"Kehidupan Ercha kembali normal." Ucap Erga. Khyo mengangguk. "Tentu saja."
Aku menatap takjub penjuru Ibukota Ercha, Xierra. "Aku tak sabar belajar." Ucap Yura menggelayut manja di lengan Khyo.
Khyo berubah manis setelah bertemu dengan Yura. Ia begitu menyayangi gadis kecilnya itu, sama seperti Seza padaku. Hanya saja, Seza dingin dan tak ingin di gelayuti macam itu.
"Sssttt..." Novan berdesis tepat disamping telingaku membuatku sedikit terkejut. "Novan!?" ucapku.
"Kita akan di karantina." Ucapnya tersenyum. "Be-benarkah?" tanyaku terkejut. "...Itu akan makan waktu yang panjang. Kita takkan sering bertemu." Bisiknya.
Aku hanya diam. Tidak bertemu? "Tak masalah..." ucapku tersenyum. "Kau suka jika kita berpisah?" celetuknya.
Aku mengangguk. "Aku akan punya pacar seorang petarung marga. Itu menyenangkan." Ucapku tersenyum.
Novan mengerucutkan bibirnya, "Kalau begitu aku mau ikut kelas memasak saja." Ucapnya datar, mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
"Kenapa??" tanyaku. "Kau akan punya pacar seorang juru masak. Itu memalukan." Aku sontak tertawa dan memukul lengan Novan.
"Bodoh!?" teriakku. "Kau juga, Bodoh." Ucapnya berjalan mendahuluiku menyusul Mecha yang ada didepan.
Aku hanya tertawa. Hampir satu jam berjalan, kami tiba di gerbang masuk utama kerajaan.
Puluhan prajurit menyambut kami. Para dayang menundukkan pandangannya hormat.
"Selamat datang di kerajaan Ercha..." ucap salah satu patih. Kami bertujuh menundukkan badan menyapa mereka.
"Mereka pilihan penjaga." Ucap Cyzo. Kelima patih tersenyum. "Yang Mulia raja dahulu pernah membicarakannya. Mari anak-anak, para dayang akan mengantar kalian ke kamar." Ucap patih berpakaian aneh itu tersenyum.
"Terimakasih." Ucapku pada prajurit yang membawakan tasku.
***
"Ini kamarmu, Nara." Ucap Seza membuka pintu kamar berwarna biru langit disana. Mataku menjelajah kamar itu.
Suasana damai dengan biru langit membuatku takjub melihatnya. "Bagus sekali Seza." Ucapku. Seza hanya mengacak poniku.
"Segera ganti pakaian, bersih-bersih... Aku menunggumu di ruang makan." Ucap Seza.
"Baik." Ucapku mengangguk. Tubuh jakung Seza berbalik dan mulai menjauh hingga pandanganku tak lagi menangkap bayangnya.
Aku memasuki ruang kamar itu. "Cantik..." ucapku melihat beberapa kristal sengaja di gantung di langit-langit, nampak berkilauan.
Aku mendekat kearah jendela. Kamarku ada dilantai 4. Jadi nampak tinggi jika aku masuk ke kawasan balkon raksasa berukuran 10 x 10 meter itu.
Tak lama mataku menangkap bayangan seekor burung hantu putih.
"Cantik sekali burung itu..." ucapku mendekat berharap dapat melihatnya lebih jelas.
Tapi tak kusangka, burung hantu itu mendekat kearahku. Ia terbang dengan anggunnya bertengger di pagar balkon.
"Kau cantik sekali..." ucapku mengelus kepalanya. "Kau juga jinak. Apa kau punya majikan?" tanyaku menatap burung hantu kecil itu.
Seakan mengerti apa yang tengah kubicarakan, burung itu menunjukkan gulungan kertas dibawah sayapnya.
"Ada suratnya?" tanyaku mengambil gulungan kertas itu. "Aku ingin bersamamu..." aku sedikit tersentuh.
Di pojok bawah kertas, tertera nama imut burung hantu kecil ini. "Namamu Irza? Namamu bahkan secantik rupamu." Ucapku tersenyum takjub.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wind of Ercha
FantasyHai, namaku Nara. Aku seorang gadis berusia 16 tahun. Otomatis kalian akan tahu jika aku masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Aku bukan gadis biasa. Aku memiliki Marga Element yang bernama Wind. Yang paling kuat, paling sulit dikendalikan dan yang p...
