Aku masih lalu lalang kebingungan dikamar. "Bagaimana ini!? Sudah gerhana!?" Panikku. Dari sana, aku melihat perang sudah mulai.
Tapi dimana Seza dan yang lain? Apa mereka juga disana?
"Kau masih disini?" tanya Suga mendadak muncul di dekat ranjangku. "Suga!?" teriakku.
"Ayo masuk kedalam tubuhmu." Ucap Suga. "Aku merasa ada yang kurang. Aku harus mencari bola penjagamu..." Ucapku.
"Kau masih mau mencarinya?" tanya Suga. "Aku yang terakhir kan!?" Suga menepuk dahinya.
"Dasar bodoh!? Kau harus cepat masuk lewat permata ini!? Segera selesaikan perang itu!?" teriak Suga.
"Tapi bagaimana penjagamu?" tanyaku mendekat. "Kau bisa mencarinya nanti. Ayo masuk..." ucap Suga. Aku ragu-ragu menyentuh permata itu.
Slurrrppp...!? "Aaaahhh!" teriakku langsung tersentak. "Apa yang..." Aku baru menyadari jika aku sudah kembali masuk ke tubuhku.
"Aku kembali!?" Pekikku. Aku melompat girang lalu berhenti saat aku mendengar suara ledakan.
"Pertarungan itu!?"
***
Novan POV
Tanganku sungguh kotor!? Aku membunuh banyak orang bawahan Iva. "Awas!?" teriak Yuko.
Aku menghindar dari serangan 2 prajurit dan menyembur mereka dengan apiku.
"Terimakasih." Ucapku. Tak lama, aku mendapati sosok yang kucari. Iva.
"Kau lagi anak kecil?" tanyanya, "Kau!?" geramku.
"Kemana gadis kecil itu? Aku merindukannya." Ucap Iva mulai membuatku geram.
"Kau takkan mendapatkannya!?" teriakku melempar serangan. Iva menepisnya dengan mudah.
"Hanya itu?" Iva mulai melucutiku dengan petir gilanya. "Kau belum lihat yang sesungguhnya!?" teriakku.
Iva berkelok menghindar dengan mudah. "Jangan fikir kau mudah menghadapiku. Aku akan membunuhmu sekarang juga jika aku mau."
"Aku takkan memaafkanmu Iva!? Kyaaa!!?" teriakku berlari menghampirinya.
Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan seranganku menerkam wanita tua itu. Tapi Iva tak mudah goyah.
Sungguh tak semudah yang kupikirkan, bahkan aku beberapa kali terpental. Dadaku sejenak terasa sakit.
"Kau pikir mudah!? Tidak semudah itu? Dasar anak lemah!?" sebuah sinar merah memancar di depan mataku.
"Novan!? Bangkit!? Lawan dia lagi!!?" teriak Mey tak jauh dariku.
Yura melempar kristalnya dan melompat kearah Iva dan jraakkk... Semburan darah keluar dari wajah wanita itu karena serangan Yura.
"Hahh!? Anak sialan kau!? Weap Thunder!?" Sekejap seekor elang hitam raksasa muncul dihadapan kami.
"Hahh... Elang itu..." ucapan Mey terhenti seketika saat Elang itu muncul. Aku langsung melompat kearah elang itu, berniat menyerangnya.
"Novan! Jangan!" Crasshhh... Tubuhku terpental terkena sayatan sayap elang itu.
"Wuahhh!! Mimpi buruk apa ini!!?" teriak Dio mulai panik. Aku pun memilih bangkit dan berlari kearah Iva.
Yura dan Aira makin terkapar lelah melawan satu elang itu.
Tak tau apa yang terjadi, Elang itu kembali menyerangku dan membuatku terlempar cukup jauh. "Argh..!! Sial...!?" teriakku.
"Novan menunduk!? Menunduk!" Teriak Nara yang tiba-tiba muncul dari belakangku. Tembakan angin seperti panah melenyapkan elang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wind of Ercha
FantasyHai, namaku Nara. Aku seorang gadis berusia 16 tahun. Otomatis kalian akan tahu jika aku masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Aku bukan gadis biasa. Aku memiliki Marga Element yang bernama Wind. Yang paling kuat, paling sulit dikendalikan dan yang p...
