gue mau minta lo selalu jagain orang tua gue, jangan biarkan tetesan air mata jatuh dari pelupun mata mereka. Jangan sampai mereka bersedih. Gue yakin hadirnya lo dikehidupan keluarga gue, akan menghilangkan kesedihan mereka saat kehilangan gue."

"Cukup bang, cukup. Gua nggak mau dengar itu lagi. Lo tau kan bang gimana gua saat kehilangan Aida. Lalu bagimana jika lo ninggalin gua juga. Hidup gua mungkin nggak akan ada warnanya lagi bang." Ujar Arsad.

"Lo harus bisa hidup tanpa gue Sad, hidup lo masih panjang. Wujudkan cita-cita gue untuk menyembuhkan semua orang yang menderita seperti gue, sekali lagi gue ngerasa hidup gue hanya tinggal semenit. Dan ingat pesan gue Esok lo itu lebih indah. Dan jangan pernah lo membenci hari Esok lo karna kehilangan orang-orang yang lo sayang." Ujar Arsad.

"Bang please cukup!" Pinta Arsad.

"Sad, gue ngelihat Aldi didepan gue Sad, bahkan Aida juga. Mereka sedang menjemput gue untuk tidur panjang gue Sad." Ujar Abi.

"Bang lo janji lo nggak baklan ninggalin gua bang, lo nggak boleh ikut mereka, lo harus temenin gua disini bang." Ujar Arsad dengan tetesan Air mata yang mengalir dipipinya.

"Lo harus janji sama gue lo nggak bakalan terpuruk lagi." Suara itu semakin perlahan melemah, tiba-tiba napas Abi mulai berhenti secara perlahan. Tangisan Arsad kini kian menjadi, di peluknya Abi erat-erat oleh Arsad.

"Gua janji bang gua bakalan jadi dokter buat lo, gua bakalan sembuhin orang-orang yang yang menderita, dan gua bakalan selalu buat keluar lo bahagia. Terima kasih lo udah jadi abang gua bang. Semoga lo tenang disana bang." Ujar Arsad dengan tangisan yang sangat kencang. Arsad mencoba kuat saat itu padahal dalam hatinya dia begitu rapuh. Namun ia ingat pesan Vierna, orang yang udah nggak ada jika lo tangisin maka dia tidak akan tenang di alam sana. Dan dia nggak ingin membuat Abi tidak tenang disana.

"Kini lo sudah bebas dari sakit yang lo derita bang. Selamat tidur panjang bang Abi" ujar Arsad.

ESOK Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang