03

1K 163 9
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu setempat. Sebuah unit apartemen yang terlihat cukup sederhana dengan fasilitas yang lumayan lengkap mengumpulkan ketiga orang pemuda di dalamnya, setelah salah satu di antaranya baru saja bergabung.

Junghwan memandang malas Jeongwoo yang kini sedang terkulai lemas di atas sofa ruang tamu hanya dengan jaket denim dan ripped-jeans sebagai sandang, memamerkan otot perutnya yang sudah cukup terbentuk itu.

Aroma alkohol menyeruak memenuhi seisi ruang. Membuat satu dari ketiga orang tersebut mengernyit tidak nyaman. Wisata masa lalu kembali menghantui ingatannya, membawa beberapa potong kilas balik yang tak ayal menyebabkannya mengalami sedikit trauma.

"Aku pamit ke belakang sebentar," ucap Junkyu tiba-tiba. Bukannya lancang, tapi dirinya telah berada di tempat ini selama satu jam hanya untuk menunggu kehadiran kakak laki-laki dari pemuda penolongnya itu. Jadi, tidak heran jika Junkyu sudah sedikit akrab dengan suasana dan tata letak bangungan di sini.

Dengan setengah berlari, Junkyu berusaha secepat mungkin untuk sampai ke toilet. Perutnya mulai terasa tidak enak. Ia mual! Setelah sampai di bilik kamar mandi, Junkyu langsung memuntahkan isi perutnya begitu saja. Matanya memerah, mulai berkaca-kaca. Kepalanya pun merasa pusing bukan main.

Sejenak kemudian ia menyadari, mungkin ini efek dari kehamilannya yang sudah menginjak usia dua bulan. Belakangan ini memang kondisi badannya sering tidak stabil. Ditambah lagi ia baru saja melewati perjalanan panjang. Junkyu hanya butuh istirahat.

Sementara itu, kembali ke ruang tamu, Jeongwoo sekilas melihat ke arah adiknya yang kini sedang memancarkan raut gelisah dengan rona kekhawatiran di dalam manik coklatnya. Tentu saja hal ini sangat langka terjadi selama mereka hidup bersama.

Di matanya, Junghwan itu terlalu misterius! Tidak banyak yang Jeongwoo ketahui tentang adik laki-lakinya tersebut. Selain pendiam, Junghwan juga susah ditebak, menurutnya.

Tapi kali ini jelas tampak berbeda. Berbekal pengalamannya mengencani banyak gadis, Jeongwoo bisa melihat perbedaan bagaimana cara Junghwan menatap orang yang katanya akan menjadi penyewa apartemennya ini tadi.

Jeongwoo menguap menahan kantuk. "Di mana kau mendapatkan kekasih tomboi seperti itu, Junghwan-ie?"

Junghwan kembali menolehkan arah pandangnya ke pemuda yang ia yakini baru saja merampungkan kegiatan malam-nya itu. "Aneh," cibirnya kemudian.

"Hei, apa maksudmu?"

Pemuda berparas tampan itu menghela napas berat. Mengerlingkan bola matanya sesaat sebelum menjawab pertanyaan sang kakak yang menurutnya tidak berdasar sama sekali. "Pertama, dia bukan kekasihku. Kedua, bagaimana bisa seorang lelaki kau sebut tomboi?"

Joengwoo membalalakkan kedua mata lantaran terkejut. "ORANG ITU LAKI-LAKI?!" teriaknya tidak habis pikir.

"Makanya punya mata jangan cuma digunakan untuk melihat wanita seksi saja!" sarkas Junghwan yang hanya dibalas Jeongwoo dengan kekehan.

Tak lama kemudian Junkyu kembali. Dengan sorot mata yang tak berani menatap lurus ke depan, kakinya berjalan perlahan menuju ruang tamu menghampiri sepasang kakak-beradik itu lagi dan mendaratkan bokongnya ke tempat semula di mana ia duduk sebelumnya.

"Apa kau baik-baik saja? Mukamu terlihat pucat," tanya si bungsu Park dengan nada yang terdengar jelas sedang mengkhawatirkan pria asing yang ditolongnya sore tadi itu.

Sedangkan sosok yang dikhawatirkan hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecut.

"Wah, sulit dipercayai dengan paras secantik rupamu ternyata kau seorang laki-laki," ulas Jeongwoo sekaligus menjadi kalimat pertama yang Junkyu dengar dari laki-laki berpenampilan cukup berantakan ini.

Lelaki berkulit tan itu beranjak dari tidurnya dan tanpa aba-aba langsung memposisikan dirinya tepat di depan Junkyu. Ia berlutut! Jemarinya yang besar dengan tidak tahu malu mengabsen struktur muka lelaki manis di hadapannya tersebut.

Mulai dari menyapu lembut pipi gambilnya, mengusap pelan bibir ranumnya, hingga mencubit gemas hidung bangirnya. Sebuah mahakarya Tuhan yang sempurna!

Pandangan mata mereka bertemu. Membuat keduanya mematung cukup lama, saling terkesima dengan pesona masing-masing.


"Apa-apaan ka-"


Kalimat Junghwan terpotong. Tak kalah cepat dari pertanyaan bodoh yang Jeongwoo kembali lontarkan, "di mana sekolahmu? Apa kamu berasal dari SMP elit seberang sekolahku itu? Tampangmu menunjukkan kau anak dari keluarga konglomerat."

Junkyu sudah menahan diri untuk tidak menangis sedari tadi. Ia takut! Ayolah, Junkyu merupakan salah satu korban kekerasan seksual. Wajar saja jika ia memiliki trauma terhadap laki-laki asing, bukan? Dan, yah, dengan seenak hidung belangnya, laki-laki pemain wanita itu menjamah wajah Junkyu.

Tapi tidak bisa dipungkiri, manik serigala lelaki yang belum ia ketahui siapa namanya itu sukses menghipnotisnya!

Tangan Junkyu yang mungil berusaha menyingkirkan jari-jari Jeongwoo dengan cara menepis lengannya kasar. "A-aku sudah lulus SMA!" ketus lelaki berponi itu berusaha menunjukkan kebenaran dari eksistensi dirinya.

Setelah sepersekian detik hening karena atmosfer ruangan yang mendadak menjadi canggung karena kalimat pengakuan Junkyu, kini dipenuhi dengan gelak-tawa dari si sulung Park itu. Jeongwoo tidak percaya dengan apa yang lelaki cantik ini katakan.

"Wah! Sungguh mengagumkan! Tadi aku tertipu dengan jenis kelaminmu, sekarang kau berhasil mengelabuhiku lagi tentang berapa usiamu?"

Junghwan yang sedari tadi hanya diam menyaksikan polah tingkah laku kakaknya itu kini mulai mengambil peran. Ia harus segera menyudahi aksi konyol Jeongwoo yang benar-benar membuang waktu. Padahal niatnya mengundang sang playboy sekolah itu hanya untuk meminta persetujuan akan rencananya.

Ya, ia berencana untuk membiarkan pria bertopi baret hitam yang sudah ia ketahui bernama Junkyu itu untuk tinggal di apartemennya. Ah, lebih tepatnya orang tua Junghwan dan Jeongwoo lah yang menyiapkan unit ini untuk keduanya, dengan alasan jaraknya yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Jadi, apabila sewaktu-waktu mereka kelelahan karena aktivitas sekolah yang padat, mereka bisa mampir sebentar atau bahkan menginap.

Tuan dan Nyonya Park tidak terlalu melarang ini dan itu. Mereka orang tua yang cukup terbuka dan cenderung membebaskan kedua putranya. Jeongwoo dan Junghwan sudah bisa membedakan mana yang benar dan juga mana yang salah, pikirnya. Toh, mereka berdua sudah mulai beranjak dewasa.


"Sudahlah, ayo pulang!"


"Junkyu-ssi, tolong maafkan pria abnormal ini."


Meskipun ia berperan sebagai adik, bukan berarti tubuhnya lebih kecil dari sang kakak. Junghwan memiliki tinggi badan yang sama dengan Jeongwoo, bahkan lebih unggul dalam urusan otot dan tentu saja tenaga.

Maka bukan perkara yang sulit untuknya menyeret tubuh bongsor Jeongwoo. Seperti saat ini, Junghwan menarik paksa Jeongwoo untuk segera enyah dari apartemen yang mulai malam ini juga akan beralih status kepemilikan secara sementara ke tangan pemuda asing bernama Kim Junkyu.

"Beristirahatlah. Jangan pikirkan apa pun, termasuk tentang apartemen ini," titah Junghwan yang akan segera mencapai pintu.

"Anggap saja rumah sendiri, Hyung-nim!" teriak Jeongwoo seraya memamerkan deretan giginya.

Setelah itu, keduanya benar-benar menghilang dari penglihatannya.

Dan, yah, lagi dan lagi Junkyu mendapatkan pertolongan, bahkan masih dari tangan orang yang sama. Kini Junkyu menarik semua pikiran buruknya terhadap Kota ini yang ternyata masih menyiratkan secercah harapan untuknya melangsungkan hidup.

Junkyu berdoa, apabila sudah tak ada lagi keberuntungan untuknya, tolong berilah setidaknya secuil untuk janin yang sedang dirinya kandung. Ia layak untuk dilahirkan dan hidup bahagia.

EXILE (JeongKyuHwan vers.)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang